Work-Family Balance

Kemarin saya dapat kesempatan memandu ngobrol via whatsapp di sebuah grup yg saya ikuti, temanya tentang Work Family Balance (WFB). Nah saya akan coba tulis ulang disini ya.

Saya sendiri yang memilih tema ini karena kebetulan sedang saya pelajari dan saya usahakan akhir-akhir ini. Hayoo siapa yg pernah atau sdg mengalami sulitnya menyeimbangkan keduanya? Mungkin ibu-ibu yg lebih banyak tunjuk jari yaaaa….

Kerja dan keluarga merupakan dua hal yang kita jalani dalam kehidupan kita sebagai manusia dewasa. Keduanya menempatkan kita pada peran yang berbeda, dan peran itu membawa konsekuensi dan kepentingan tertentu yang tak jarang saling bercampur aduk. Tidak jarang, kedua peran tersebut saling merebut perhatian kita sehingga sulit bagi kita untuk mencapai apa yg namanya keseimbangan diantara keduanya, bahkan seringkali yg muncul berupa konflik (work-family conflict). Kalau sdh demikian tentu saja dampaknya lebih condong ke arah negatif, seperti munculnya stres, ketidakpuasan kepada pekerjaan, ketidakpuasan kepada keluarga, kelelahan, kondisi kesehatan yang menurun, kesejahteraan psikologis yang menurun, dsb.

Nah ternyata kepuasan/ketidakpuasan pd satu peran juga bisa mempengaruhi pada peran kita yang lain, misal kalau sedang ada masalah di rumah (masalah dg pasangan, atau karena ada anak yang sakit) , tidak jarang akan mengganggu performa kita di tempat kerja juga, misal jadi telat, atau bolos atau gak achieve target, kurang konsen dg kerjaan dll. Demikian pula sebaliknya, kalau pas ada masalah di tempat kerja, kadang di rumah pasangan kita juga kena imbasnya krn kita uring-uringan, atau kita jadi kurang sabar dengan permintaan anak dll. Jadi menjadikan balance adl pilihannya…

Istilah WFB tak jarang juga dipertukarkan dengan WLB (work life balance), namun demikian istilah life tentunya memuat makna yg lebih luas, tidak hanya tentang family (keluarga), namun juga terkait hobi, kesehatan, kesenangan dll. Kalau rekan2 punya segudang aktivitas sosial, mungkin ga cuma punya peran di keluarga & pekerjaan ya, tapi bisa juga di kegiatan sosial lainnya, tapi kali ini saya akan fokus ke WFB dulu ya…

Ranah pekerjaan dan keluarga adalah dua ranah dengan aturan, pola pikir dan perilaku yang berbeda. Dikatakan seimbang ketika WAKTU kita seimbang di kedua peran, KETERLIBATAN secara psikologis di dlm kedua peran seimbang, dan kita merasakan KEPUASAN di kedua peran tsb. Pd dasarnya WFB bisa tercapai saat kita bs mengatur jadwal, membuat prioritas dan mendapat dukungan dr lingkungan, dan kalau hal tsb tercapai pastinya aka nada efek positif baik ke pekerjaan atau ke keluarga kita.

Ada 2 faktor yg membuat WFB muncul yaitu faktor internal dari dalam diri spt komitmen (di kedua peran), pemahaman peran, dan karakter individu, serta faktor eksternal spt dukungan dr lingk sosial, adanya anak, otonomi kerja, jumlah jam kerja.

Hwaa lha praktiknya gimana?? Untuk menyeimbangkan urusan pekerjaan dan keluarga, mungkin beberapa hal ini perlu diperhatikan..

