GAPLEK vs GeNeRasi MTV

GAPLEK! Have you ever hear this word before?

Yup saya hampir yakin, lebih dari 50% pembaca blog ini barangkali pernah ngedenger kata gaplek dan langsung berasosiasi bahwa gaplek adalah nama sebauah makanan dari zaman dulu, zaman dimana banyak orang bilang paceklik.

Meskipun banyak yang udah tau kalo gaplek adalah kinds of meal, saya juga hampir yakin 50% lebih dari pembaca blog ini belom pernah liat gimana wujudnya si gaplek itu? Hayooo ngaku aja!!! Apalagi buat anak-anak muda seusia saya, terlebih yang tinggal di kota besar such Jakarta,Surabaya, Bandung atau mungkin yang tinggal di luar negeri.

gaplek

source : http://grosirkrupuksingkong.blogspot.com/2010/08/potensi-ekspor-singkong-gaplek.html

Kalo kalian pernah denger makanan yang namanya ThiWul, nah gaplek ini adalah bahan dasar pembuatan Thiwul!! Thiwul ini terkenal banget dari daerah GunungKidul, sebuah kabupaten di selatan Jogja.

Sebenernya saya dah sering denger kata gaplek, tapi sebelum KKN ke NungKid kemaren ituh, jujur saja… I wonder that gaplek itu adalah nama sebuah makanan yg saya bayangkan bentuknya ga jauh2 sama si thiWul, saudara kandungnya. Pas ngebantuin (ngerecokin tepatnya!) penduduk desa panen ketela, saya baru mulai “ngeh” kalo ternyata eh ternyata… gaplek itu adalah sebutan untuk si Ketela yang dikeringkan dg cara dijemur! Wow!! Dan alangkah lebih takjubnya ketika saya tahu bahwa some people there masih makan Gaplek sampai saat ini! Gaplek adalah kekayaan penduduk di sana. Gaplek yg udah dijemur itu biasanya bisa disimpan sampe beberapa bulan, jadi mereka ga akan takut kehabisan cadangan makanan.

Gaplek biasanya diolah jadi Thiwul, dan yang lebih menakjubkan… orang2 yg g mampu beli beras biasanya sampe sekarang makanan pokoknya masih berupa thiwul. Beberapa orang makan thiwul dicampur dengan nasi, untuk penghematan beras katanya. Saya yg biasanya di kota beli thiwul yg disajikan dg gula jawa cair, takjub banget ketika ditawarin makan di rumah salah satu mbak pemuda desa dg menu thiwul+ikan asin+sambel pecel.

Wow!! luar biasa!!! rasanya??? emmmmhhh nyam..nyam…yummy deh!!!

Nah buat kalian para anak-anak muda generasi MTV yang menghamba teknologi dan selalu berorientasi luar negeri (saya kadang juga begitu..). Sekali-kali saya sarankan buat piknik, tidak ke Paris, Roma, Las Vegas atau ke Hawai, cukup ke GunungKidul, Wonogiri, Purbalingga, Sukabumi, Pacitan, Tulungagung…atau mungkin ke daerah lainnya di Indonesia yang eksotisme alamnya sebenernya Subhanallah banget! Belum lagi kebudayaannya..unik-unik banget! Kalo udah biasa makan burger, spaggeti, fettucini, pizza, risotto, sushi, dim sum dan segala jenis makanan berbau impor lainnya, kenapa ga nyobain Thiwul, cenil, lopis, gethuk, serabi, apem, gemblong, wajik, jadah, ondol, gatot dan berbagai macam ragam makanan Indonesia lainnya????

Hmmmm rasanya ga kalah kok…. amazing!!!

Banyak hal yang akan kita pelajari dengan mengetahui hal-hal yang jauh dari kehidupan kita, tidak hanya soal makanan,pemandangan dan budaya….

Biarpun pengguna teknologi, semoga kita belum termasuk pemuja dan penghamba teknologi. Biarpun suka nyanyiin lagu-lagunya Limpbizkit, Creed, the Corrs and so on semoga kita masih bisa nyanyi lagu daerah, seperti gundul-gundul pacul, manuk dadali ataupun kampuang nan jauh di mato. Biarpun belajar, membaca, mendengar, dan berbicara dengan  bahasa asing semoga kita semua masih tetap ingat bagaimana berbahasa jawa, sunda, madura, padang, lampung, batak, dayak, flores dan bahasa daerah kita lainnya, dan tentunya bahasa Indonesia.

Cobalah lihat lebih dekat, karena akan banyak realita yang mengejutkanmu.

Gadis seumur saya (20 tahun) yang tinggal di nun jauuuh disana bahkan banyak yang sudah punya anak dan membina rumah tangga serta bertanggung jawab buat keluarganya.

Remaja baru gede yang baru aja lulus smp udah harus merantau ke kota buat menyambung hidup keluarganya.

Awalnya sebenernya saya cuma mau cerita tentang gaplek, saya juga nggak tahu kok akhirnya bisa sampai sini.

Saya cuman agak prihatin, dengan kemudahan teknologi informasi dewasa ini, kayanya jurang antara si Miskin dan si Kaya di negeri Indonesia tercinta ini kok semakin dalam…

Kultur hedonisme yang disiarkan di televisi di hampir tiap jam di berbagai stasiun televisi yang notabene juga jadi konsumsi masyarakat di daerah manapun, urban, sub-urban, rural ataupun desa, seperti menyuntikkan sebuah serum “lifestyle” yg sedikit mengkhawatirkan kalo kita nggak punya filter buat menyaring itu semua.

Karena pada dasarnya manusia itu punya rasa ingin tahu yang luar biasa,ingin mencoba sesuatu yang baru, ga pernah puas sama apa yang didapetnya and animal instinc lainnya.

Well, akhirnya saya hanya bisa berharap semua bangsa Indonesia di seluruuh

pelosok nusantara di seluruh lapisan masyarakat mendapat pendidikan yang layak, yang bisa menaikkan taraf hidup kita semua. Education for All lah pokoknya… Biar gada culture shock dengan makin hebohnya dunia ini….

Ok..segini dulu deh..

saya merasa selalu gagal ketika ingin menulis lucu dan santai..

pasti langsung melenceng jadi agak2 serius juga….

huaaaaaah……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s