Globalisasi di Depan Mata

Beberapa hari lalu saya dapat sebuah Job Alert dari sebuah “web recruitment solution”, 77 Jobs matching… waw banyak banget, karena penasaran akhirnya saya buka email itu. Lihat sekilas di urutan paling atas pekerjaan Staf Pengajar/Dosen, salary 10.000.000 – 16.000.000 WOW… Angka yang fantastis menurut saya, meski tawaran itu untuk di Jakarta. Awalnya saya gak terlalu ambil pusing, malah buat lucu-lucan saya capture dan saya jadikan Profile Picture di BBM. Nah, karena saya pasang di BBM itulah akhirnya banyak teman-teman yang bertanya, dari yang bertanya dengan nada bercanda sampai serius banget. Akhirnya saya jadi ikutan penasaran, saya buka juga akhirnya halaman iklan sesungguhnya, dan betapa terkejutnya saya karena ternyata iklan itu dibuat oleh sebuah universitas dari Amerika yang mau buka kampus baru di Jakarta! What? Ya, dari Amerika, ya, buka di Jakarta, Indonesia… Ya, selain kompensasi yang Wow, benefitnya juga lengkap, mulai dari medical allowance, house allowance, dan lain sebagainya……..

Mulailah saya berpikir agak serius, waduh kalo begini ceritanya gimana nasib Perguruan Tinggi dalam negeri? Apakah akan sepi peminat? Apakah bisa bersaing? Apakah sudah siap berubah? Segudang pertanyaan berkecamuk di pikiran saya…. Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa globalisasi yang sesungguhnya memang sudah hampir datang… atau bahkan pelan-pelan sudah datang. Dimana akan ada masa yang namanya perdagangan bebas, sesuatu yang telah didengungkan lebih dari satu dekade lalu… Perdagangan bebas rupanya tak melulu komoditi fisik, Sumber Daya Manusia rupanya juga jadi salah satu komoditi….

Lalu saya mulai buka mata dan telinga lebar-lebar, oh ya sudah ada sekolah internasional. oh ya sudah banyak pabrik milik orang asing di Indonesia, oh ya sudah banyak expatriate di Indonesia, dan telah banyak orang Indonesia yang jadi TKI ke luar negeri.

Fenomena menjadi tenaga kerja di luar negeri sudah bukan menjadi barang baru, sepertinya ada sebuah kebanggaan kalau bisa jadi TKI begitu kesan saya. Kebetulan saya beberapa kali menjadi trainer untuk persiapan bagi TKI sebelum berangkat ke luar negeri, saya juga pernah melakukan penelitian pada CTKI wanita.. optimisme mereka tinggi… harapan mereka besar… namun demikian tak semuanya siap. Rata-rata mereka pergi karena terdesak faktor ekonomi, kemiskinan memaksa mereka menggantungkan cita-cita setinggi langit, berharap pulang membawa dollar dan memperbaiki hidup.

Di sisi lain, kaum terdidik di Indonesia juga ramai-ramai berburu beasiswa ke luar negeri, berburu kualitas pendidikan yang katanya lebih baik daripada di Ibu Pertiwi. Mungkin saya juga menjadi bagian dari hiruk pikuk itu…

Intinya sama saja, semua ingin melihat kehidupan di luar negeri, semua berharap kehidupan membaik kelak sepulang dari luar negeri. Apakah ini ciri bahwa kita masih kelas dua? karena luar negeri masih dianggap kelas satu? entahlah….

Yang jelas, siap nggak siap kita akan berjumpa dengan lebih banyak orang asing yang datang ke negeri kita…. semoga kita semua siap hadapi keadaan ini, dan tetap jadikan Ibu Pertiwi tanah tumpah darah nan mulia. Indonesia Raya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s