Work-Family Balance

Kemarin saya dapat kesempatan memandu ngobrol via whatsapp di sebuah grup yg saya ikuti, temanya tentang Work Family Balance (WFB). Nah saya akan coba tulis ulang disini ya.

Saya sendiri yang memilih tema ini karena kebetulan sedang saya pelajari dan saya usahakan akhir-akhir ini. Hayoo siapa yg pernah atau sdg mengalami sulitnya menyeimbangkan keduanya? Mungkin ibu-ibu yg lebih banyak tunjuk jari yaaaa….

Kerja dan keluarga merupakan dua hal yang kita jalani dalam kehidupan kita sebagai manusia dewasa. Keduanya menempatkan kita pada peran yang berbeda, dan peran itu membawa konsekuensi dan kepentingan tertentu yang tak jarang saling bercampur aduk. Tidak jarang, kedua peran tersebut saling merebut perhatian kita sehingga sulit bagi kita untuk mencapai apa yg namanya keseimbangan diantara keduanya, bahkan seringkali yg muncul berupa konflik (work-family conflict). Kalau sdh demikian tentu saja dampaknya lebih condong ke arah negatif, seperti munculnya stres, ketidakpuasan kepada pekerjaan, ketidakpuasan kepada keluarga, kelelahan, kondisi kesehatan yang menurun, kesejahteraan psikologis yang menurun, dsb.

Nah ternyata kepuasan/ketidakpuasan pd satu peran juga bisa mempengaruhi pada peran kita yang lain, misal kalau sedang ada masalah di rumah (masalah dg pasangan, atau karena ada anak yang sakit) , tidak jarang akan mengganggu performa kita di tempat kerja juga, misal jadi telat, atau bolos atau gak achieve target, kurang konsen dg kerjaan dll. Demikian pula sebaliknya, kalau pas ada masalah di tempat kerja, kadang di rumah pasangan kita juga kena imbasnya krn kita uring-uringan, atau kita jadi kurang sabar dengan permintaan anak dll. Jadi menjadikan balance adl pilihannya…

Istilah WFB tak jarang juga dipertukarkan dengan WLB (work life balance), namun demikian istilah life tentunya memuat makna yg lebih luas, tidak hanya tentang family (keluarga), namun juga terkait hobi, kesehatan, kesenangan dll. Kalau rekan2 punya segudang aktivitas sosial, mungkin ga cuma punya peran di keluarga & pekerjaan ya, tapi bisa juga di kegiatan sosial lainnya, tapi kali ini saya akan fokus ke WFB dulu ya…

Ranah pekerjaan dan keluarga adalah dua ranah dengan aturan, pola pikir dan perilaku yang berbeda. Dikatakan seimbang ketika WAKTU kita seimbang di kedua peran, KETERLIBATAN secara psikologis di dlm kedua peran seimbang, dan kita merasakan KEPUASAN di kedua peran tsb. Pd dasarnya WFB bisa tercapai saat kita bs mengatur jadwal, membuat prioritas dan mendapat dukungan dr lingkungan, dan kalau hal tsb tercapai pastinya aka nada efek positif baik ke pekerjaan atau ke keluarga kita.

Ada 2 faktor yg membuat WFB muncul yaitu faktor internal dari dalam diri spt komitmen (di kedua peran), pemahaman peran, dan karakter individu, serta faktor eksternal spt dukungan dr lingk sosial, adanya anak, otonomi kerja, jumlah jam kerja.

Hwaa lha praktiknya gimana?? Untuk menyeimbangkan urusan pekerjaan dan keluarga, mungkin beberapa hal ini perlu diperhatikan..

  • Apakah sudah menentukan nilai utama bagi kita & keluarga? (nilai utama maksudnya value/prinsip/standar/kualitas/identitas yg diinginkan dlm kehidupan sehari2 sbg pedoman dlm bertingkah laku seluruh anggota keluarga).
  • Cari tahu value yg membuat kita bs berkonflik dg diri sendiri dan buat prioritas, misal: tmn2 yakin kalau sampai lebih awal di tmpt kerja adl penting, dan dapur bersih sebelum brkt kerja juga penting. Mana yg akan dipilih kira2? Karena konflik spt ini kdgkala bs memicu stres, dan menghabiskan energi, dan membuat kita merasa tidak puas di kedua peran
  • Tentukan tujuan à adanya tujuan akan menggerakkan kita memilih prioritas.

