KKN : Memberdayakan Masyarakat dan Menggali Potensi Lokal

Wacana untuk meninjau ulang program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Perguruan Tinggi karena dianggap tidak banyak memberi manfaat bagi mahasiswa ataupun bagi masyarakat nampaknya menjadi sebuah hal yang sangat menarik untuk kita diskusikan bersama. Apakah memang KKN itu tidak ada manfaatnya? Benarkah begitu?

Ditilik dari sejarahnya, gagasan KKN berawal dari pengalaman mahasiswa ketika melakukan perjuangan fisik melawan Belanda pada tahun 1945-1949, perjuangan tersebut muncul dalam Kesatuan Tentara Pelajar (KTP) dan Corps Mahasiswa (CM). Kemudian pada tahun 1971, tiga Universitas yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas serta Universitas Ujung Pandang ditunjuk oleh pemerintah sebagai perintis proyek Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM). PTM inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari KKN.

Seiring berjalannya waktu, KKN sebagai suatu kegiatan intrakurikuler yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk memberikan bekal kepada mahasiswa pengalaman belajar dan bekerja dalam kegiatan pembangunan masyarakat mulai berkembang dan dilaksanakan oleh hampir seluruh Perguruan Tinggi, walaupun pada akhirnya kini tidak sedikit pula Perguruan tinggi yang mulai menghilangkan KKN dari kurikulum perkuliahannya.

Ya, memang segala sesuatu butuh pembaharuan. Demikian pula KKN, jika tidak ada inovasi dalam pelaksanaan program KKN di masyarakat tentunya semuanya menjadi sesuatu yang usang karena sudah tidak dapat mencapai tujuan awal dari KKN itu sendiri yaitu Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (Personality Development), Pengembangan Kelembagaan (Institutional Development) dan Pengembangan Masyarakat (Community Development).

Sejauh pengalaman penulis saat melaksanakan KKN di Kabupaten Gunungkidul beberapa bulan yang lalu, penulis merasa bahwa dari ketiga tujuan utama KKN tersebut diatas belum semuanya bisa tercapai dengan maksimal karena adanya berbagai keterbatasan. Barangkali yang bisa nampak lebih dominan adalah Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (Personality Development), dimana dalam masa KKN tersebut mahasiswa benar-benar dihadapkan pada realitas masyarakat dengan segala permasalahannya, sehingga mahasiswa dituntut untuk dapat berempati dan tumbuh jiwa kerakyatannya untuk selanjutnya membantu memikirkan solusi dari permasalahan yang ada bersama-sama masyarakat. Penulis pikir, pada tataran ini selain hardskill yang diperoleh mahasiswa dari bangku kuliah diperlukan pula softskill seperti kemampuan manajemen diri, kepemimpinan, team work, dan kemampuan untuk berfikir kreatif dan strategis.

Saat penulis mengikuti program KKN reguler semester pendek (selain program reguler, Universitas Gadjah Mada kini mulai mengembangkan program KKN tematik yang mengusung tema tertentu), waktu pelaksanaan KKN dijadwalkan selama 2 bulan dengan observasi pada minggu pertama. Sebelum penerjunan ke lokasi KKN, penulis mendapatkan pembekalan (coaching) mengenai materi umum KKN dan materi khusus bidang. Dalam pelaksanaan KKN di UGM, mahasiswa dibagi dalam 4 bidang sesuai dengan program studi masing-masing. Bidang-bidang tersebut terdiri dari Prasarana Fisik (PF), Peningkatan Produksi (PP), Sosial Budaya (SB) dan Kesehatan Masyarakat (KM).

