Work-Family Balance

Kemarin saya dapat kesempatan memandu ngobrol via whatsapp di sebuah grup yg saya ikuti, temanya tentang Work Family Balance (WFB). Nah saya akan coba tulis ulang disini ya.

Saya sendiri yang memilih tema ini karena kebetulan sedang saya pelajari dan saya usahakan akhir-akhir ini. Hayoo siapa yg pernah atau sdg mengalami sulitnya menyeimbangkan keduanya? Mungkin ibu-ibu yg lebih banyak tunjuk jari yaaaa….

Kerja dan keluarga merupakan dua hal yang kita jalani dalam kehidupan kita sebagai manusia dewasa. Keduanya menempatkan kita pada peran yang berbeda, dan peran itu membawa konsekuensi dan kepentingan tertentu yang tak jarang saling bercampur aduk. Tidak jarang, kedua peran tersebut saling merebut perhatian kita sehingga sulit bagi kita untuk mencapai apa yg namanya keseimbangan diantara keduanya, bahkan seringkali yg muncul berupa konflik (work-family conflict). Kalau sdh demikian tentu saja dampaknya lebih condong ke arah negatif, seperti munculnya stres, ketidakpuasan kepada pekerjaan, ketidakpuasan kepada keluarga, kelelahan, kondisi kesehatan yang menurun, kesejahteraan psikologis yang menurun, dsb.

Nah ternyata kepuasan/ketidakpuasan pd satu peran juga bisa mempengaruhi pada peran kita yang lain, misal kalau sedang ada masalah di rumah (masalah dg pasangan, atau karena ada anak yang sakit) , tidak jarang akan mengganggu performa kita di tempat kerja juga, misal jadi telat, atau bolos atau gak achieve target, kurang konsen dg kerjaan dll. Demikian pula sebaliknya, kalau pas ada masalah di tempat kerja, kadang di rumah pasangan kita juga kena imbasnya krn kita uring-uringan, atau kita jadi kurang sabar dengan permintaan anak dll. Jadi menjadikan balance adl pilihannya…

Istilah WFB tak jarang juga dipertukarkan dengan WLB (work life balance), namun demikian istilah life tentunya memuat makna yg lebih luas, tidak hanya tentang family (keluarga), namun juga terkait hobi, kesehatan, kesenangan dll. Kalau rekan2 punya segudang aktivitas sosial, mungkin ga cuma punya peran di keluarga & pekerjaan ya, tapi bisa juga di kegiatan sosial lainnya, tapi kali ini saya akan fokus ke WFB dulu ya…

Ranah pekerjaan dan keluarga adalah dua ranah dengan aturan, pola pikir dan perilaku yang berbeda. Dikatakan seimbang ketika WAKTU kita seimbang di kedua peran, KETERLIBATAN secara psikologis di dlm kedua peran seimbang, dan kita merasakan KEPUASAN di kedua peran tsb. Pd dasarnya WFB bisa tercapai saat kita bs mengatur jadwal, membuat prioritas dan mendapat dukungan dr lingkungan, dan kalau hal tsb tercapai pastinya aka nada efek positif baik ke pekerjaan atau ke keluarga kita.

Ada 2 faktor yg membuat WFB muncul yaitu faktor internal dari dalam diri spt komitmen (di kedua peran), pemahaman peran, dan karakter individu, serta faktor eksternal spt dukungan dr lingk sosial, adanya anak, otonomi kerja, jumlah jam kerja.

Hwaa lha praktiknya gimana?? Untuk menyeimbangkan urusan pekerjaan dan keluarga, mungkin beberapa hal ini perlu diperhatikan..

  • Apakah sudah menentukan nilai utama bagi kita & keluarga? (nilai utama maksudnya value/prinsip/standar/kualitas/identitas yg diinginkan dlm kehidupan sehari2 sbg pedoman dlm bertingkah laku seluruh anggota keluarga).
  • Cari tahu value yg membuat kita bs berkonflik dg diri sendiri dan buat prioritas, misal: tmn2 yakin kalau sampai lebih awal di tmpt kerja adl penting, dan dapur bersih sebelum brkt kerja juga penting. Mana yg akan dipilih kira2? Karena konflik spt ini kdgkala bs memicu stres, dan menghabiskan energi, dan membuat kita merasa tidak puas di kedua peran
  • Tentukan tujuan à adanya tujuan akan menggerakkan kita memilih prioritas.

