Dulu, sebelum jadi ibu yang sekaligus seorang pekerja, saya belum ngerti gimana itu dilemanya seorang ibu bekerja. Jadi, di tengah hamil tua, malah saya semangat cari kerja, dan alhamdulillah dapat. Karena tempat kerja saya sekota dengan orangtua, maka yang saya pikirkan anak saya nanti bisa saya titipkan ke ibu saya, kebetulan juga ibu saya sangat ingin punya cucu. Ternyata suratan takdir berkata lain, Allah memanggil ibu saya begitu cepat. Daan kini jadilah saya seperti anak ayam kehilangan induknya.
Tapi proses terbengong bengong itu saya pikir tak perlu berlama lama. Saya sendiri harus mulai kuat untuk menata kembali hidup saya, sekaligus menghibur hati bapak yang pasti juga merasa kehilangan.
Jadi, lengkaplah sudah tahun 2011 ini jadi tahun yang complicated buat saya. Di satu sisi saya baru saja melahirkan, baru pengalaman pertama punya anak, saya jadi karyawan baru dengan budaya organisasi yang baru bagi saya, daaan saya kehilangan orang tua. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya? Senang, bingung, cemas, sedih, semua campur aduk jadi satu!
Dulu saya pikir jadi dosen itu fleksibel waktunya, santai dan banyak libur. Ternyata? Sama saja deh kerja dimana saja
Jelas kalau ingin mengembangkan potensi diri dan menunjukkan kinerja yang optimal *bahasanyaaaa* yah kita juga harus profesional mempergunakan waktu. Terlebih, tidak semua orang di kantor mungkin paham dengan kondisi kita yang baru melahirkan, punya bayi atau kerepotan ala ibu ibu lainnya. Atasan dan rekan kerja di kantor pasti menginginkan kita bekerja optimal di kantor. Sementara di rumah, suami dan anak anak juga harus mendapatkan perhatian yang terbaik dari ibu.
Jadi bagaimana strateginya supaya ada work family balance?
- Gunakan waktu untuk kegiatan yang berkualitas, gimana maksudnya? Diantara waktu yang 24 jam dan harus dibagi bagi itu, manfaatkan secara optimal. Jika sedang di kantor kerjakanlah pekerjaan seefisien dan seefektif mungkin, sehingga sebisa mungkin tidak membawa pekerjaan ke rumah *naaah ini masih jadi hal yang sulit buat saya*. Di rumah luangkan waktu dengan anak dan suami dengan kegiatan yang berkualitas, contohnya ngobrol dan diskusi tentang kegiatan sehari hari, memandikan anak, menyuapi anak, dan menyusui anak buat ibu ibu yang punya anak bayi. Nah supaya berkualitas, tentunya saat memandikan, menyuapi, menyusui, tanamkan nilai nilai budi pekerti kepada anak. Meski masih bayi mereka insyaAllah juga akan mengerti.
- Jalin komunikasi yang hangat antar anggota keluarga, beritahukan kemana akan pergi hari ini kepada anggota keluarga, sehingga kalau ada sesuatu mudah untuk dihubungi, beruntunglah sekarang sudah ada telepon genggam yang gampang dibawa kemana mana.
- Perhatikan kebutuhan anggota keluarga, untuk ibu ibu yang anaknya masih bayi kaya saya, siapkan selalu ASI perah dan pastikan jumlahnya mencukupi sebagai persediaan selama kita bekerja. Untuk bayi yang sudah mulai makan, ibu dapat menyiapkan makanan di pagi hari atau membekukannya dan menyimpan di freezer. Sebagai istri yang baik, ibu juga bisa meluangkan waktu di akhir minggu untuk memasak makanan kesukaan suami.
- Jaga kesehatan dan stamina, karena kegiatan yang padat, ga jarang ibu ibu jadi lupa makan dan makan seadanya, alhasil jadi mudah sakit. Padahal kalau udah sakit justru repotnya bertambah. Nah mari jaga kesehatan
Untuk menghemat energi, ga ada salahnya ada orang yang dipercaya untuk membantu meringankan pekerjaan sehari hari dan membantu mengasuh anak selama kita bekerja.
Demikianlah ibu ibu yang hebat, sedikit curhatos dari saya. Semoga bermanfaat







Mulai hari ini sampai 30 hari ke depan saya akan mencoba menerima tantangan “30 Hari Nulis Asyiek” by 


DISTANCE LOVE begitu judulnya. Wah kayanya “gue” banget nih, begitulah pikiran yang terlintas di benak saya ketika membaca sedikit resensinya di sebuah blog, tadi malam saya mencarinya ke Toko Buku Diskon Toga Mas karena diburu rasa penasaran yang menggebu gebu, hehehe *lebay ah*
