Apakah ini Flu Singapura?

02042014950

Beberapa minggu lalu, saya dan Fia bergantian sakit. Awalnya Fia yang duluan terlihat gejalanya, gak seperti biasanya dia jadi sering gak mau pakai baju, jadi di rumah cuma pakai kaos dalam saja, tapi dia tetep ceria dan lari-lari keliling rumah. Beberapa hari juga dia jadi gak mau mandi, tapi karena saya gak paham saya tetap paksakan dia untuk mandi, yah efeknya dia jadi nangis-nangis. Meski begitu dia tetap ceria, dan tetap lahap makannya.

Suatu pagi seperti biasanya ketika ada odong-odong lewat depan rumah dia berlari untuk mengejar dan menaikinya. Saya lihat waktu dia naik odong-odong kok di badannya ada bintil-bintil merah, tapi saya pikir itu hanya gatal, sehingga solusinya hanya saya balurkan bedak (talc). Sore hari sepulang saya dari kampus, saya dapat laporan dari mbak bahwa bintil-bintil merah di tubuh Fia jadi bertambah. Badannya cenderung hangat, tapi tidak panas, saya ukur dengan termometer juga masih termasuk kategori normal tapi memang di ambang atas. Namun saya gak mau ambil banyak resiko, malam itu juga saya bawa Fia ke DSA yang paling dekat dengan rumah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Saya sudah menduga-duga, kenapa yaa… apa cacar air? padahal dulu udah pernah.. apa campak? wah ngeri banget… atau alergi? alergi apa yaaa… Kebetulan ruang tunggu praktek DSA sangat penuh, rupanya cuaca pancaroba membuat anak-anak banyak yang sakit.

Akhirnya giliran kami dipanggil juga, Fia awalnya senang mau ketemu dokter, tapi begitu masuk ke ruangan, dia menangis meronta sampai jilbab saya ditarik-tarik. Setelah memeriksa dokter mengatakan kalau Fia kena virus. Ha? virus? virus apa ya? lalu saya tanya, apakah itu campak? bukan katanya. Apa itu herpes? mirip katanya.. Oke baiklah memang virus di dunia ini banyak sekali yaa.. dokter meresepkan obat dan meminta tetap memberikan obat turun panas bila badannya panas. Saya tetap diminta untuk mengobservasi, bila besok tidak ada perkembangan (berkurang bintilnya) maka sebaiknya saya datang kembali.

Nah, meminumkan obat ke Fia juga jadi tantangan tersendiri, karena dia susaaaaah banget kalo disuruh minum obat. Tapi untungnya Fia tetap ceria, hanya kalau malam tidurnya agak gelisah dan minta dielus elus. Esok harinya kulihat Fia tetap ceria seperti biasa, badannya juga tidak panas, namun bintil merahnya memang belum berkurang. Kalau dilihat, bintil-bintilnya hanya ada di seputar telapak kaki, lutut, siku tangan, telapak tangan, punggung tangan, dan sedikit di sekitar mulut. Melihat tanda-tandanya yang demikian, aku coba browsing di internet, dan aku baca bahwa itu adalah tanda-tanda flu singapura.

Wah kok nyentrik namanya flu singapura ya, ternyata karena wabah itu ditemukan awalnya di singapura. Tapi yang cukup membuatku lega, penyakit itu merupakan kategori penyakit yang self limiting dissease, artinya bisa sembuh sendiri dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Penyakit itu banyak ditemukan pada anak-anak… Alhamdulillah pada hari berikutnya bintil bintil mulai mengering dan berkurang, Fia berangsur angsur makin membaik.

Beberapa hari berikutnya justru giliran saya yang didera demam tinggi, rasanya sungguh tak nyaman, dua hari saya menghabiskan banyak waktu dg tiduran di tempat tidur,badan “nggreges” gak karuan, tenggorokan sakit sekali rasanya. Saya minum obat bebas yang biasa saya konsumsi jika flu, tidak berefek apapun. Sampai pada hari ketiga mulai muncul bintil bintil merah seperti yang muncul di tubuh Fia, waaaah ternyata saya ketularan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s