Beberapa hal praktis yg bisa dicoba…

  • Kurangi perasaan bersalah, kadang krn tdk bs memaksimalkan waktu utk keluarga kita jd merasa buruk, di lain sisi kita jg butuh bekerja, jd jangan menyalahkan diri sendiri ketika ada yg tdk sempurna
  • Kalau di tempat kerja kerjaan dan target padat merayap, jgn lupa tetap jaga komunikasi dg keluarga, luangkan wktu dg buat kegiatan yg menyenangkan bersama keluarga
  • Buat update kegiatan keluarga dan pekerjaan, nyalakan reminder agar kegiatan2 tidak terlewat, reminder tdk hny mslh kerjaan aja tp jg kegiatan keluarga, atau malah jg kegiatan sosial
  • Pastikan ada pendukung yg suportif, shg bs berbagi tugas… kalau di kantor pny atasan yg suportif pasti asik bgt ya, aplg kalau tmpt kerja kita pny budaya dan aturan yg mendukung WFB.. nah di keluarga, pasangan yg suportif akan sgt membantu semuanya bs seimbang
  • Memulai hari dg indah dg mempersiapkan sgla keperluan dr malam sebelumnya
  • Mampu mengelola stres, ini penting supaya ga ada yg jd pelampiasan ya… cara sederhananya dimulai dg pny jadwal yg baik, melakukan relaksasi, tdk menyimpan masalah sendiri & berbagi dg org2 yg dipercaya
  • Menjaga kesehatan, krn kesehatan adl kunci dr keseimbangan di kedua peran itu, kalau kita kelelahan atu krg sehat maka bs sj itu membuat kt mlkkn kslhn
  • Menggunakan waktu dg bijak dan mencoba “here and now”, saat sdg menjalankan peran di rumah dg menemani anak2 hindari mengerjakan pekerjaan lain… saat hrs kerja hindari mengerjakan hal2 yg krg penting.
  • Melibatkan Yang Kuasa untuk menguatkan diri kita bahwa akan ada yg menjaga kita dan keluarga kita…

Nah demikian sedikit obrolan tentang work-family balance…

Advertisements

Camping Bersama Keluarga di Ciwidey Valley

Hello Bloggers, Selamat Tahun Baru 2017! Semoga di tahun yang baru ini kita dikaruniai nikmat sehat agar bisa tetap semangat menjemput rezeki dan bersilaturahmi yah!

Nah kali ini saya akan cerita tentang pengalaman camping bersama keluarga besar di awal 2017 ini. Camping? Yah betul sekali, camping pakai tenda!

img_1626

Continue reading

CIMORY ON THE VALLEY

11377269_10153001405003510_8139955208801563353_n

Ini adalah cerita weekend gateway beberapa minggu lalu, Cimory on The Valey di Bawen Kabupaten Semarang. Kami sudah sering melewatinya, saya juga sudah pernah sekali kesana untuk beli susu cimory yang ada rasa-rasanya itu. Nah kali ini yang spesial, kami pergi kesana sekeluarga! Yeay lengkap Ayah Ibu dan Fia.

Tentu saja yang paling heboh adalah Fia, karena disana ada peternakan, pertanian, dan juga playground! Kalau Anda masuk melalui resto, peternakan dan pertanian di sana bisa diakses dengan gratis. Tapi kalau gak mau ke resto, kita bisa memasuki peternakan dan pertanian dengan membayar 10.000 rupiah, dan mendapatkan gratis 1 botol yoghurt.

Fia seneng banget disana karena bisa lihat ikan, sapi, kelinci, kura-kura, ayam, burung merak, wuah lengkap deh… Kita juga bisa lihat beraneka ragam tanaman hortikultura… Duh kalo lihat kebun di cimory yang ditata dengan baik, saya jadi bermimpi suatu hari nanti kalau ada rezeki pengen deh punya rumah yang ada kebun sayur dan buah.

Setelah menikmati peternakan dan pertanian, kami mencoba untuk menikmati makanan di resto cimory…. Menunya khas ya daging sapi dan olahannya… Oh ya pada hari itu ketika kami datang, sedang ada opening chocomory… produk baru, coklat dari cimory.

Akses untuk sampai kesana, kalau dari Semarang ke arah Solo/Yogya tapi lebih mudah kalau tidak lewat tol ya… Mau naik kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum, lokasinya mudah diakses.