Beberapa hal praktis yg bisa dicoba…

  • Kurangi perasaan bersalah, kadang krn tdk bs memaksimalkan waktu utk keluarga kita jd merasa buruk, di lain sisi kita jg butuh bekerja, jd jangan menyalahkan diri sendiri ketika ada yg tdk sempurna
  • Kalau di tempat kerja kerjaan dan target padat merayap, jgn lupa tetap jaga komunikasi dg keluarga, luangkan wktu dg buat kegiatan yg menyenangkan bersama keluarga
  • Buat update kegiatan keluarga dan pekerjaan, nyalakan reminder agar kegiatan2 tidak terlewat, reminder tdk hny mslh kerjaan aja tp jg kegiatan keluarga, atau malah jg kegiatan sosial
  • Pastikan ada pendukung yg suportif, shg bs berbagi tugas… kalau di kantor pny atasan yg suportif pasti asik bgt ya, aplg kalau tmpt kerja kita pny budaya dan aturan yg mendukung WFB.. nah di keluarga, pasangan yg suportif akan sgt membantu semuanya bs seimbang
  • Memulai hari dg indah dg mempersiapkan sgla keperluan dr malam sebelumnya
  • Mampu mengelola stres, ini penting supaya ga ada yg jd pelampiasan ya… cara sederhananya dimulai dg pny jadwal yg baik, melakukan relaksasi, tdk menyimpan masalah sendiri & berbagi dg org2 yg dipercaya
  • Menjaga kesehatan, krn kesehatan adl kunci dr keseimbangan di kedua peran itu, kalau kita kelelahan atu krg sehat maka bs sj itu membuat kt mlkkn kslhn
  • Menggunakan waktu dg bijak dan mencoba “here and now”, saat sdg menjalankan peran di rumah dg menemani anak2 hindari mengerjakan pekerjaan lain… saat hrs kerja hindari mengerjakan hal2 yg krg penting.
  • Melibatkan Yang Kuasa untuk menguatkan diri kita bahwa akan ada yg menjaga kita dan keluarga kita…

Nah demikian sedikit obrolan tentang work-family balance…

Advertisements

Rasanya Seperti Mimpi

Awal bulan April lalu, saya mendapat sebuah kejutan manis yang membuat perasaan saya bergejolak. Ada rasa senang, bingung, antara percaya nggak percaya, tapi saya yakin ini adalah jawaban dari doa-doa saya. Seringkali saya berdoa kepada Nya untuk diberikan rezeki yang melimpah, mungkin itu adalah rezeki yang dimaksud. Ya, Saya Positif Hamil Anak Kedua!

Yang paling bergembira dari berita ini adalah Fia, anak pertama saya. Dia beberapa bulan terakhir mengatakan kalau ingin sekali punya adik. Permainannya sehari hari juga selalu menyebut tentang adik. Melihat anak tetangga yang masih bayi, dia menjadi sangat gemas. Dan puncaknya, dia selalu mengatakan pada saya kalau “perut Ibu gendut, di dalamnya ada adiknya”

Saya hanya senyum-senyum saja kalau Fia bilang begitu, saya juga tidak berpikir apapun ketika suatu hari sepulang menunggui mahasiswa praktikum, saya dengan kalapnya beli rujak di dekat kampus, dan menghabiskan rujak itu sendirian! *ini doyan apa ngidam?*

Sampai suatu hari saya akhirnya memutuskan membeli test pack, karena tamu bulanan tak kunjung datang. Ternyata garis merahnya ada dua! WOW! Berarti saya memang benar-benar hamil. Untuk memastikannya, dua hari kemudian saya pergi ke dokter kandungan yang paling dekat dengan rumah, dr. Kartika Peranawengrum, SPOG. Setelah dilakukan USG ternyata saya dinyatakan hamil 5 minggu, letak kehamilannya di tempat yang tepat, namun baru kantongnya saja yang terlihat. Dokter meresepkan vitamin dan asam folat untuk saya, dan meminta saya datang kembali 3 minggu lagi.

