Rasanya Seperti Mimpi

Awal bulan April lalu, saya mendapat sebuah kejutan manis yang membuat perasaan saya bergejolak. Ada rasa senang, bingung, antara percaya nggak percaya, tapi saya yakin ini adalah jawaban dari doa-doa saya. Seringkali saya berdoa kepada Nya untuk diberikan rezeki yang melimpah, mungkin itu adalah rezeki yang dimaksud. Ya, Saya Positif Hamil Anak Kedua!

Yang paling bergembira dari berita ini adalah Fia, anak pertama saya. Dia beberapa bulan terakhir mengatakan kalau ingin sekali punya adik. Permainannya sehari hari juga selalu menyebut tentang adik. Melihat anak tetangga yang masih bayi, dia menjadi sangat gemas. Dan puncaknya, dia selalu mengatakan pada saya kalau “perut Ibu gendut, di dalamnya ada adiknya”

Saya hanya senyum-senyum saja kalau Fia bilang begitu, saya juga tidak berpikir apapun ketika suatu hari sepulang menunggui mahasiswa praktikum, saya dengan kalapnya beli rujak di dekat kampus, dan menghabiskan rujak itu sendirian! *ini doyan apa ngidam?*

Sampai suatu hari saya akhirnya memutuskan membeli test pack, karena tamu bulanan tak kunjung datang. Ternyata garis merahnya ada dua! WOW! Berarti saya memang benar-benar hamil. Untuk memastikannya, dua hari kemudian saya pergi ke dokter kandungan yang paling dekat dengan rumah, dr. Kartika Peranawengrum, SPOG. Setelah dilakukan USG ternyata saya dinyatakan hamil 5 minggu, letak kehamilannya di tempat yang tepat, namun baru kantongnya saja yang terlihat. Dokter meresepkan vitamin dan asam folat untuk saya, dan meminta saya datang kembali 3 minggu lagi.

Waktu hamil pertama dulu, sewaktu pemeriksaan pertama saya juga mengalami hal yang sama, baru terlihat kantong kehamilannya. Jadi saya tidak risau akan hal tersebut. Saya mulai bercerita kepada Fia, suami juga eyangnya Fia kalau Fia insyaAllah mau punya adik. Fia sangat senang sekali, dia bercerita kepada semua orang, guru-guru di playgroup dan juga ibu-ibu tetangga.

Alhamdulillah kondisi saya sehat dan baik-baik saja, tidak merasa mual ataupun muntah. Aktivitas tengah semester sedang padat-padatnya dan bisa saya jalani dengan baik. Sampai suatu pagi di hari Rabu tanggal 22 April 2015, saya terbangun dan merasa kalau saya mengeluarkan cairan seperti mengompol. Saya ke kamar mandi dan saya lihat ternyata cairan itu berwarna merah, ya seperti darah.

Saya tertegun dan mulai deg-degan, saya ini kenapa ya, saya hamil kok malah seperti menstruasi begini. Saya coba ingat kembali memori saya saat hamil Fia dulu, pernah saya flek keluar darah tapi tidak sebanyak ini, sedikit. Dengan perasaan galau saya mencoba BBM ke Lina, sahabat saya yang berprofesi sebagai seorang dokter, dan menceritakan apa yang saya alami. Dia menyarankan untuk segera periksa ke SPOG dan jangan menunda. Saya juga BBM ke kakak sepupu saya, sarannya sama. Akhirnya pagi itu saya mencoba mencari jadwal praktek dokter kandungan yang buka paling pagi. Sementara Fia tiba-tiba menjadi sangat rewel dan tidak mau berangkat ke playgroup. Oh ya, suami saya waktu itu sedang di Bandung.

Dari beberapa penelusuran, praktek dokter kandungan terpagi di hari itu adalah jam 8 pagi, saya menelfon ke 3 Rumah Sakit dan mendapati dokter yang ada di RS. Hermina Pandanaran. Disana saya menunggu antrian untuk bisa diperiksa dr. Widi Fatmawati, SPOG. Sebelum mengantri, saya diukur berat badan dan tekanan darah oleh perawat. Perawat menanyakan keluhan apa yang saya rasakan, setelah saya ceritakan, perawat itu menyampaikan “bu, kalau pendarahannya semakin banyak, ibu kesini ya bu, soalnya dr. Widi sedang membantu persalinan”. 

