Berkenalan dan Belajar Aplikasi Model Rasch untuk Penelitian (Jilid 2)

rasch

Pelatihan Aplikasi Model Rasch yang diadakan di Psikologi Undip diadakan dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore, dengan break makan siang. Sebenarnya itu kurang ideal, karena idealnya pelatihan dilaksanakan selama 2 hari, tapi tak apalah ibarat makan makanan ini adalah episode “icip-icip” dulu. Saya merasa bahwa penyampaian materi mudah dipahami dan cukup memancing rasa ingin tahu. Beberapa kali ada audiens yang mendebat, tetapi bisa dijelaskan dengan baik oleh trainer. Beberapa senior di kampus nampak tertarik, ada yang nampak sulit menerima (saya baca dari wajahnya, hehehe maaf ya interpretatif) tapi ada yang antusias sampai maju ke depan dan ikut menulis di papan tulis untuk menyampaikan maksudnya. Sewaktu ishoma beberapa masih ada yang nampak belum mendapat “clue” dan bertanya-tanya apa itu LOGIT? Namun setelah sesi siang mencoba software winstep, nampak lebih terang benderang.

Jadi apa itu sebenarnya Rasch?

Pemodelan Rasch diperkenalkan oleh Georg Rasch (1960 an), merupakan salah satu model Item Response Theory (IRT) paling populer. Kalau sebelumnya Anda pernah belajar psikometri mungkin sudah kenal dengan konsep Teori Tes Klasik (CTT) dan IRT. Nah selama ini yang banyak kita gunakan dalam pengukuran lebih didominasi oleh Teori Tes Klasik. Padahal ada beberapa keterbatasan dari teori tes klasik ini. Teori skor klasik digagas Charles Spearman (1904), asumsi dasarnya menyebutkan bahwa skor mentah merupakan skor murni ditambah error. Dari skor mentah inilah berbagai analisis dan interpretasi bisa dihasilkan sesuai kepentingan studi yang dilakukan.

Kegunaan utama dari CTT adalah untuk mendapatkan skor mentah dari satu ujian atau satu pendapat tentang sesuatu atau satu kecenderungan ttg suatu hal, yang menunjukkan kemampuan atau kecenderungan seseorang. Dari skor mentah ini maka berbagai analisis dan interpretasi bisa dihasilkan sesuai dengan keperluan studi yang dilakukan, diantaranya mendapatkan statistik deskriptif, tingkat kesulitan aitem, daya diskriminasi aitem, korelasi aitem dengan total, dan pembobotan aitem.

Bila CTT berfokus pada skor hasil yang didapat, IRT tidak tergantung pada sampel aitem tertentu atau orang yang dipilih dalam suatu ujian (item free and person free). Pola ini menyebabkan pengukuran yang dilakukan lebih tepat dan butir aitem pun dilakukan kalibrasi. Pemodelan pengukuran Rasch adalah satu cara untuk membuat mengukur sesuatu menjadi lebih berarti. Maksudnya adalah berusaha memberikan pengukuran yang objektif, mendekati pengukuran di ilmu alam.

Untuk menghasilkan temuan dari suatu riset, suatu pengukuran hendaknya memenuhi syarat bahwa: 1). memberikan ukuran yang linier, 2). mengatasi data yang hilang, 3). membrikan estimati yang tepat, 4). menemukan yang tidak tepat (misfits) atau tidak umum (outliers), 5). memberikan instrumen pengukuran yang independen dari parameter yang diteliti. Dan syarat-syarat tersebut dapat dipenuhi oleh pemodelan pengukuran Rasch.

Nah ini penjelasan yang amat singkat tentang Rasch, jika ada waktu untuk langsung mencobakan dengan software maka akan jauh lebih mudah dipahami. Akan saya lanjutkan cerita ini besok-besok ya…. Saya juga masiih belajar….

Sources :

http://rasch.org/

http://deceng3.wordpress.com

Related post :

http://psikologi.undip.ac.id/?id=226

3 thoughts on “Berkenalan dan Belajar Aplikasi Model Rasch untuk Penelitian (Jilid 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s