Waktu hamil pertama dulu, sewaktu pemeriksaan pertama saya juga mengalami hal yang sama, baru terlihat kantong kehamilannya. Jadi saya tidak risau akan hal tersebut. Saya mulai bercerita kepada Fia, suami juga eyangnya Fia kalau Fia insyaAllah mau punya adik. Fia sangat senang sekali, dia bercerita kepada semua orang, guru-guru di playgroup dan juga ibu-ibu tetangga.

Alhamdulillah kondisi saya sehat dan baik-baik saja, tidak merasa mual ataupun muntah. Aktivitas tengah semester sedang padat-padatnya dan bisa saya jalani dengan baik. Sampai suatu pagi di hari Rabu tanggal 22 April 2015, saya terbangun dan merasa kalau saya mengeluarkan cairan seperti mengompol. Saya ke kamar mandi dan saya lihat ternyata cairan itu berwarna merah, ya seperti darah.

Saya tertegun dan mulai deg-degan, saya ini kenapa ya, saya hamil kok malah seperti menstruasi begini. Saya coba ingat kembali memori saya saat hamil Fia dulu, pernah saya flek keluar darah tapi tidak sebanyak ini, sedikit. Dengan perasaan galau saya mencoba BBM ke Lina, sahabat saya yang berprofesi sebagai seorang dokter, dan menceritakan apa yang saya alami. Dia menyarankan untuk segera periksa ke SPOG dan jangan menunda. Saya juga BBM ke kakak sepupu saya, sarannya sama. Akhirnya pagi itu saya mencoba mencari jadwal praktek dokter kandungan yang buka paling pagi. Sementara Fia tiba-tiba menjadi sangat rewel dan tidak mau berangkat ke playgroup. Oh ya, suami saya waktu itu sedang di Bandung.

Dari beberapa penelusuran, praktek dokter kandungan terpagi di hari itu adalah jam 8 pagi, saya menelfon ke 3 Rumah Sakit dan mendapati dokter yang ada di RS. Hermina Pandanaran. Disana saya menunggu antrian untuk bisa diperiksa dr. Widi Fatmawati, SPOG. Sebelum mengantri, saya diukur berat badan dan tekanan darah oleh perawat. Perawat menanyakan keluhan apa yang saya rasakan, setelah saya ceritakan, perawat itu menyampaikan “bu, kalau pendarahannya semakin banyak, ibu kesini ya bu, soalnya dr. Widi sedang membantu persalinan”. 

Saya menunggu dengan perasaan yang galau luar biasa, apa sebenarnya yang terjadi pada saya… Saya belum sampaikan kepada teman-teman di kampus tentang hal yang saya alami, saya cuma bilang kalau kurang enak badan dan sedang periksa ke dokter. Janji bimbingan dengan mahasiswa juga saya batalkan. Padahal hari itu saya dan 4 orang teman saya di kampus mengadakan tasyakuran kecil-kecilan karena saya dan teman-teman baru saja menerima Sertifikat Pendidik (Sertifikasi Dosen).

Masuk ke ruang praktek dr. Widi, beliau menyambut dengan ramah, dokternya masih muda, cantik dan fresh. Saya menceritakan apa yang terjadi pada diri saya pagi hari itu, ekspresi wajah dokternya berubah. Lalu dokter melakukan USG, ya ini Ibu hamil, tetapi saya harus melakukan USG transvaginal bu. Ouch… ngebayangin harus di USG transvaginal membuat saya grogi, sampai saya minta izin untuk ke kamar mandi dulu untuk pipis. Saya bayangkan prosesnya akan sakit, tapi ternyata tidak. Waktu itu darah masih keluar cukup banyak.

Dokter memastikan kembali kapan menstruasi terakhir saya, kemudian menanyakan hasil USG ketika saya pertama kali memeriksakan kandungan sebelumnya. Dengan hati-hati dokter menyampaikan kalau kehamilan saya, janinnya tidak berkembang. Ukuran dari 2 minggu lalu dengan saat saya periksa cenderung sama. Perdarahan yang terjadi pada saya juga mengindikasikan Missed Abortion. Sehingga harus dilakukan tindakan kuret. Jika terlalu lama bisa mengakibatkan infeksi.