Brown Canyon Semarang

s_img_0443_

Melihat foto itu, pasti Anda bertanya dimanakah lokasi pemandangan yang indah itu. Kalau di Amerika ada Grand Canyon, di Pangandaran ada Green Canyon, foto di atas itu adalah pemandangan di Brown Canyon Semarang. 

Lokasi Brown Canyon ini ada di antara Rowosari Tembalang, Pucanggading, dan daerah Kebonbatur Mranggen. Awalnya, saya sering melihat pemandangan ini dari kejauhan kalau saya sedang berkendara dari Tembalang ke daerah Kedungmundu, via Sigar Bencah. Dari Sigar Bencah bisa terlihat hamparan perbukitan yang indah, menjulang tinggi bagaikan candi. Beberapa bulan lalu, saya juga melihat teman-teman saya berfoto disana, indah dan dramatis kesan fotonya.

Nah, karena kemarin kebetulan ada hari libur, saya sekeluarga mencoba ingin menelusuri jalanan untuk mencapai Brown Canyon. Kami coba cari tau jalan mana yang harus dilewati untuk sampai kesana, Ayahnya Fia sampai mensetting GPS untuk memandu perjalanan kami. Karena rumah kami berada di daerah atas kota Semarang, kami akan menempuh jalur Tembalang – Meteseh – Rowosari untuk sampai ke Brown Canyon.

Pagi itu, langit masih berkabut sehingga dari sigar bencah tidak nampak bukit bukit brown canyon. Kami sempat berhenti sejenak di pom bensin di dekat pintu masuk perumahan Bukit Kencana Jaya, bersiap mengisi bensin full tank. Dari pom bensin, perjalanan kami lanjutkan ke arah timur hingga sampai di pertigaan pasar meteseh. Dari situ kami terus ke timur, jalannya cenderung kurang bagus, banyak lubang-lubang dengan air tergenang. Saat ada persimpangan kami ambil ke arah kiri, di situ ada petunjuk berupa papan penunjuk arah bertajuk BROWN KENYEN!

Kami menyusuri jalanan pelan-pelan, agak bingung sebenarnya, tapi kami ikuti petunjuk dari GPS dan mengikuti pengendara motor di depan kami, yang sebenarnya kami juga tidak tau mereka hendak kemana, hahahaha…. Sampailah kami di depan Puskesmas Rowosari. Wah senang sekali karena patokan dari beberapa blog yang sudah kami browsing, kalau sudah sampai situ berarti sudah dekat. Kami melaju masuk melalui gang di depan puskesmas rowosari, dan orang di depan kami juga berbelok kesitu. Kami ikuti terus, namun ternyata orang itu berbelok ke salah satu rumah, hahahahaha

Sinyal GPS mulai melemah sehingga kami tidak tau ada dimana, kami susuri jalan hingga melewati persawahan, Fia senang sekali melihat pemandangan alam pedesaan. Tapi kok rasa-rasanya kami makin menjauh yaaa…. Dan tiba-tiba ada petunjuk arah yang menunjukkan kalau kami ke kiri kami akan ke Mranggen! OMG ini Nyasar judulnya! hahahahaha…….

Makin lama makin jauh, dan kami lapar sodara sodara… Kami menyusuri jalanan beraspal halus, mulai dari desa batursari, kebonbatur, dan kangkung. Sampailah kami di pasar mranggen. Ini sudah jauuuh, ayahnya Fia lalu mengambil alih GPS dari saya dan mengecek. Dia bilang kita udah menjauh 2 KM dari lokasi, hahahaha jauh ajaaaa…. Akhirnya saya bergantian dengan suami, saya yang mengendarai motor dan suami yang mencermati GPS. Harap Maklum ajaaa ya psikolog baca GPS kok malah nyasar, jadi geologist aja yang baca GPS.

Dari Pasar Mranggen, kami menuju arah Pucanggading, dulu berdasarkan info seorang teman ada jalan dari arah pucanggading. Kami susuri jalan itu, makin ke selatan GPS menunjukkan semakin dekat dengan objek. Teruus kami susuri jalan itu, dan kami mulai melihat perbukitan itu. Yah, itu sudah kelihatan… Gak disangka-sangka malah kami temukan….

IMG_0317

Masuk ke lokasi, kami harus membayar tiket Rp.5000 per orang. Pengelolaan retribusi dikelola oleh masyarakat setempat.

