Rumah Sakit penuhnya bagaikan Hotel (part 1)

Siapa yang pengen menghabiskan hari liburnya di hotel? pasti banyak yaaa… apalagi kalau gratis… Jadi ga heran kalo tingkat hunian hotel itu meningkat dan penuh. Tapi siapa yang mau menghabiskan hari-hari nya di Rumah Sakit? Saya YAKIN pasti gak ada yang mau ya… Semua pasti kepengen sehat wal afiat, ya kan?????

Yeah, tapi faktanya yang namanya Rumah Sakit itu pada penuh semua sekarang ini, paling tidak ini pengalaman saya di Semarang. Jadi ceritanya awal tahun kemaren, di bulan Januari yang dingin dan basah *karena tiap hari banyak hujan*, Eyangnya Fia disarankan dokter untuk dirawat di Rumah Sakit karena kondisinya yang memburuk.

Rumah Sakit tujuan pertama adalah RS. Roemani karena selama ini Eyang kontrol di Poli Spesialis dengan dr. Dwi Bambang Sp.P disana. Kita yang nganterin sudah optimis bakalan dapat ruangan dan eyang bisa segera sehat kembali, tapi ternyata semua tak semudah itu. Baru sampai di bagian pendaftaran sudah ditanyakan macam-macam…

A (petugas administrasi) : Mau pakai BPJS atau umum?

S (saya) : BPJS mbak

A : Kartu periksanya ada? Sekalian sama fotokopi KTP, fotokopi kartu BPJS, sama rujukan dokter keluarga

S : *galau mendadak*

E (Eyang) : *nyodorin semua syarat dari dalam amplop yang penuh dengan segala syarat itu*

S : *kaget n speechless karena eyang udah persiapan*

Singkat cerita, karena ruangan kelas I ataupun VIP penuh, akhirnya Eyang sementara masuk ke kelas 3 dulu. Tapi saya tetap berusaha untuk bisa minta pindah dari kelas 3 ke kelas 1 sesuai dengan coverage BPJS, dan akhirnya bisa terkabul juga. Disana Eyang ditangani oleh dokter spesialis paru dan dokter spesialis penyakit dalam, karena memang Eyang mengalami masalah kesehatan di paru dan ada riwayat diabetes melitus.

Cerita ternyata gak berhenti sampai disitu, karena untuk mendukung diagnosa dokter dibutuhkan pemeriksaan yang namanya Broncoscopy, dimana di RS. Roemani gak ada sehingga harus dilakukan di RS lain. Pilihannya ada dua, yaitu di RS. Telogorejo dan di RSUP. dr Kariadi. Kalau yang bisa cepat dilakukan di RS.Telogorejo, tapi disana ga bisa dicover BPJS. Sementara kalau mau di RSUP. dr Kariadi bisa free tapi harus pindah RS. Okelah akhirnya saya coba cari info ke Pusat Rawat Inap disana..

S : Mbak mau booking kamar untuk pasien

A : Kelas berapa mbak?

S : Kelas 1

A : Antriannya sudah mencapai 800 pengantri bu

S : *langsung lemes dan pusing pala barbie*

Karena kondisi Eyang sudah lebih baik dan batas waktu rawat dengan BPJS sudah berakhir (kurang lebih 5 hari), kami meminta untuk broncoscopy tetap dilakukan di RS Kariadi tapi setelah kami pulang dulu saja. Kami meminta surat rujukan dari dokter dari RS. Roemani (Tipe C) ke RS. Kariadi (Tipe A). Saat mau pulang dari RS, seperti biasa kami harus mengurus administrasi, saya jalan ke kasir dan kagetnya saat di kasir saya tidak harus bayar sedikitpun, karena semua biaya rawat inap, obat, CT Scan, perawatan medis lain-lain di cover oleh BPJS.

One thought on “Rumah Sakit penuhnya bagaikan Hotel (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s