Saya mencoba menerima penjelasan dokter dengan logika, dan sesedikit mungkin melibatkan perasaan. Saya bertanya tentang teknis kuret dan apa yang harus saya lakukan. Dokter tidak memaksa untuk dilakukan saat itu juga, namun dokter membekali dengan surat rujukan untuk dilakukan tindakan kuret. Siang itu, saya akhirnya tetap ke kampus, saya ceritakan kondisi saya kepada beberapa teman. Saya bahkan sempat mengajar juga. Dari diskusi dengan teman dan saudara, saya disarankan untuk mencari second opinion.

Malamnya, saya ajak Fia untuk pergi ke dokter kandungan lagi. Kali ini saya mengunjungi dr. Kartika SPOG kembali, asumsi saya, beliau yang pertama kali memeriksa saya, sehingga ada record untuk ukuran kehamilan saya. Saya ceritakan kepada dokter apa yang terjadi, dokter juga melakukan USG pada saya, dan membandingkan dengan USG terdahulu yang tersimpan di computer. Fia melihat dengan seksama, dan ikut menyimak penjelaskan dokter dengan serius. Dokter menyampaikan bahwa hanya ada kantong di kehamilan saya, indikasinya adalah Blighted Ovum. Dan sarannya juga sama, yaitu kuret.

Saya masih ingin menunggu suami saya datang ke Semarang, tapi keesokan harinya perut saya mulai terasa sakit dan mulas mulas. Perdarahan juga semakin banyak. Akhirnya siang hari saya ke RS Hermina Banyumanik untuk melakukan observasi. Saat diperiksa bidan disana, katanya sudah ada pembukaan jalan lahir. Saya mulai diminta untuk berpuasa hingga 6 jam ke depan. dr. Widi akan datang kurang lebih pukul 17.30.

Prosedur pra operasi *saya baru tau kalo proses kuret itu harus dilakukan di ruang operasi dan akan dibius total* mengharuskan saya berpuasa dan menjalani serangkaian tes, dari tes darah hingga tes alergi. Di ruang operasi, dokter anastesi menanyakan nama panggilan saya dan mulai menyuntikkan sesuatu di infus saya. Dan perlahan namun pasti kesadaran saya hilang, saya tidur dan tidak merasakan apapun sampai nama saya dipanggil kembali. Ternyata saat itu saya sudah ada di ruang pemulihan. Alhamdulillah semua berjalan lancar, jam 22.00 saya bisa kembali ke rumah.

Rasanya benar-benar seperti mimpi, kejutan-kejutan datang silih berganti dalam hidupku.

Nulis Buku Keroyokan

Beberapa tahun lalu, sebagai seorang Ibu baru, saya seringkali bertanya kepada teman-teman saya tentang hal-hal seputar perawatan bayi dan kegiatan menyusui. Setelah anak saya beranjak lebih besar, ternyata saya juga sering mendapat pertanyaan dari teman-teman atau adik kelas saya. Akhirnya saya dan teman saya membuat grup di salah satu media sosial. Grup nya kami beri nama Psikogama Motherhood, kenapa namanya seperti itu? yah simpel aja sih karena kami adalah alumni Psikologi Universitas Gadjah Mada.

psikogama motherhood

Selain sharing tentang pengalaman, kami juga seringkali sharing tentang resep ataupun pengetahuan yang dibutuhkan oleh ibu-ibu muda. Nah, suatu hari di tahun 2014 terbersit ide untuk mencoba membukukan pengalaman menjadi ibu yang unik-unik dari masing-masing anggota. Saya mengajak teman-teman untuk membuat sebuah cerita pendek. Banyak yang menyambut dengan antusias ide ini, dalam beberapa hari ada yang langsung mengirimkan naskahnya, namun lama juga sampai akhirnya terkumpul sejumlah artikel. Agak lama artikel hanya bersemayam di laptop saya, kesibukan di kampus dan di rumah menunda naskah-naskah itu siap dicetak. Tapi akhirnya mimpi kami terwujud juga, menerbitkan buku kumpulan cerpen tentang pengalaman menjadi ibu.

Cover - Ibu (30Jan2015) rev

Ini dia cover buku kami…

Buku ini kami terbitkan secara indie melalui nulisbuku.com. Prosesnya tidak lama, namun memang butuh ketelitian dan kesabaran.

Beragam cerita dari 9 penulis dituangkan  di buku ini. Alhamdulillah project nulis buku keroyokan akhirnya terwujud. Kalau tertarik untuk membeli, bisa langsung menghubungi saya via email ikazenita@yahoo.com atau langsung klik di sini.

