Kemiskinan dan Pendidikan

Posting kali ini saya cukil dari sebuah tugas kuliah Filsafat Manusia di semester awal kuliah kemagisteran. Pandangan tentang kemiskinan dan pendidikan saya refleksikan dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Kemiskinan dan pendidikan adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain, gambaran kasarnya, kemiskinan akan mengakibatkan rendahnya akses menuju pendidikan, dan karena rendahnya pendidikan, maka akan timbul kemiskinan. Kedua hal tersebut seperti “lingkaran setan” yang tidak ada habisnya.

Fokus dalam analisis ini adalah menjawab permasalahan yang sudah dilontarkan sebelumnya, yaitu :

  1. Apakah kemiskinan disebabkan oleh faktor sosial-budaya (rendahnya hasrat untuk maju) dari masyarakatnya ataukah karena adanya keserakahan beberapa pihak?
  2. Apakah keberadaan miskin dan kaya adalah sebuah takdir? Apakah hal tersebut dapat diubah?
  3. Apakah pendidikan selalu mahal dan hanya bisa dinikmati orang kaya? Apakah orang miskin tidak punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan? Bagaimana nasib pendidikan bagi orang miskin?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita dapat menggunakan landasan pemikiran Antonio Caso (1883-1946), bahwasanya eksistensi individu akan menentukan model masyarakat. Terkait dengan cerita dalam Laskar Pelangi yang bersetting Kampung Melayu Belitong miskin yang bersebelahan dengan lingkungan Gedong PN Timah yang amat melimpah ruah, kita dapat melihat bahwasanya masyarakat yang berada di dalam lingkungan gedong PN Timah, adalah masyarakat dengan La existencia comoeconomia yang dominan, individu berhubungan sosial dengan tujuan menggunakan semuanya untuk kepentingan pribadi.

Lebih lanjut, menurut pandangan Martin Seligman, seorang perintis psikologi positif, masyarakat yang ada dalam model ini masih sekedar hidup (living), dan belum mencapai tahap mengembangkannya (thriving). Dimana kekuatan masyarakat terletak pada individu-individu, yang pemenuhan dirinya, kepuasan dan kebermaknaan-hidupnya, serta aktualisasi dirinya masih terkungkung pada kepentingan pribadinya semata dan belum memikirkan orang lain.

Kedua teori tersebut tercermin dalam gambaran pada novel Laskar Pelangi, yang menyebutkan bahwa di setiap akses dan fasilitas PN Timah terdapat kalimat “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”.

Masih senada dengan pandangan di atas, Noam Chomsky, seorang profesor Linguistik Massachusetts Institute of Technology menjelaskan mengenai rencana rahasia pasca Perang Dunia II. Yaitu adanya pembagian dunia sebagai konsekuensi dari relasi inferioritas-eksploitasi superioritas antar bangsa-bangsa di dunia. Bagi negara-negara maju, peradaban Barat, ataupun G7, setiap bagian dunia akan diberi tugas tertentu. Seperti fungsi utama Asia Tenggara adalah menyediakan bahan mentah untuk kekuatan industri, dan Afrika ‘dieksploitasi’ oleh Eropa bagi pemulihan dirinya sendiri.

Penjelasan Noam Chomsky adalah pemaparan tentang bentuk keserakahan dalam skala besar. Jika dikaitkan dengan novel ini, maka penjelasannya dapat dipersempit skalanya, dimana PN Timah yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah secara tidak langsung telah melakukan eksploitasi Sumber Daya Alam Belitong, dan secara tidak langsung telah membunuh lapangan pekerjaan penduduk pribumi Belitong yaitu mendulang timah. Disebutkan dalam novel, kehancuran PN Timah justru mendatangkan berkah bagi penduduk pribumi :

“ …Sekarang mereka bebas mendulang timah dimanapun mereka suka di tanah nenek moyangnya dan menjualnya seperti menjual ubi jalar.

