“Menikmati” Transportasi Publik

Seminggu lalu, saya pergi ke Temanggung tepatnya ke Kecamatan Kaloran untuk menjalankan sebuah tugas negara sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ini merupakan kunjungan saya yang kelima kesana, tapi menjadi kunjungan pertama menggunakan transportasi publik, alias bus umum.

Saya sudah menyadari konsekuensi bahwa dengan naik bus umum, saya tidak bisa potong jalan lewat jalur alternatif seperti biasanya, yah saya nikmati sajalah, hitung-hitung jalan-jalan. Dari sukun saya menumpang bis patas menuju yogyakarta, dan saya turun di daerah secang. Menumpang bus patas memang nyaman, bahkan saya sempat tertidur dalam satu jam perjalanan ke secang. Dari secang saya melanjutkan perjalanan dengan minibus menuju kota Temanggung. Sebenarnya saya tidak yakin harus turun dimana, tapi saya nekat untuk turun di pasar kota Temanggung. Karena tidak tau harus naik apa, saya bertanya pada seorang sopir angkot, bagaimana caranya saya jika ingin ke Kaloran.

Dari pasar Temanggung, saya masih harus dua kali naik angkutan umum, yang pertama dari pasar menuju daerah yang disebut kerkop. Awalnya saya celingak celinguk, kerkop itu saya pikir seperti makam zaman Belanda, tapi ternyata bukan, disana sepertinya adalah subterminal. Naaah, perjalanan saya agak terhambat karena angkot eh angkudes yang menuju Kaloran ngetemnya sampai hampir 1 jam, olala…. Tapi untunglah sampai juga saya ke posko KKN Kecamatan Kaloran. Disana sudah menunggu para pengurus KKN Kecamatan Kaloran. Setelah makan siang bersama, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor menuju desa desa tempat adik-adik melaksanakan KKN.

Dari kota kecamatan menuju desa-desa itu agaknya tidak ada transportasi publik, yang ada hanya ojek dan angkutan barang saat hari pasaran. Jalanan menuju desa desa itu ternyata cukup menantang, saya bahkan tidak membayangkan kalau harus melewatinya di malam hari, ah pasti gelap sekali. Jalannya cukup terjal, beberapa juga masih berupa makadam atau batu batu yang disusun. Cerita tentang situasi tempat KKN akan saya ceritakan di posting berikutnya.

Sepulang dari kunjungan ke empat desa, saya diantar ke terminal Temanggung, disana saya kembali menumpang minibus menuju secang. Berbeda dengan perjalanan saat berangkat, perjalanan pulang ini diiringi dengan guyuran hujan deras. Untung saja saya bisa mendapatkan tempat duduk, sehingga masih bisa menikmati perjalanan. Beberapa saat kemudian, bus melambat dan semua orang menengok ke arah kanan jalan. Ternyata di seberang jalan ada sebuah bus besar jurusan Semarang-Purwokerto yang terguling ke arah persawahan. Wah apa yang terjadi dengan penumpangnya tuh pikir saya. Saya tidak tau kronologinya seperti apa sampai bus itu bisa terguling ke kiri.

Sampai di Secang saya menunggu bus menuju ke Semarang, agak lama saya menunggu. Karena tidak ingin kemalaman sampai rumah, saya bertekad bis apapun yang datang duluan saya akan naik, gak peduli patas atau ekonomi yang penting sampai rumah dan ketemu Fia.🙂 Ternyata yang datang duluan adalah bus ekonomi, okelah saya naik, wah ternyata busnya cukup penuh sehingga saya harus berdiri. Wah ini berasa zaman putih abu abu nih, bergelantungan di bus. Mungkin karena hari Sabtu, rasanya banyak sekali penumpang yang ingin naik, padahal sudah penuh. Bahkan ada ibu-ibu membawa dua orang anak, dan yang satu masih seumuran Fia. Ibu itu mendapat tempat duduk di atas mesin yang tentu saja panas, tapi mungkin lumayan ketimbang berdiri sambil menggendong.

Bus melaju dengan pelan, sedikit membuat penumpangnya berlompatan dan harus berpegangan kencang saat tiba-tiba mengerem mendadak. Rasanya sore itu saya menikmati suasana yang sudah lama tidak saya rasakan. Hujan masih terus mengguyur, sehingga para penumpang menutup jendela-jendela, dan akibatnya udara terasa begitu panasnya…

Sampai di Semarang, suasana sudah gelap, ternyata dengan jarak yang sama, waktu tempuh saat saya pulang menjadi dua kali waktu tempuh saat saya berangkat.

Beberapa hal saya catat dalam perjalanan kemarin, terutama adalah buruknya kondisi transportasi publik (baca: bus ekonomi). Sampai kemudian beberapa hari berlalu kemudian di koran, di TV memberitakan adanya beberapa kecelakaan bus, bus terguling, bus masuk jurang bahkan sampai berita tentang pilot yang memakai narkoba. Waaah betapa mengerikannya menjadi penumpang transportasi publik di negeri ini. Apa Kata Dunia?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s