Sayur Kacang Merah

Beberapa hari lalu ayahnya Fia minta dibuatkan Sayur Kacang Merah, kata dia itu khas Sunda. Wah benar-benar no clue tentang sayur ini, saya belum pernah makan sebelumnya. Dari apa yang diceritakan, sayurnya diberi ceker, oke tebakan saya itu mirip sup, tapi selanjutnya dibilang pake air asem, nah mungkin sayur asem. Rekam jejak sebelumnya saya memasak kacang merah kurang berhasil karena kacang merahnya masih keras. Akhirnya ayah Fia membantu dengan membrowsing ke google, dan saya akhirnya bisa menyajikan sayur kacang merah itu. Nah ini dia penampakannya

sayur kacang merah

Ini dia bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Sayur Kacang Merah,

  • 100 gr Kacang merah, ini wajib ya…, sebaiknya direndam dulu dg air hangat supaya cepat empuk
  • 10 buah cakar ayam, bisa diganti dg daging sapi ataupun tulang/iga
  • 1 liter air
  • 3 buah bawang putih, diiris kasar
  • 8 buah bawang merah, diiris kasar
  • lengkuas kira-kira 3cm
  • 2 helai daun salam
  • 1 sdm air asam jawa
  • 1 sdt Gula Merah
  • 2 sdt Garam
  • 1 sdt Terasi
  • 1 buah Tomat, iris-iris
  • 1 batang Daun bawang(unclang), potong kasar
  • 1 buah Cabe merah, buang biji iris besar, kalau mau pedas bisa ditambah atau diganti cabe setan

Nah caranya begini :

  1. Didihkan air dan rebus ceker sampai empuk
  2. Masukkan irisan bawang, lengkuas, daun salam, rebus hingga keluar aroma bumbu
  3. Masukkan kacang, biarkan sampai kacang empuk
  4. Masukkan garam, gula merah dan air asam jawa, aduk dan tunggu hingga kacang benar-benar empuk
  5. Tambahkan terasi, daun bawang, irisan tomat dan irisan cabe
  6. Tunggu hingga mendidih dan kacang terasa empuk serta kuah memerah, cicipi pastikan bumbu telah meresap.

Senang sekali bisa memasak sayur makanan suami waktu kecil dulu.

Referensi :

http://infooresep.blogspot.com/2014/04/resep-sayur-kacang-merah.html

 

Apakah ini Flu Singapura?

02042014950

Beberapa minggu lalu, saya dan Fia bergantian sakit. Awalnya Fia yang duluan terlihat gejalanya, gak seperti biasanya dia jadi sering gak mau pakai baju, jadi di rumah cuma pakai kaos dalam saja, tapi dia tetep ceria dan lari-lari keliling rumah. Beberapa hari juga dia jadi gak mau mandi, tapi karena saya gak paham saya tetap paksakan dia untuk mandi, yah efeknya dia jadi nangis-nangis. Meski begitu dia tetap ceria, dan tetap lahap makannya.

Suatu pagi seperti biasanya ketika ada odong-odong lewat depan rumah dia berlari untuk mengejar dan menaikinya. Saya lihat waktu dia naik odong-odong kok di badannya ada bintil-bintil merah, tapi saya pikir itu hanya gatal, sehingga solusinya hanya saya balurkan bedak (talc). Sore hari sepulang saya dari kampus, saya dapat laporan dari mbak bahwa bintil-bintil merah di tubuh Fia jadi bertambah. Badannya cenderung hangat, tapi tidak panas, saya ukur dengan termometer juga masih termasuk kategori normal tapi memang di ambang atas. Namun saya gak mau ambil banyak resiko, malam itu juga saya bawa Fia ke DSA yang paling dekat dengan rumah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Saya sudah menduga-duga, kenapa yaa… apa cacar air? padahal dulu udah pernah.. apa campak? wah ngeri banget… atau alergi? alergi apa yaaa… Kebetulan ruang tunggu praktek DSA sangat penuh, rupanya cuaca pancaroba membuat anak-anak banyak yang sakit.