Saat ini diperkirakan tak kurang dari 9000 orang bekerja mendulang timah di Belitong. Mereka menggali tanah dengan sekop dan mendulang tanah itu dengan kedua tangannya untuk memisahkan bijih-bijih timah. Mereka bekerja dengan pakaian seperti tarzan namun menghasilkan 15.000 ton timah per tahun. Jumlah yang lebih tinggi dari produksi PN Timah dengan 16 kapal keruk, tambang-tambang besar, dan open pit mining, serta dukungan miliaran dolar aset…..” (hal.486)

Dewasa ini telah muncul sebuah bentuk untuk mencegah adanya keserakahan dan mewujudkan perimbangan sosial ekonomi bagi penduduk pribumi dan perusahaan pemilik modal yang mengambil manfaat dari lingkungan penduduk, yaitu program dunia industri yang disebut Corporate Social Responsibility, namun kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang hal tersebut dalam analisis ini.

Selanjutnya kita akan mencoba menjawab tentang pertanyaan kedua, yaitu :

“Apakah keberadaan miskin dan kaya adalah sebuah takdir? Apakah hal tersebut dapat diubah?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat menggunakan pemikiran Paulo Freire tentang manusia dan dunia menjadi pusat masalah (dalam Fakih, 2001). Freire tidak memungkiri bahwasanya dehumanisasi (muncul dalam bentuk penindasan, menafikkan harkat kemanusiaan)  yang merupakan akibat dari kemiskinan adalah kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu kemungkinan ontologis di masa mendatang , namun ia bukanlah suatu keharusan sejarah. Secara dialektis, suatu kenyataan tidak mesti menjadi suatu keharusan. Jika kenyataan menyimpang dari keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk merubahnya agar sesuai dengan yang seharusnya. Itulah fitrah manusia sejati (the man’s ontological vocation).

Christine (2007), menuliskan bahwasanya takdir adalah kejadian atau jalan yang tidak dapat dihindari, bisa juga diartikan sebagai kekuatan yang tidak dapat dikendalikan yang menentukan masa depan secara umum maupun pribadi. Takdir merupakan sebuah konsep yang mempercayai bahwa ada aturan tetap yang natural di alam semesta. Jika seperti itu, lalu apakah takdir dapat diubah?

Pandangan Islam mempercayai adanya ketentuan Allah yang disebut Qadha dan Qadar. Qadha dapat diterjemahkan secara bebas sebagai apa – apa yang sudah ditentukan dari awal, sebelum diciptakan. Sedangkan Qadar atau sering disamakan dengan takdir adalah apa-apa yang sudah terjadi, berdasarkan qadha. Dalam sejarahnya muncul dua buah pemikiran tentang persoalan Qadha dan Qadar. Sekelompok orang mendukung aliran “kebebasan manusia” serta ikhtiarnya (kebebasan memilihnya), yang selanjutnya dikenal sebagai kaum Qadariyah. Sementara kelompok lainnya mendukung aliran takdir gaib yang amat ketat menguasai segala perbuatan manusia, yang dikenal sebagai kaum Jabariyah. Kedua kelompok ini kemudian lebur dalam dua firqah (kelompok) besar aliran teologi, yakni kaum Asy’ariyah dan Mu’tazilah. Masing-masing kelompok mengikuti beberapa dari pikiran-pikiran salah satu dari kedua aliran tersebut di atas; yakni kelompok Asy’ariyah mendukung aliran Jabariyah, sementara kelompok Mu’tazilah mendukung aliran Qadariyah (http://www.al-shia.com/html/id/books/taqdir-e-Ensaan/01.htm).

Jika boleh berpendapat secara pribadi, menurut saya kemiskinan adalah sebuah “ketentuan” yang dapat diubah (terlepas dari kenyataan – apakah saya pendukung aliran Qadariyah ataupun Jabariyah). Menurut saya, salah satu hal yang bisa merubah kemiskinan adalah pendidikan, dalam ilmu sosiologi disebutkan bahwasanya pendidikan dapat berfungsi sebagai social sinking dalam masyarakat. Dengan berhasilnya pendidikan, maka harapannya angka kemiskinan akan menurun. Hal lain yang dapat mengubah kemiskinan barangkali adalah usaha, dalam pandangan religius, ada pernyataan bahwa Yang Kuasa tidak akan merubah keadaan suatu kaum apabila mereka tidak mengubah keadaan dirinya sendiri.