Ternyata Brown Canyon ini adalah bekas tambang pasir dan batu, jadi dulunya ini adalah bukit-bukit yang menjulang tinggi, setelah bertahun-tahun dikeruk pasirnya, jadilah seperti ini. Saat itu truk pasir sudah tidak banyak lalu lalang, hanya ada beberapa truk yang lewat. Karena sudah lapar, saya dan Fia coba berhenti di salah satu warung untuk menikmati sarapan, sementara Ayah Fia langsung beraksi hunting foto.

Kami sampai di sana pada saat matahari mulai terik, sehingga rasanya panas. Kata Ibu yang berjualan di warung, biasanya brown canyon ramai dikunjungi saat sore hari, sehingga tidak terlalu terik. Selain kami, banyak anak muda yang datang ke situ, bahkan saya lihat plat nomor kendaraannya berasal dari kota lain.

Setelah puas berfoto, kami memutuskan untuk pulang. Setelah bertanya, jalan ke rowosari ternyata dekat. Kami mencoba pulang melalui jalur Rowosari, setelah berputar-putar di desa yang ada tepat di bawah brown canyon, sampailah kami ke jalan yang lebih besar, dan menemukan Puskesmas Rowosari! Hahahahaaha ternyata tadi waktu berangkat, kami sudah ada di lokasi yang dekat, tapi gara-gara mengikuti pengendara motor yang lain, kami malah jadi nyasar. Harusnya belok kiri, kami malah belok kanan. 🙂

Rasanya Seperti Mimpi

Awal bulan April lalu, saya mendapat sebuah kejutan manis yang membuat perasaan saya bergejolak. Ada rasa senang, bingung, antara percaya nggak percaya, tapi saya yakin ini adalah jawaban dari doa-doa saya. Seringkali saya berdoa kepada Nya untuk diberikan rezeki yang melimpah, mungkin itu adalah rezeki yang dimaksud. Ya, Saya Positif Hamil Anak Kedua!

Yang paling bergembira dari berita ini adalah Fia, anak pertama saya. Dia beberapa bulan terakhir mengatakan kalau ingin sekali punya adik. Permainannya sehari hari juga selalu menyebut tentang adik. Melihat anak tetangga yang masih bayi, dia menjadi sangat gemas. Dan puncaknya, dia selalu mengatakan pada saya kalau “perut Ibu gendut, di dalamnya ada adiknya”

Saya hanya senyum-senyum saja kalau Fia bilang begitu, saya juga tidak berpikir apapun ketika suatu hari sepulang menunggui mahasiswa praktikum, saya dengan kalapnya beli rujak di dekat kampus, dan menghabiskan rujak itu sendirian! *ini doyan apa ngidam?*

Sampai suatu hari saya akhirnya memutuskan membeli test pack, karena tamu bulanan tak kunjung datang. Ternyata garis merahnya ada dua! WOW! Berarti saya memang benar-benar hamil. Untuk memastikannya, dua hari kemudian saya pergi ke dokter kandungan yang paling dekat dengan rumah, dr. Kartika Peranawengrum, SPOG. Setelah dilakukan USG ternyata saya dinyatakan hamil 5 minggu, letak kehamilannya di tempat yang tepat, namun baru kantongnya saja yang terlihat. Dokter meresepkan vitamin dan asam folat untuk saya, dan meminta saya datang kembali 3 minggu lagi.

Waktu hamil pertama dulu, sewaktu pemeriksaan pertama saya juga mengalami hal yang sama, baru terlihat kantong kehamilannya. Jadi saya tidak risau akan hal tersebut. Saya mulai bercerita kepada Fia, suami juga eyangnya Fia kalau Fia insyaAllah mau punya adik. Fia sangat senang sekali, dia bercerita kepada semua orang, guru-guru di playgroup dan juga ibu-ibu tetangga.

Alhamdulillah kondisi saya sehat dan baik-baik saja, tidak merasa mual ataupun muntah. Aktivitas tengah semester sedang padat-padatnya dan bisa saya jalani dengan baik. Sampai suatu pagi di hari Rabu tanggal 22 April 2015, saya terbangun dan merasa kalau saya mengeluarkan cairan seperti mengompol. Saya ke kamar mandi dan saya lihat ternyata cairan itu berwarna merah, ya seperti darah.