  • Apakah sudah menentukan nilai utama bagi kita & keluarga? (nilai utama maksudnya value/prinsip/standar/kualitas/identitas yg diinginkan dlm kehidupan sehari2 sbg pedoman dlm bertingkah laku seluruh anggota keluarga).
  • Cari tahu value yg membuat kita bs berkonflik dg diri sendiri dan buat prioritas, misal: tmn2 yakin kalau sampai lebih awal di tmpt kerja adl penting, dan dapur bersih sebelum brkt kerja juga penting. Mana yg akan dipilih kira2? Karena konflik spt ini kdgkala bs memicu stres, dan menghabiskan energi, dan membuat kita merasa tidak puas di kedua peran
  • Tentukan tujuan à adanya tujuan akan menggerakkan kita memilih prioritas.

Beberapa hal praktis yg bisa dicoba…

  • Kurangi perasaan bersalah, kadang krn tdk bs memaksimalkan waktu utk keluarga kita jd merasa buruk, di lain sisi kita jg butuh bekerja, jd jangan menyalahkan diri sendiri ketika ada yg tdk sempurna
  • Kalau di tempat kerja kerjaan dan target padat merayap, jgn lupa tetap jaga komunikasi dg keluarga, luangkan wktu dg buat kegiatan yg menyenangkan bersama keluarga
  • Buat update kegiatan keluarga dan pekerjaan, nyalakan reminder agar kegiatan2 tidak terlewat, reminder tdk hny mslh kerjaan aja tp jg kegiatan keluarga, atau malah jg kegiatan sosial
  • Pastikan ada pendukung yg suportif, shg bs berbagi tugas… kalau di kantor pny atasan yg suportif pasti asik bgt ya, aplg kalau tmpt kerja kita pny budaya dan aturan yg mendukung WFB.. nah di keluarga, pasangan yg suportif akan sgt membantu semuanya bs seimbang
  • Memulai hari dg indah dg mempersiapkan sgla keperluan dr malam sebelumnya
  • Mampu mengelola stres, ini penting supaya ga ada yg jd pelampiasan ya… cara sederhananya dimulai dg pny jadwal yg baik, melakukan relaksasi, tdk menyimpan masalah sendiri & berbagi dg org2 yg dipercaya
  • Menjaga kesehatan, krn kesehatan adl kunci dr keseimbangan di kedua peran itu, kalau kita kelelahan atu krg sehat maka bs sj itu membuat kt mlkkn kslhn
  • Menggunakan waktu dg bijak dan mencoba “here and now”, saat sdg menjalankan peran di rumah dg menemani anak2 hindari mengerjakan pekerjaan lain… saat hrs kerja hindari mengerjakan hal2 yg krg penting.
  • Melibatkan Yang Kuasa untuk menguatkan diri kita bahwa akan ada yg menjaga kita dan keluarga kita…

Nah demikian sedikit obrolan tentang work-family balance…

Advertisements

Sepanggung Bareng Idol

17303_10152881001858510_8738080064683535623_n

Kemarin Sabtu, 11 April 2015 saya diundang oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Geodesi Undip untuk menyampaikan salah satu materi di Workshop Softskill 2015. Sebenarnya menyampaikan materi di acara serupa sudah sering saya lakukan di beberapa kegiatan serupa yang diselenggarakan mahasiswa dari beberapa jurusan yang ada di Undip. Tapi kali ini ada satu yang spesial, boleh dibilang spesial pake telor 😀

Panitia acara ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari menghubungi saya, tapi baru mengirimkan undangan resmi dan TOR acara yang fix sehari sebelumnya. Yuuuk yaaak yuuuk, mendadak dangdut ya… tapi ya sutralah… katanya kan pendekar yang hebat siap berperang kapan saja *ya kali saya pendekar.. hahaha*. Pas dapat TOR yang baru itu, saya baca ada perubahan acara, tadinya pembicara hanya dua, sekarang berubah jadi tiga! Jadwal saya jadi maju satu jam. Yang paling menarik adalah….. pembicara ketiga adalah I Made Andi Arsana, Ph.D, dosen teknik geodesi UGM.