Saya menunggu dengan perasaan yang galau luar biasa, apa sebenarnya yang terjadi pada saya… Saya belum sampaikan kepada teman-teman di kampus tentang hal yang saya alami, saya cuma bilang kalau kurang enak badan dan sedang periksa ke dokter. Janji bimbingan dengan mahasiswa juga saya batalkan. Padahal hari itu saya dan 4 orang teman saya di kampus mengadakan tasyakuran kecil-kecilan karena saya dan teman-teman baru saja menerima Sertifikat Pendidik (Sertifikasi Dosen).

Masuk ke ruang praktek dr. Widi, beliau menyambut dengan ramah, dokternya masih muda, cantik dan fresh. Saya menceritakan apa yang terjadi pada diri saya pagi hari itu, ekspresi wajah dokternya berubah. Lalu dokter melakukan USG, ya ini Ibu hamil, tetapi saya harus melakukan USG transvaginal bu. Ouch… ngebayangin harus di USG transvaginal membuat saya grogi, sampai saya minta izin untuk ke kamar mandi dulu untuk pipis. Saya bayangkan prosesnya akan sakit, tapi ternyata tidak. Waktu itu darah masih keluar cukup banyak.

Dokter memastikan kembali kapan menstruasi terakhir saya, kemudian menanyakan hasil USG ketika saya pertama kali memeriksakan kandungan sebelumnya. Dengan hati-hati dokter menyampaikan kalau kehamilan saya, janinnya tidak berkembang. Ukuran dari 2 minggu lalu dengan saat saya periksa cenderung sama. Perdarahan yang terjadi pada saya juga mengindikasikan Missed Abortion. Sehingga harus dilakukan tindakan kuret. Jika terlalu lama bisa mengakibatkan infeksi.

Saya mencoba menerima penjelasan dokter dengan logika, dan sesedikit mungkin melibatkan perasaan. Saya bertanya tentang teknis kuret dan apa yang harus saya lakukan. Dokter tidak memaksa untuk dilakukan saat itu juga, namun dokter membekali dengan surat rujukan untuk dilakukan tindakan kuret. Siang itu, saya akhirnya tetap ke kampus, saya ceritakan kondisi saya kepada beberapa teman. Saya bahkan sempat mengajar juga. Dari diskusi dengan teman dan saudara, saya disarankan untuk mencari second opinion.

Malamnya, saya ajak Fia untuk pergi ke dokter kandungan lagi. Kali ini saya mengunjungi dr. Kartika SPOG kembali, asumsi saya, beliau yang pertama kali memeriksa saya, sehingga ada record untuk ukuran kehamilan saya. Saya ceritakan kepada dokter apa yang terjadi, dokter juga melakukan USG pada saya, dan membandingkan dengan USG terdahulu yang tersimpan di computer. Fia melihat dengan seksama, dan ikut menyimak penjelaskan dokter dengan serius. Dokter menyampaikan bahwa hanya ada kantong di kehamilan saya, indikasinya adalah Blighted Ovum. Dan sarannya juga sama, yaitu kuret.

Saya masih ingin menunggu suami saya datang ke Semarang, tapi keesokan harinya perut saya mulai terasa sakit dan mulas mulas. Perdarahan juga semakin banyak. Akhirnya siang hari saya ke RS Hermina Banyumanik untuk melakukan observasi. Saat diperiksa bidan disana, katanya sudah ada pembukaan jalan lahir. Saya mulai diminta untuk berpuasa hingga 6 jam ke depan. dr. Widi akan datang kurang lebih pukul 17.30.

Prosedur pra operasi *saya baru tau kalo proses kuret itu harus dilakukan di ruang operasi dan akan dibius total* mengharuskan saya berpuasa dan menjalani serangkaian tes, dari tes darah hingga tes alergi. Di ruang operasi, dokter anastesi menanyakan nama panggilan saya dan mulai menyuntikkan sesuatu di infus saya. Dan perlahan namun pasti kesadaran saya hilang, saya tidur dan tidak merasakan apapun sampai nama saya dipanggil kembali. Ternyata saat itu saya sudah ada di ruang pemulihan. Alhamdulillah semua berjalan lancar, jam 22.00 saya bisa kembali ke rumah.

Rasanya benar-benar seperti mimpi, kejutan-kejutan datang silih berganti dalam hidupku.

2 thoughts on “Rasanya Seperti Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s