Dari seluruh pernyataan di atas, kaitannya dengan novel Laskar Pelangi dapat tercermin dari usaha Ikal, yang merupakan salah satu bagian dari anggota Laskar Pelangi yang di akhir cerita digambarkan mendapat beasiswa pendidikan ke luar negeri. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwasanya Ikal adalah anggota kelompok anak-anak yang bersekolah di sekolah miskin, dimana dalam novel tersebut digambarkan bahwa keadaan sekolahnya amatlah memprihatinkan. Sekolah yang diceritakan di sini adalah kelas-kelas berdinding kayu, berlantai tanah, beratap bocor, yang kalau malam menjadi kandang hewan. Tanpa poster burung Garuda, foto presiden dan wakil presiden. Amat sederhana bangunan sekolah itu. Dan tentu saja yang bersekolah di sekolah itu adalah anak-anak dari keluarga miskin. Tercermin pula dari harapan ayah Lintang kepada Lintang, anak laki-laki sulungnya untuk memperbaiki kehidupan keluarga mereka :

“Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu terangkat dari endemik komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya…..”(hal.11)

Selanjutnya kita akan berusaha melakukan analisis tentang pendidikan dengan fokus pada pertanyaan berikut ini : “Apakah pendidikan selalu mahal dan hanya bisa dinikmati orang kaya? Apakah orang miskin tidak punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan? Bagaimana nasib pendidikan bagi orang miskin?”

Dari observasi saya sebagai penulis, saya dapat katakan bahwa di negara ini masih terjadi ketimpangan yang luar biasa tajam antara orang kaya dan orang miskin dalam hal pendidikan.

Wibowo (dalam Kompas, 2005), menuliskan kembali tentang berita prestasi pendidikan menengah kita yang menyedihkan. Banyak siswa gagal lulus ujian nasional, bahkan banyak sekolah yang kelulusan muridnya nol persen. Bahkan yang lebih menyedihkan, di hari kelulusan itu para siswa harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak dapat melanjutkan sekolah karena terhalang biaya. Padahal, anak-anak itu bukannya tidak mempunyai cita-cita untuk belajar.

Pada novel Laskar Pelangi, fenomena ini terjadi pada Lintang, salah satu anggota Laskar Pelangi yang terbilang amat jenius. Dalam usia anak SMP, Lintang telah memahami integral, kalkulus, postulat Newton, dalil Geometri Euclidian, dan berbagai persoalan rumit lainnya. Sebuah ironi, Lintang anak kuli kopra yang bersepeda 80km untuk menempuh perjalanan ke sekolah memiliki kemampuan yang luar biasa. Dari sisi fasilitas tentu saja sekolah Muhamadiyah tempat sekolah Laskar Pelangi amatlah jauh dengan sekolah PN Timah, namun ada kejadian dimana Lintang, Ikal, dan Sahara mengharumkan nama sekolah Muhamadiyah dalam lomba cerdas cermat. Bagaimana bisa mereka dengan segala kemiskinan dan penuh keterbatasan mencapai semua itu?

Prasetyo (2006), menuliskan bahwa cekikan biaya sekolah menjadi beban di saat kesulitan ekonomi menghantam banyak rumah tangga. Sekolah yang terus digenjot dalam hal pembangunan fisik dengan menimpakan biaya pada orang tua jelas bukan mandat utama pendidikan. Banyak orang tua menempuh jalan nekat untuk bisa melunasi biaya sekolah anaknya, mulai dari berhutang sampai menggadaikan sertifikat tanah dan rumahnya. Pemerintah menetapkan wajib belajar bagi warganya, namun pemerintah terkesan tidak tahu menahu tentang bagaimana pembiayaan pendidikan. Usaha yang sudah ada dari pemerintah adalah memberlakukan memangkas subsidi barang konsumsi (contoh: minyak tanah dan BBM) untuk kepentingan pendidikan, namun ujung-ujungnya rakyatlah yang menderita, karena beban ekonomi keluarga melonjak.

Orang tua laskar pelangi bukanlah orang kaya, mereka tidak mudah menyerahkan anaknya ke sekolah, lebih mudah bagi mereka menyerahkan anak mereka untuk bekerja pada tauke di pasar.