Saya tertegun dan mulai deg-degan, saya ini kenapa ya, saya hamil kok malah seperti menstruasi begini. Saya coba ingat kembali memori saya saat hamil Fia dulu, pernah saya flek keluar darah tapi tidak sebanyak ini, sedikit. Dengan perasaan galau saya mencoba BBM ke Lina, sahabat saya yang berprofesi sebagai seorang dokter, dan menceritakan apa yang saya alami. Dia menyarankan untuk segera periksa ke SPOG dan jangan menunda. Saya juga BBM ke kakak sepupu saya, sarannya sama. Akhirnya pagi itu saya mencoba mencari jadwal praktek dokter kandungan yang buka paling pagi. Sementara Fia tiba-tiba menjadi sangat rewel dan tidak mau berangkat ke playgroup. Oh ya, suami saya waktu itu sedang di Bandung.

Dari beberapa penelusuran, praktek dokter kandungan terpagi di hari itu adalah jam 8 pagi, saya menelfon ke 3 Rumah Sakit dan mendapati dokter yang ada di RS. Hermina Pandanaran. Disana saya menunggu antrian untuk bisa diperiksa dr. Widi Fatmawati, SPOG. Sebelum mengantri, saya diukur berat badan dan tekanan darah oleh perawat. Perawat menanyakan keluhan apa yang saya rasakan, setelah saya ceritakan, perawat itu menyampaikan “bu, kalau pendarahannya semakin banyak, ibu kesini ya bu, soalnya dr. Widi sedang membantu persalinan”. 

Saya menunggu dengan perasaan yang galau luar biasa, apa sebenarnya yang terjadi pada saya… Saya belum sampaikan kepada teman-teman di kampus tentang hal yang saya alami, saya cuma bilang kalau kurang enak badan dan sedang periksa ke dokter. Janji bimbingan dengan mahasiswa juga saya batalkan. Padahal hari itu saya dan 4 orang teman saya di kampus mengadakan tasyakuran kecil-kecilan karena saya dan teman-teman baru saja menerima Sertifikat Pendidik (Sertifikasi Dosen).

Masuk ke ruang praktek dr. Widi, beliau menyambut dengan ramah, dokternya masih muda, cantik dan fresh. Saya menceritakan apa yang terjadi pada diri saya pagi hari itu, ekspresi wajah dokternya berubah. Lalu dokter melakukan USG, ya ini Ibu hamil, tetapi saya harus melakukan USG transvaginal bu. Ouch… ngebayangin harus di USG transvaginal membuat saya grogi, sampai saya minta izin untuk ke kamar mandi dulu untuk pipis. Saya bayangkan prosesnya akan sakit, tapi ternyata tidak. Waktu itu darah masih keluar cukup banyak.

Dokter memastikan kembali kapan menstruasi terakhir saya, kemudian menanyakan hasil USG ketika saya pertama kali memeriksakan kandungan sebelumnya. Dengan hati-hati dokter menyampaikan kalau kehamilan saya, janinnya tidak berkembang. Ukuran dari 2 minggu lalu dengan saat saya periksa cenderung sama. Perdarahan yang terjadi pada saya juga mengindikasikan Missed Abortion. Sehingga harus dilakukan tindakan kuret. Jika terlalu lama bisa mengakibatkan infeksi.

Saya mencoba menerima penjelasan dokter dengan logika, dan sesedikit mungkin melibatkan perasaan. Saya bertanya tentang teknis kuret dan apa yang harus saya lakukan. Dokter tidak memaksa untuk dilakukan saat itu juga, namun dokter membekali dengan surat rujukan untuk dilakukan tindakan kuret. Siang itu, saya akhirnya tetap ke kampus, saya ceritakan kondisi saya kepada beberapa teman. Saya bahkan sempat mengajar juga. Dari diskusi dengan teman dan saudara, saya disarankan untuk mencari second opinion.

Malamnya, saya ajak Fia untuk pergi ke dokter kandungan lagi. Kali ini saya mengunjungi dr. Kartika SPOG kembali, asumsi saya, beliau yang pertama kali memeriksa saya, sehingga ada record untuk ukuran kehamilan saya. Saya ceritakan kepada dokter apa yang terjadi, dokter juga melakukan USG pada saya, dan membandingkan dengan USG terdahulu yang tersimpan di computer. Fia melihat dengan seksama, dan ikut menyimak penjelaskan dokter dengan serius. Dokter menyampaikan bahwa hanya ada kantong di kehamilan saya, indikasinya adalah Blighted Ovum. Dan sarannya juga sama, yaitu kuret.