Kenapa menarik? ya pak Andi ini termasuk popular person pada orang-orang yang berburu beasiswa kuliah di luar negeri, terutama Australia. Saya juga sudah lama follow twitter beliau, baca-baca artikel di blog nya, dan mendownload langkah-langkah mengisi aplikasi beasiswa AAS yang diberikan beliau. Jangan tanya ya akhirnya saya sudah mengirim aplikasi beasiswa AAS atau belum… 😛

Oke balik lagi ceritanyaaaa… Jadi, pas saya masuk ke ruangan workshop, pembicara pertama, mbak Endang Purwati, ST yang bekerja di Badan Informasi Geospasial sedang memaparkan materinya, beliau ini adalah alumni dari Teknik Geodesi UNDIP. Materinya menarik, cara menyampaikannya juga penuh semangat, ada banyak informasi baru yang saya dapatkan. Setelah sesi pertama, masuklah sesi kedua, sesi dimana saya menyampaikan materi……………………………………………………………………………..

Nah, di tengah materi yang saya sampaikan, Pak Andi sampai ke ruangan. Woooow saya bisa ketemu juga akhirnya. Singkat cerita, saya yang tadinya berencana langsung pulang setelah materi saya selesai, akhirnya bertahan duduk lebih lama, karena ingin mendengarkan materi pak Andi tentang Global Surveyor. Meski saya psikolog, dan nggak ngerti tentang Teknik Geodesi, materi pak Andi dengan mudah dicerna karena disampaikan dengan sangat menarik, dan sangat memotivasi. Di akhir, pak Andi menambahkan presentasi tentang beasiswa AAS.

Meski hanya sebentar, rasanya motivasi saya menjadi meningkat, mimpi yang saya lupakan perlahan bangkit kembali.

Sepanggung bareng idol benar-benar membuat saya menjadi lebih bersemangat……

10411062_10152881007993510_3332490693174570837_n

I/O Psychologist? Yes I am!

IO psychologist

 

I/O Psychology is one of field in Psychology that applied into workplace. Experts in I/O psychology called I/O psychologist. They concerned to applying psychology to the workforce to improve employee attitude and behavior and help to earn the organization’s effectiveness. For me, knowledge about I/O psychology is very interesting, because industry without employee is impossible, so how to attract, retain, and maximizing potency of employee is important.

My journey to learn about I/O psychology begin from undergraduate, but I began to fall in love with this subject after I graduated from Faculty Psychology Gadjah Mada University and work for a national company which has a manufacture & retail business of apparel. Then I continued my study into master programme and professional program at the same university. Actually being an I/O psychologist is not only scientist but also practitioner in the same time. I ever work in national mining company when I doing an internship for the professional psychologist, and it’s a valuable experience for my career now. Being lecturer is my current job. Sharing knowledge and experience is a enjoyable activity. But, sometime i found the student who still confuse with their research theme.

Through this blog, I’ll share about several issue in I/O psychology. If you still confuse with theme for your “skripsi”, maybe you must read this first. Here I write about several theme in I/O psychology that i read from European Association of Work and Organizational Psychology. 

Actually in I/O Psychology we can spread into two branch, i.e. Industrial psychology and Organiational psychology. Industrial psychology is concerned with molecular issue while Organizational Psychology takes a molar approach. This table will describe it:

I O psych table

From this table we can see that many branches studied in I/O Psychology, so you can choose a theme for your thesis for those table. If you want a specific theme, maybe this site is recomended for you. Happy writing!

credits:

Picture, table and information gathering from :

http://www1.appstate.edu/~huelsman/What_is_IO_Psych.html

http://www.eawop2015.org/Submission-Registration/Topics-of-Submission

http://www.aventis.edu.sg/blog/?tag=industrial-organizational-psychology

 