“Lebih mudah menyerahkannya pada tauke di pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.” (hal.3)

SD Muhamadiyah dalam Laskar Pelangi, diceritakan sebagai sekolah kampung paling miskin di Belitong, dan salah satu alasan mengapa orangtua mendaftarkan anaknya disana adalah karena sekolah Muhamadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apapun.

Dalam pandangan aliran pendidikan Giroux dan Aronowitz, (dalam Fakih,dkk, 2001) disebutkan adanya paradigma konservatif, paradigma liberal, dan paradigma kritis. Pembelajaran di sekolah Muhamadiyah tempat Laskar Pelangi bersekolah nampaknya (secara sengaja ataupun tidak) menganut paham paradigma kritis, dimana pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara kritis transformasi sosial, atau dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil. Sementara sekolah PN Timah agaknya menganut paradigma liberal, yang mungkin juga banyak dianut oleh sekolah kebanyakan di negeri ini, yaitu keyakinan bahwasanya pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia politik dan ekonomi. Namun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasi “kosmetik”.

6 thoughts on “Kemiskinan dan Pendidikan

  1. DjengWidZ™ says:

    Eheheheheeee… nice post,,
    Kalo menurutku sih, ‘Berguru’ mungkin masih belum jd budaya kita mbak…
    Pendidikan masih belum dianggap sebagai ‘investasi’, masih sebatas ‘expense’ aja…
    Kalo aku ntn bbrp film ataupun dokumentasi masyarakat Eropa & bbrp negara maju lain, di saat negara kita sedang sibuk perang sana sini, keilmuan mereka sudah benar2 mantap. Padahal ya mereka juga gak kalah heboh dlm urusan perang.
    Itu juga kali ya yg bikin pendidikan jd maju bgt di sana, soalnya banyak ‘nenek moyang’ yg udah merasakan manfaatnya dan mewariskan pemahaman “Pendidikan tuh penting lho”. Lha di negara kita, yg bisa sekolah jaman dulu cuma keluarga raja, bangsawan, dsb. Yg rakyat jelata paling cuma segelintir aja, jd gak banyak yg ‘ngeh’ bahwa pendidikan tuh penting… akibatnya mpe skrg mentri pendidikan pun jd terseok2 usahanya (aku juga gak selalu menyalahkan departemen pendidikan koQ, soalnya mereka juga gak bnyk dpt dukungan…).
    Berhubung pendidikan gak terlalu penting, profesi guru pun jd dianggap g penting2 bgt. Coba deh tanya sama tuh guru2, yg bnr2 maw jadi guru (bukan gara2 kepepet gak ada kerjaan laen) ada brapa org. Ibukku guru dan beliau bnr2 prihatin dgn profil guru skrg (ya gak semua)…
    Ah mbak, aku suka sebel sm mereka2 yg heboh maw jihad ke mana gitu, seolah2 menutup mata dgn persoalan di negeri sendiri… betebetebete…

  2. zenit says:

    hidup pendidikan!!!!
    hahaha kayanya posting ini bagusnya diposting pas hari pendidikan ya djeng?😛

    btw sekarang kesejahteraan guru naik djeng, karena ada tunjangan profesi… semoga usaha pemerintah untuk mensejahterakan guru ada dampaknya ya buat anak cucu kita kelak🙂

  3. Qq says:

    Faktor yang (mnurutku) kental di Laskar Pelangi itu nilai-nilai pendidikan spiritual… yg memanusiakan itu tadi mb…
    masih inget kn mb, kata” Pak Harfan:
    “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya…”

    Mau miskin atau kaya… klo nilai-nilai spiritual ditekankan, dicontohkan, dipahamkan sedemikian rupa dalam pendidikan… bahwa agama, spiritualitas intinya adalah pengabdian… anak-anak itu jadi orang” yg punya mimpi besar untuk memberi dg besar juga…

    *ah, saya tak sabar ingin nonton Sang Pemimpi,,,hehe*

  4. nitz says:

    samaaa… aku juga tak sabar menonton sang pemimpi🙂

    kalo spiritualitasnya berati man jadda wa jadda ya ki, kaya di negeri 5 menara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s