Bahwa cinta itu ada (3G) : antara novel dan film

Yuuhuu bloggers, udah lama banget saya ga posting nih…. *nyengir*

Okeidoki posting kali ini saya mau cerita tentang film & novel bahwa cinta itu ada (gading-gading ganesha). Beberapa minggu lalu secara random saya gak sengaja nonton behind the scene film ini di sebuah stasiun TV, kesan pertama lagunya bagus, jadi pengen nonton filmnya deh!

Hari berganti hari *ciiieeeh* karena larut oleh kesibukan ini itu belum juga saya sempet nonton. Saat hampir melupakan rencana nonton, pas ke toko buku kebetulan liat novelnya dan di plastiknya ada stiker BEST SELLER! Haha gotcha, ga kesampean nonton filmnya, baca novelnya oke juga nih, begitu pikir saya saat itu. Jadilah novel itu saya bawa pulang *tentunya setelah dibayar di kasir terlebih dahulu*, dan langsung saya baca malam itu juga.

Seperti biasa kalo baca novel, saya suka baca testimoni yang ada di sampul bagian belakang terlebih dahulu, setelah itu saya suka baca biografi penulisnya. Gotcha! Ternyata pengarangnya, Darmawan Wibisono, selain alumni ITB, alste (alumni sma 3 smg) juga! Kakak seperguruan SMA dong kalo gitu, walo angkatannya jauh banget! Makin semangat deh bacanya…

Novel ini cerita tentang perjalanan 6 orang mahasiswa ITB dari berbagai daerah, ada Slamet dari Trenggalek, Fuad dari Surabaya, Gun Gun dari Ciamis, Benny dari Jakarta, Poltak dari Pematang Siantar, dan Ria dari Padang. Mereka berenam datang ke ITB dengan idealisme dan cita cita masing masing. Banyak suka dan duka yang diceritakan di novel ini, mulai dari konyolnya mahasiswa baru, giatnya belajar bersama, persaingan cinta, hingga demonstrasi mahasiswa. Selepas lulus mereka ada yang jadi dosen, pegawai BUMN, pengusaha, sampai pemusik. Kenyataan hidup yang dijalani masing masing juga penuh dengan intrik. Komplit deh!

Buat saya novel ini amat sangat inspiratif, terlebih quote yang ditulis di setiap awal bab terasa sangat pas banget buat memberi inspirasi dalam hidup. Kisah yang gak melulu happy ending juga bikin novel ini lebih berwarna. Dan tentu saja harus diakui abis baca novel ini rasanya nasionalisme naik beberapa persen, hahaha novelnya berhasil mengintervensi nih! hoho… cool. Eits novel ini juga bisa bikin saya ketawa ketawa sendiri pas ada cerita jatuh cinta, jadi inget gimana kisah cinta saya sama suami *ups*.

Singkat cerita saya jadi tambah pengen nonton filmnya. Karena udah nawaitu akhirnya saya nonton juga film bahwa cinta itu ada. Imajinasi hasil baca novel sudah melayang layang, ingin segera dicocokkan dengan visualisasi di film rasanya.

Akhirnya film berdurasi 90 menit itu saya tonton juga, namun saya sedikit kecewa, wah ternyata gak 100% cerita di novel match ama di film. Contohnya aja di novel salah satu tokoh yang bernama Bagas meninggal karena penyakit lupus, namun ternyata di film dia hanya mengalami kecelakaan karena tertabrak mobil dan kakinya cacat. Saya denger sih awalnya film ini berdurasi 3 jam, karena satu dan lain hal jadi dipotong 90 menit, mungkin hal itu juga yang bikin film ini berasa “kepotong potong”. Tapi mungkin emang gitu ya kalau kita udah baca novelnya, kita nonton filmnya trus berasa novelnya lebih bagus, hal yang saya alami juga ketika nonton Harry Potter.

Btw film ini juga mengingatkan saya sama film Jomblo (apalagi sama sama ada Rizki Hanggono dan Dennis Adhiswara), yang mengisahkan kehidupan mahasiswa bandung (syutingnya juga di ITB). Daaaan saya merasakan sudah ada perubahan nilai dan budaya dalam generasi yang berbeda di mahasiswa yang ada di film “bahwa cinta itu ada” dan “jomblo”.

Okeidoki segini dulu cerita cerita dari saya kali ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s