Globalisasi di Depan Mata

Beberapa hari lalu saya dapat sebuah Job Alert dari sebuah “web recruitment solution”, 77 Jobs matching… waw banyak banget, karena penasaran akhirnya saya buka email itu. Lihat sekilas di urutan paling atas pekerjaan Staf Pengajar/Dosen, salary 10.000.000 – 16.000.000 WOW… Angka yang fantastis menurut saya, meski tawaran itu untuk di Jakarta. Awalnya saya gak terlalu ambil pusing, malah buat lucu-lucan saya capture dan saya jadikan Profile Picture di BBM. Nah, karena saya pasang di BBM itulah akhirnya banyak teman-teman yang bertanya, dari yang bertanya dengan nada bercanda sampai serius banget. Akhirnya saya jadi ikutan penasaran, saya buka juga akhirnya halaman iklan sesungguhnya, dan betapa terkejutnya saya karena ternyata iklan itu dibuat oleh sebuah universitas dari Amerika yang mau buka kampus baru di Jakarta! What? Ya, dari Amerika, ya, buka di Jakarta, Indonesia… Ya, selain kompensasi yang Wow, benefitnya juga lengkap, mulai dari medical allowance, house allowance, dan lain sebagainya……..

Mulailah saya berpikir agak serius, waduh kalo begini ceritanya gimana nasib Perguruan Tinggi dalam negeri? Apakah akan sepi peminat? Apakah bisa bersaing? Apakah sudah siap berubah? Segudang pertanyaan berkecamuk di pikiran saya…. Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa globalisasi yang sesungguhnya memang sudah hampir datang… atau bahkan pelan-pelan sudah datang. Dimana akan ada masa yang namanya perdagangan bebas, sesuatu yang telah didengungkan lebih dari satu dekade lalu… Perdagangan bebas rupanya tak melulu komoditi fisik, Sumber Daya Manusia rupanya juga jadi salah satu komoditi….

Lalu saya mulai buka mata dan telinga lebar-lebar, oh ya sudah ada sekolah internasional. oh ya sudah banyak pabrik milik orang asing di Indonesia, oh ya sudah banyak expatriate di Indonesia, dan telah banyak orang Indonesia yang jadi TKI ke luar negeri.

Fenomena menjadi tenaga kerja di luar negeri sudah bukan menjadi barang baru, sepertinya ada sebuah kebanggaan kalau bisa jadi TKI begitu kesan saya. Kebetulan saya beberapa kali menjadi trainer untuk persiapan bagi TKI sebelum berangkat ke luar negeri, saya juga pernah melakukan penelitian pada CTKI wanita.. optimisme mereka tinggi… harapan mereka besar… namun demikian tak semuanya siap. Rata-rata mereka pergi karena terdesak faktor ekonomi, kemiskinan memaksa mereka menggantungkan cita-cita setinggi langit, berharap pulang membawa dollar dan memperbaiki hidup.

Di sisi lain, kaum terdidik di Indonesia juga ramai-ramai berburu beasiswa ke luar negeri, berburu kualitas pendidikan yang katanya lebih baik daripada di Ibu Pertiwi. Mungkin saya juga menjadi bagian dari hiruk pikuk itu…

Intinya sama saja, semua ingin melihat kehidupan di luar negeri, semua berharap kehidupan membaik kelak sepulang dari luar negeri. Apakah ini ciri bahwa kita masih kelas dua? karena luar negeri masih dianggap kelas satu? entahlah….

Yang jelas, siap nggak siap kita akan berjumpa dengan lebih banyak orang asing yang datang ke negeri kita…. semoga kita semua siap hadapi keadaan ini, dan tetap jadikan Ibu Pertiwi tanah tumpah darah nan mulia. Indonesia Raya!

Apakah Pendidikan Hanya Memberi Janji?