Saya masih ingin menunggu suami saya datang ke Semarang, tapi keesokan harinya perut saya mulai terasa sakit dan mulas mulas. Perdarahan juga semakin banyak. Akhirnya siang hari saya ke RS Hermina Banyumanik untuk melakukan observasi. Saat diperiksa bidan disana, katanya sudah ada pembukaan jalan lahir. Saya mulai diminta untuk berpuasa hingga 6 jam ke depan. dr. Widi akan datang kurang lebih pukul 17.30.

Prosedur pra operasi *saya baru tau kalo proses kuret itu harus dilakukan di ruang operasi dan akan dibius total* mengharuskan saya berpuasa dan menjalani serangkaian tes, dari tes darah hingga tes alergi. Di ruang operasi, dokter anastesi menanyakan nama panggilan saya dan mulai menyuntikkan sesuatu di infus saya. Dan perlahan namun pasti kesadaran saya hilang, saya tidur dan tidak merasakan apapun sampai nama saya dipanggil kembali. Ternyata saat itu saya sudah ada di ruang pemulihan. Alhamdulillah semua berjalan lancar, jam 22.00 saya bisa kembali ke rumah.

Rasanya benar-benar seperti mimpi, kejutan-kejutan datang silih berganti dalam hidupku.

Nulis Buku Keroyokan

Beberapa tahun lalu, sebagai seorang Ibu baru, saya seringkali bertanya kepada teman-teman saya tentang hal-hal seputar perawatan bayi dan kegiatan menyusui. Setelah anak saya beranjak lebih besar, ternyata saya juga sering mendapat pertanyaan dari teman-teman atau adik kelas saya. Akhirnya saya dan teman saya membuat grup di salah satu media sosial. Grup nya kami beri nama Psikogama Motherhood, kenapa namanya seperti itu? yah simpel aja sih karena kami adalah alumni Psikologi Universitas Gadjah Mada.

psikogama motherhood

Selain sharing tentang pengalaman, kami juga seringkali sharing tentang resep ataupun pengetahuan yang dibutuhkan oleh ibu-ibu muda. Nah, suatu hari di tahun 2014 terbersit ide untuk mencoba membukukan pengalaman menjadi ibu yang unik-unik dari masing-masing anggota. Saya mengajak teman-teman untuk membuat sebuah cerita pendek. Banyak yang menyambut dengan antusias ide ini, dalam beberapa hari ada yang langsung mengirimkan naskahnya, namun lama juga sampai akhirnya terkumpul sejumlah artikel. Agak lama artikel hanya bersemayam di laptop saya, kesibukan di kampus dan di rumah menunda naskah-naskah itu siap dicetak. Tapi akhirnya mimpi kami terwujud juga, menerbitkan buku kumpulan cerpen tentang pengalaman menjadi ibu.

Cover - Ibu (30Jan2015) rev

Ini dia cover buku kami…

Buku ini kami terbitkan secara indie melalui nulisbuku.com. Prosesnya tidak lama, namun memang butuh ketelitian dan kesabaran.

Beragam cerita dari 9 penulis dituangkan  di buku ini. Alhamdulillah project nulis buku keroyokan akhirnya terwujud. Kalau tertarik untuk membeli, bisa langsung menghubungi saya via email ikazenita@yahoo.com atau langsung klik di sini.

Bronchoscopy (part 2)

Cerita tentang kondisi kesehatan eyang (Bapak saya) di sini  masih berlanjut, tatkala suatu malam saat saya cuma berdua di rumah sama Fia dan saya udah mulai merem, ada telepon… Awalnya pengen gak diangkat karena ngantuk bingits. Tapi telepon gak berhenti-henti dan ternyata dari Eyang Har, sambil setengah nangis Eyang Har menyampaikan kalau Eyang No *eyang kakungnya Fia* batuk dan mengeluarkan darah banyak sekali… Oke langsung capcusss ke rumah eyang, Fia yang lagi bobok langsung saya bangunkan dan saya gendong sambil naik motor. Untung rumah kami hanya berbeda RT jadi cepat sampai, disana sudah berkumpul tetangga-tetangga eyang. Karena panik dan ingin cepat akhirnya kami bawa eyang No ke RS Hermina Banyumanik yang dekat dengan rumah. Disana Alhamdulillah ada dokter jaga yang sigap menghentikan pendarahannya Eyang. Dokter memperbolehkan pulang sebenarnya malam itu, tapi karena kami khawatir akhirnya eyang dirawat disana. Jadilah kami bermalam disana menemani eyang. Oh ya satu yang unik, ketika minta dirawat di kelas 1 jawabnya adalah penuh, kelas 2 juga penuh, akhirnya yang ada di VIP, dan di RS itu belum bekerjasama dengan BPJS jadi kami harus menanggung sendiri. Tapi so far, pelayanan di RS Hermina Banyumanik itu baik banget, RS nya bersih, perawat dan dokternya ramah.