Akhirnya giliran kami dipanggil juga, Fia awalnya senang mau ketemu dokter, tapi begitu masuk ke ruangan, dia menangis meronta sampai jilbab saya ditarik-tarik. Setelah memeriksa dokter mengatakan kalau Fia kena virus. Ha? virus? virus apa ya? lalu saya tanya, apakah itu campak? bukan katanya. Apa itu herpes? mirip katanya.. Oke baiklah memang virus di dunia ini banyak sekali yaa.. dokter meresepkan obat dan meminta tetap memberikan obat turun panas bila badannya panas. Saya tetap diminta untuk mengobservasi, bila besok tidak ada perkembangan (berkurang bintilnya) maka sebaiknya saya datang kembali.

Nah, meminumkan obat ke Fia juga jadi tantangan tersendiri, karena dia susaaaaah banget kalo disuruh minum obat. Tapi untungnya Fia tetap ceria, hanya kalau malam tidurnya agak gelisah dan minta dielus elus. Esok harinya kulihat Fia tetap ceria seperti biasa, badannya juga tidak panas, namun bintil merahnya memang belum berkurang. Kalau dilihat, bintil-bintilnya hanya ada di seputar telapak kaki, lutut, siku tangan, telapak tangan, punggung tangan, dan sedikit di sekitar mulut. Melihat tanda-tandanya yang demikian, aku coba browsing di internet, dan aku baca bahwa itu adalah tanda-tanda flu singapura.

Wah kok nyentrik namanya flu singapura ya, ternyata karena wabah itu ditemukan awalnya di singapura. Tapi yang cukup membuatku lega, penyakit itu merupakan kategori penyakit yang self limiting dissease, artinya bisa sembuh sendiri dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Penyakit itu banyak ditemukan pada anak-anak… Alhamdulillah pada hari berikutnya bintil bintil mulai mengering dan berkurang, Fia berangsur angsur makin membaik.

Beberapa hari berikutnya justru giliran saya yang didera demam tinggi, rasanya sungguh tak nyaman, dua hari saya menghabiskan banyak waktu dg tiduran di tempat tidur,badan “nggreges” gak karuan, tenggorokan sakit sekali rasanya. Saya minum obat bebas yang biasa saya konsumsi jika flu, tidak berefek apapun. Sampai pada hari ketiga mulai muncul bintil bintil merah seperti yang muncul di tubuh Fia, waaaah ternyata saya ketularan….

Mencari Sekolah Buat Fia : Episode baru dimulai lagi

Image

New episode is coming! Yeay… jadi Ibu ternyata penuh kejutan… Melahirkan, udah sering lihat, tapi ketika ngalamin sendiri ternyataaaa tak semudah apa yang dilihat. Menyusui, kayaknya gampang tapi setelah dilakoni butuh keteguhan hati dan semangat pantang mundur. Kalau menilik tahapan perkembangan kognitif dari Piaget *plis deh ini bukan ruangan kelas*, tahap sensorimotor juga udah lewat, dulu sempet deg-degan dan harap-harap cemas, nunggu kapan bisa mulai tengkurap, kapan bisa mulai duduk, kapan berdiri, merangkak, jalan, dan akhirnya lari. Kadang anak memberi hadiah berupa kejutan karena gak disangka-sangka bisa melakukan sesuatu, tapi kadang kita udah berharap ternyata masih perlu distimulasi lebih lanjut.

Memang punya anak itu pembelajaran berharga tak terkira, kombinasi pembelajaran untuk bisa sabar, pantang menyerah, lebih rajin, dan mencoba berperilaku baik . Kalau ada yang bilang bahwa mendidik anak itu seperti menyusun batu bata untuk menjadi rumah, ya kurang lebih begitu, buat pondasi sekuat mungkin, susun bata nya dengan rapi, berikan tiang-tiang penguat pada beberapa sisi, beri atap, baru kemudian dipercantik. Nah ternyata punya anak juga demikian, pondasi jelas dipersiapkan mulai dari prenatal ya ibu-ibu, makanan apa yang dikonsumsi akan menentukan gimana perkembangan janin. Tahapan selanjutnya memperkuat fisik dengan gizi yang baik, lalu memperkuat mental dengan pendidikan agama, pendidikan karakter, dan pendidikan lainnya yang dasarnya dari rumah. Nah setelah itu baru mulai dengan pengetahuan umum, pengetahuan sains, dan pengetahuan lain lain…