Kemarin siang dalam perjalanan pulang dari melakukan kegiatan gemba, saya ngobrol dengan tiga orang teman. Pembicaraannya awalnya hanya ngalor ngidul, khas pembicaraan ibu-ibu di tengah rinai hujan. Namun akhirnya sampailah kami dalam obrolan yang cukup serius, tentang pendidikan Indonesia! Awalnya seorang teman melihat adanya spanduk di depan pool sebuah taksi ternama di kota Atlas bahwa dibutuhkan kandidat yang mau bekerja sebagai sopir taksi, kami mulai ngopbrolin bahwa banyak sekali perusahaan yang memasang iklan lowongan pekerjaan dimana-mana. Bukan saja spanduk yang baru saja kami lihat tadi, namun kalau kita baca koran di hari sabtu – minggu, pasti ditemukan banyak sekali lowongan pekerjaan. Namun kami juga tak kalah heran bahwa pengangguran masih banyak sekali di negeri ini. Kami berempat kebetulan sering diminta bantuan untuk melakukan rekrutmen di beberapa perusahaan, dan ternyata mereka seringkali mengeluh bahwa cari kandidat yang pas itu susah banget. Bagaimmana bisa ya, pengangguran sedemikian banyak, namun rekruter sulit mendapatkan kandidat. Bagaimana bisa juga lowongan sedemikian banyak, namun susah sekali dapat kerja? Ironi ya?

Lalu seorang teman nyeletuk, apa pendidikan kita terlalu banyak memberi mimpi ya? bahwa kalau sekolah nanti dapat kerja bagus, kantoran dan sebagainya.. Padahal dalam kehidupan nyata, banyak pekerjaan yang jarang dicita-citakan anak-anak kita. Apa ada yang bercita-cita jadi sopir? *merujuk iklan lowongan jadi sopir*.

Apa yang salah ya????

Prepare to interview #seri_karir5

interview
Persiapkan diri dengan baik. Jangan terlihat gugup pada saat berlangsungnya interview, pastikan bahwa Anda menjawab dengan apa adanya diri Anda, tapi juga jangan terlalu jujur. Pilihlah hal yang tidak harus Anda ceritakan didepan interviewer yang justru hal tersebut membuat penilaian negatif terhadap diri Anda.
Percaya diri adalah kunci jawaban Anda meyakinkan interviewer. “PD is number one”. Jadikan itu sebagai slogan Anda ketika dalam proses wawancara. Jangan menjawab dengan menunduk atau bahakan bola mata terlihat kemana – mana, tidak fokus kepada interviewer. Karena hal ini menunjukkan bahwa Anda tidak percaya diri dan tidak yakin dengan jawaban Anda sendiri.
Be Your Self. Jadilah apa adanya diri Anda, tidak dibuat – buat meniru gaya orang lain. Punya prinsip hidup, punya planning hidup dan cara bicara yang lugas dan jelas termasuk salah satu penilaiannya. Senyumlah pada saat Anda di interview, itu menandakan bahwa Anda ramah.
Buatlah catatan tentang kemahiran anda, hal yang anda sukai & ingin anda lakukan untuk masa depan. Hal ini tentu akan menambah “nilai jual Anda”. Karena ini berkaitan dengan visi dan misi hidup Anda. Temukan hal menarik untuk dikemukakan yang ada pada diri Anda. Tapi jangan terlalu berlebihan dan malah terkesan dibuat – buat, ungkapkan hal yang memang Anda pernah lakukan, dan kemas dengan gaya bahasa yang santun dan semenarik mungkin. Jangan terlalu cerewet dalam menjawab pertanyaaan. Perlihatkan bahwa Anda sosok orang yang pekerja keras dan antusiasme kerja yang tinggi. Bersikap sopan lah di depan interviewer, karena semua gelagat tubuh Anda pada saat itu akan dinilai oleh interviewer.
Tampilan diri rapi dan tidak berlebihan. Berpakaianlah yang rapi dan sopan. Bermake-uplah sewajarnya (bagi yang perempuan), dan pastikan Anda tidak bau badan. Penampilan pertama akan selalu terkesan dan teringat dibenak interviewer dan ini akan menentukan apakah Anda lanjut ditahap berikutnya atau tidak. Maka berpenampilanlah yang menarik dan sopan yang membuat Anda layak untuk maju ke tahap berikutnya.