Bronchoscopy (part 2)

Cerita tentang kondisi kesehatan eyang (Bapak saya) di sini  masih berlanjut, tatkala suatu malam saat saya cuma berdua di rumah sama Fia dan saya udah mulai merem, ada telepon… Awalnya pengen gak diangkat karena ngantuk bingits. Tapi telepon gak berhenti-henti dan ternyata dari Eyang Har, sambil setengah nangis Eyang Har menyampaikan kalau Eyang No *eyang kakungnya Fia* batuk dan mengeluarkan darah banyak sekali… Oke langsung capcusss ke rumah eyang, Fia yang lagi bobok langsung saya bangunkan dan saya gendong sambil naik motor. Untung rumah kami hanya berbeda RT jadi cepat sampai, disana sudah berkumpul tetangga-tetangga eyang. Karena panik dan ingin cepat akhirnya kami bawa eyang No ke RS Hermina Banyumanik yang dekat dengan rumah. Disana Alhamdulillah ada dokter jaga yang sigap menghentikan pendarahannya Eyang. Dokter memperbolehkan pulang sebenarnya malam itu, tapi karena kami khawatir akhirnya eyang dirawat disana. Jadilah kami bermalam disana menemani eyang. Oh ya satu yang unik, ketika minta dirawat di kelas 1 jawabnya adalah penuh, kelas 2 juga penuh, akhirnya yang ada di VIP, dan di RS itu belum bekerjasama dengan BPJS jadi kami harus menanggung sendiri. Tapi so far, pelayanan di RS Hermina Banyumanik itu baik banget, RS nya bersih, perawat dan dokternya ramah.

Besoknya, kondisi sudah gak pendarahan lagi, tapi saya berpikir bahwa PR dari dokter di RS Roemani sebelumnya harus diselesaikan segera nih, Bronchoscopy. Awalnya saya ingin langsung minta rujukan dari RS Hermina Banyumanik ke RS Kariadi, tapi karena satu dan lain hal agak sulit dan belum bisa dikabulkan pagi itu. Saya terus berusaha browsing, dari 2 dokter yang disarankan dr.Dwi Bambang Sp.P sebelumnya, ada 1 dokter yang hari itu praktek di Paviliun Garuda RS Kariadi, dr. Avicenna Dutha P Sp.P namanya. Okelah capcusss saya ke RS Kariadi, sementara eyang masih di RS Hermina.

Setelah daftar di pendaftaran rawat jalan paviliun Garuda *kali ini bisa pake BPJS karena ini RS milik Pemerintah*, tik tok tik tok… nunggu hampir 2 jam akhirnya dipanggil juga. Pas masuk, dokternya tanya siapa yang sakit, dan beliau meminta maaf karena harus menunggu lama. Saya ceritakan kondisi Bapak, saya tunjukkan rujukan dari Roemani, saya tunjukkan juga hasil rekam medis selama ini, segepok hasil CT Scan, biopsi, pemeriksaan lab selama hampir 2 tahun saya bawa semua deh. Dokternya baik, ramah dan sangat komunikatif sekali jadi saya dijelaskan prediksi apa yang terjadi, pake acara digambarkan segala lo, kaya dosen ngajarin mahasiswanya deh. Jadi prediksi dari dokter di RS Roemani adalah BE atau Bronchiectasis.

Singkat cerita, akhirnya Eyang bisa dirawat di Paviliun Garuda RS dr Kariadi. Oh ya, pas ketemu dr.Avicenna Sp.P saya sudah minta rekomendasi untuk bisa rawat inap, jadi pas sore hari eyang dibawa ke emergency Pav.Garuda lebih mudah diterima, yeaaa walopun sebelumnya ada drama dulu lah, biasaaaaa… Hihihihihiihihi….

bronchoscopy

Nah gambar itu menggambarkan gimana proses Bronchoscopy dilakukan oleh dokter paru. Bronkoskopi adalah tindakan medis yang bertujuan untuk melakukan visualisasi trakea dan bronkus , melalui bronkoskop, yang berfungsi dalam prosedur diagnostik dan terapi penyakit paru (Wikipedia). Prosesnya memakan waktu total 2 jam dan keluarga pasien hanya bisa menunggu di luar ruang bedah. 2 jam itu sudah meliputi waktu persiapan, dan anastesi. Selain melihat kondisi paru, dokter juga mengambil sedikit contoh untuk diteliti di laboratorium. Dokter cerita kalo pada proses itu dokter juga menyikat dan membilas paru-parunya eyang *jangan dibayangkan kaya nyikat baju ya*.

Overall, kami merasa puas dengan pelayanan di paviliun Garuda RS dr Kariadi Semarang. Sekarang eyang hanya berobat jalan saja sebulan sekali, namun setiap hari eyang harus menyuntik insulin sebelum makan. Selain kontrol ke dokter spesialis paru, eyang juga kontrol ke dokter internist untuk mengontrol gula darahnya.

Oh ya karena RS pemerintah, ngurus BPJS di RSDK relatif lebih mudah. Karena kalau dirawat sesuai kelasnya ngantrinya puanjang bingit, akhirnya saya putuskan eyang naik kelas ke VIP, konsekuensinya kami harus bayar selisihnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s