Besoknya, kondisi sudah gak pendarahan lagi, tapi saya berpikir bahwa PR dari dokter di RS Roemani sebelumnya harus diselesaikan segera nih, Bronchoscopy. Awalnya saya ingin langsung minta rujukan dari RS Hermina Banyumanik ke RS Kariadi, tapi karena satu dan lain hal agak sulit dan belum bisa dikabulkan pagi itu. Saya terus berusaha browsing, dari 2 dokter yang disarankan dr.Dwi Bambang Sp.P sebelumnya, ada 1 dokter yang hari itu praktek di Paviliun Garuda RS Kariadi, dr. Avicenna Dutha P Sp.P namanya. Okelah capcusss saya ke RS Kariadi, sementara eyang masih di RS Hermina.

Setelah daftar di pendaftaran rawat jalan paviliun Garuda *kali ini bisa pake BPJS karena ini RS milik Pemerintah*, tik tok tik tok… nunggu hampir 2 jam akhirnya dipanggil juga. Pas masuk, dokternya tanya siapa yang sakit, dan beliau meminta maaf karena harus menunggu lama. Saya ceritakan kondisi Bapak, saya tunjukkan rujukan dari Roemani, saya tunjukkan juga hasil rekam medis selama ini, segepok hasil CT Scan, biopsi, pemeriksaan lab selama hampir 2 tahun saya bawa semua deh. Dokternya baik, ramah dan sangat komunikatif sekali jadi saya dijelaskan prediksi apa yang terjadi, pake acara digambarkan segala lo, kaya dosen ngajarin mahasiswanya deh. Jadi prediksi dari dokter di RS Roemani adalah BE atau Bronchiectasis.

Singkat cerita, akhirnya Eyang bisa dirawat di Paviliun Garuda RS dr Kariadi. Oh ya, pas ketemu dr.Avicenna Sp.P saya sudah minta rekomendasi untuk bisa rawat inap, jadi pas sore hari eyang dibawa ke emergency Pav.Garuda lebih mudah diterima, yeaaa walopun sebelumnya ada drama dulu lah, biasaaaaa… Hihihihihiihihi….

bronchoscopy

Nah gambar itu menggambarkan gimana proses Bronchoscopy dilakukan oleh dokter paru. Bronkoskopi adalah tindakan medis yang bertujuan untuk melakukan visualisasi trakea dan bronkus , melalui bronkoskop, yang berfungsi dalam prosedur diagnostik dan terapi penyakit paru (Wikipedia). Prosesnya memakan waktu total 2 jam dan keluarga pasien hanya bisa menunggu di luar ruang bedah. 2 jam itu sudah meliputi waktu persiapan, dan anastesi. Selain melihat kondisi paru, dokter juga mengambil sedikit contoh untuk diteliti di laboratorium. Dokter cerita kalo pada proses itu dokter juga menyikat dan membilas paru-parunya eyang *jangan dibayangkan kaya nyikat baju ya*.

Overall, kami merasa puas dengan pelayanan di paviliun Garuda RS dr Kariadi Semarang. Sekarang eyang hanya berobat jalan saja sebulan sekali, namun setiap hari eyang harus menyuntik insulin sebelum makan. Selain kontrol ke dokter spesialis paru, eyang juga kontrol ke dokter internist untuk mengontrol gula darahnya.

Oh ya karena RS pemerintah, ngurus BPJS di RSDK relatif lebih mudah. Karena kalau dirawat sesuai kelasnya ngantrinya puanjang bingit, akhirnya saya putuskan eyang naik kelas ke VIP, konsekuensinya kami harus bayar selisihnya.