Fia bulan ini usianya 3 tahun 3 bulan, nah saya sebagai emak emak muda *boleh ya dibilang muda* mulai rempong nih mau cari playgroup/kelompok bermain buat Fia. Sebetulnya Fia selama ini udah ikutan kelas Pos PAUD di deket rumah yang dikelola ibu-ibu PKK di lingkungan rumah. Selama ini dia keliatan enjoy, dua kali dalam seminggu dia masuk, dan kegiatannya sangat menyenangkan. Bernyanyi, melompat, lempar bola, meniti, menstimulasi motorik halus dan tentu saja main main. Saya nggak khawatir dengan kata orang yg bilang, “kok dari kecil udah disekolahin? nanti kalo bosen gimana?” karena sejauh ini di Pos PAUD kegiatannya sangat menyenangkan, dan waktunya hanya sebentar, kira-kira 2 jam. Targetnya adalah Fia bisa sosialisasi dengan anak sebayanya dan berani untuk berekspresi di depan umum.

La kan udah sekolah, kok mau cari sekolah lagi? Nah di usianya yang udah mencapai 3 tahun, saya kepengen supaya aktivitasnya mulai terarah, dan kemandiriannya mulai muncul. Mandirinya versi anak-anak ya ibu-ibu. Alhamdulillah sejak ulang tahun ke 2 sudah gak mau pake pampers lagi, dan sudah berhasil disapih di usia 2 tahun 8 bulan *yang ini agak lama*, tapi ngedot nya belum bisa dilepas nih ibu-ibu… Aktivitas terarah maksud saya adalah tentang pembiasaan hal-hal baik. Meskipun di rumah sudah dimulai, tapi dengan keterbatasan saya sebagai ibu bekerja, praktis ada waktu-waktu dimana Fia tidak bersama saya di rumah. Nah waktu itu saya pengen dia belajar hal-hal yang baik. Selama ini di rumah saya juga sudah berusaha menyiapkan permainan yang bisa dimainkan kala saya tidak di rumah. Yah tentu saja tembok rumah juga sudah jadi korbannya… coretan ada dimana-mana. Katanya kalo nggak kotor nggak belajar, ya sudah relakan saja, untungnya dulu cat nya pilih yang bisa dihapus…

Ada beberapa yang berpendapat, ngapain disekolahin playgroup, nanti kelamaan… tapi saya percaya kondisi anak beda-beda ya ibu-ibu, jadi saya mulai hunting playgroup. Saya sempat berpikir untuk memasukkan Fia langsung ke TK A, tapi selanjutnya mendengar saran kanan kiri saya pilih ke playgroup saja dulu. Berkaca ke pengalaman saya dulu, saya masuk SD di usia 5 tahun 7 bulan, nah karena Fia lahir di bulan yang sama dengan saya, saya juga kepikiran hal yang serupa. Tapi pada akhirnya setelah mendengar masukan dari berbagai pihak, saya simpulkan bahwa apa yang akan dihadapi Fia di masa depan pasti akan jauh berbeda dengan keadaan saya yang sekarang, jadi jangan paksakan anakmu seperti dirimu, karena dia akan hidup di masa yang berbeda.

Nah sekarang masalahnya mau masuk playgroup yang mana? Saya secara pribadi punya beberapa kriteria, karena saya ingin ada pembiasaan tentang hal-hal terkait keyakinan kami, saya pengen Fia masuk di playgroup yang ada nuansa islami, jadi ditanamkan nilai-nilai islami di dalamnya. Lalu kriteria kedua adalah dekat dari rumah, yang ini jelas ya, supaya anak gak lelah. Lalu kriteria selanjutnya adalah guru-guru pengajarnya sabar, ramah dan peduli, nah ini yang agak susah karena harus dilihat dulu. Mulailah kami bergerilya, sekarang sudah ada 2 playgroup yang memenuhi kriteria itu, di salah satu playgroup bahkan Fia sudah ikut trial class. Sampai hari ini saya belum memutuskan, karena masih bingung! Saya mau ajak Ayahnya Fia untuk melihat dan memutuskan. Kalau Fia sejauh ini cukup senang dengan keduanya, tapi sepertinya cintanya masih di Pos PAUD, hehehehehe…..

Tadi saya sempat browsing bagaimana sebaiknya pilih playgroup buat anak, biar nggak lupa saya tulis lagi ya… Walaupun psikolog, tapi untuk urusan ini saya juga butuh baca pendapat dan minta saran orang lain yang sudah berpengalaman… Ini dia hal-hal yang perlu dicatat

  • Cari info tentang playgroup secara komprehensif. Mulai dari masalah finansial, basis pendidikan yang diterapkan dan konsep yang digunakan. Jadwal harian, lingkungan sekitar, durasi waktu lamanya di sekolah.
  • Pertimbangkan jarak rumah ke playgroup, pastikan rute nya mudah dijangkau dan tidak membuat anak lelah.
  • Bangunan fisik sekolah perlu dipertimbangkan keamanan, kenyamanan, dan kesehatannya.
  • Anak-anak butuh stimulasi yang banyak, perhatikan apakah playgroup mewadahi itu.
  • Rasio anak dan pendidik perlu diperhatikan, supaya anak dapat perhatian yang cukup.
  • Latar belakang pendidik dan karakternya bisa dijadikan pertimbangan.
  • Bagaimana kurikulumnya? Anak-anak playgroup intinya adalah bermain dan mengeksplorasi diri sesuai tahap perkembangannya.
  • Jangan hanya tergiur fasilitas dan terpukau harga yang selangit… kalau perlu cek outputnya… kalau ada teman, saudara, tetangga yang sudah lulus dari sana, bisa ditanyakan…

nah satu lagi yang penting, coba ajak anak berdiskusi tentang playgroup yang disukai, karena yang mau sekolah kan anak bukan orang tuanya, hehehehe…..

Oke ibu-ibu sekian dulu ya, saya mau memantapkan pilihan… selamat mencari playgroup buat ananda tercinta

Berkomunikasi dengan bayi

Aoo.. uoo.. bla bla… hu… kata kata semacam itu sekarang seringkali muncul dari bibir anakku, fia. Mulai sekitar usia 2 bulan sebenarnya sudah seringkali saya dengar ocehan fia. Tapi sekarang sudah semakin jelas dan semakin sering. Bisa dibilang, semakin bertambah usianya, makin bertambah pula kepandaiannya.

Kalau inget kembali tentang teori perkembangan bahasa pada anak. Awal mula bayi berkomunikasi adalah dengan menangis, kemudian mulai bisa mendekut (cooing), lalu mulai mengoceh/meraban (babbling). Menangis dimulai semenjak awal kelahiran, sementara cooing  biasanya pada usia 1-2 bulan, dan mengoceh biasanya dimulai pada usia 6-10 bulan. Nah berarti fia sekarang seharusnya sudah bisa mengoceh. Contoh mengoceh adalah mengucapkan kata kata seperti ma-ma-ma, pa-pa-pa… kalau fia biasanya hu..uh…huu…

Setelah lebih dari usia 10 bulan, bayi biasanya mulai mampu bicara dengan kalimat kalimat. Eits tapi jangan salah, kalimat kalimat yang diucapkan bayi biasanya awalnya hanya terdiri dari satu kata atau dua kata. Baru pada usia 24 bulan biasanya mulai bisa tiga kata. Itu kata teorinya, jadi akan saya observasi nanti pada fia.

Yang saya baca, ada beberapa kiat agar anak menuruti dan memahami pembicaraan, diantaranya adalah :

  • Menyampaikan pesan dalam kalimat yang jelas dan sederhana, jadi jangan berbelit belit kalo bicara sama bayi.
  • Menyampaikan pesan dengan situasi yang tepat, jadi perlu memperhatikan timing saat bicara sama bayi.
  • Lakukan kontak mata saat menjelaskan pada anak, kalau bisa lakukan juga kontak fisik, misalnya membelai, mengusap.
  • Perhatikan anak, gunanya untuk melihat ekspresi apakah bayi mampu menyerap informasi yang disampaikan.
  • Bercerita pada anak, kegiatan bercerita adalah kesempatan yang tepat untuk bereksperimen secara verbal dan ekspresif sehingga kita bisa punya kesempatan besar untuk menemukan cara bicara tepat yang mampu membuat si kecil menyimak dan menurut.

Oke ibu ibu, sekian dulu cerita cerita tentang perkembangan bahasa pada bayi, kapan kapan kita lanjutin lagi ya 🙂 Udah persiapan apa nih buat mudik?