Memang idealnya dengan adanya pembekalan dan pembagian bidang yang jelas, program KKN akan berjalan dengan langkah yang lebih jelas, terlebih diberikan waktu untuk observasi pada minggu pertama. Namun, apa yang penulis rasakan sepertinya agak jauh dari harapan ideal tersebut. Pembekalan ternyata menjadi kurang efektif karena dilaksanakan secara klasikal, dimana satu pembicara berbicara di hadapan dua ratusan mahasiswa. Pembagian per bidang ternyata pada saat pelaksanaan tidak dapat merata, contohnya saja di unit penulis saat itu dari 34 mahasiswa hanya terdapat 1 personel yang membidangi Kesehatan Masyarakat. Sedangkan kegiatan observasi yang hanya dilaksanakan selama satu minggu dan dalam masa penerjunan, penulis rasa bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana. Menurut hemat penulis, sebaiknya observasi telah dilaksanakan sejak jauh-jauh hari sebelum penerjunan ke lokasi KKN agar mahasiswa dapat mengetahui benar kondisi lokasi KKN, lengkap dengan permasalahan dan potensi yang dimilikinya untuk selanjutnya dapat menyusun sebuah proposal kegiatan. Karena dari pengalaman di lapangan kemarin, saat kami melakukan observasi dan menemukan beberapa permasalahan yang sumbernya diperoleh dari pamong desa dan warga masyarakat, kami justru terganjal pada pendanaan dan keberlanjutan program. Contohnya saja saat menemukan adanya pencemaran di telaga sebagai tempat warga memperoleh air, andai saja ada observasi yang panjang tentunya teman-teman dari Fakultas Biologi atau MIPA dapat meneliti sumber pencemaran tersebut di laboratorium, kemudian disusun langkah-langkah selanjutnya sebagai tindakan kuratif dan preventif. Namun karena observasi hanya dalam waktu yang singkat, akhirnya salah seorang teman berinisiatif untuk meletakkan tong-tong sampah di sekitar telaga, untuk mengurangi pencemaran yang ada.

Saat laporan observasi dan proposal telah disusun, kami sudah berada di lokasi KKN yang berkilo-kilo jauhnya dari kota Jogja sehingga akses untuk mendistribusikan proposal kerjasama kepada pihak-pihak terkait menjadi sebuah kendala tersendiri. Padahal tidak dapat kita pungkiri, untuk merancang dan melaksanakan sebuah program yang memang benar-benar berguna bagi masyarakat serta berkelanjutan dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Pada akhirnya kami memang mendapatkan kucuran dana dari pemerintah daerah, tapi jumlahnya sangat amat minim dan dikhususkan pada program yang berorientasi pada pengembangan usaha kecil dan menengah yang notabene banyak mengarah pada bidang Peningkatan Produksi.

Dengan kenyataan yang demikian, akhirnya penulis dan teman-teman penulis berusaha membuat program yang tidak banyak mengeluarkan dana, contohnya saja teman-teman dari bidang Prasarana Fisik menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam pembangunan desa secara fisik (pembangunan jalan ekonomi desa, program lantainisasi, pembuatan lapangan menjelang 17 Agustus dll), penulis dan teman-teman dari bidang Sosial Budaya banyak menyumbangkan pikiran dalam kegiatan Pendidikan dan keagamaan dengan program penyuluhan, pelatihan dan pembinaan pada berbagai kelompok masyarakat, sedangkan teman penulis dari bidang kesehatan banyak memberikan penyuluhan mengenai kesehatan dengan berbagai metode pada berbagai kompok masyarakat. Atau kalau memang programnya membutuhkan dana dan tidak mungkin mengandalkan peran serta masyarakat ya terpaksa nombok.

Dengan refleksi terhadap program KKN reguler yang seperti penulis laksanakan, mungkin langkah Universitas Gadjah Mada untuk mengembangkan program KKN tematik perlu mendapatkan sebuah dukungan. Karena dengan program yang mengusung tema-tema tertentu di masyarakat dengan diawali dengan observasi mendalam, tentunya hal itu akan dapat sangat berguna bagi masyarakat, mahasiswa dan institusi. Pengembangan KKN tematik yang berkelanjutan, penulis pikir juga akan memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mendukung otonomi daerah, karena program dirancang sesuai potensi lokal dan kompetensi masyarakat pada sebuah daerah tertentu. Selain itu mahasiswa dapat pula mengaplikasikan ilmu yang diperoleh sesuai di bangku kuliah, karena yang sepanjang penulis ketahui perekrutan mahasiswa didasarkan pada disiplin ilmunya. Contohnya pada KKN tematik yang diikuti rekan penulis di Jatinom Kabupaten Klaten yang mengusung tema mengenai industri kerupuk susu, teman-teman disana benar-benar merancang dan membuat sebuah “pabrik” kerupuk susu yang mendayagunakan potensi lokal berupa susu sapi dan dikerjakan oleh para generasi muda setempat, personel dari mahasiswa dibagi menjadi 3 bidang yaitu bidang Produksi dimana dibutuhkan teman-teman dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Teknologi Pertanian, bidang Pelatihan dibutuhkan teman-teman dari Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan atau teman-teman dari bidang Sosial Budaya dan Humaniora lainnya, dan bidang Peralatan dibutuhkan teman-teman yang belajar di Fakultas Teknik.

Keberhasilan dan keberlanjutan program KKN tematik ini tentu saja harus disertai komitmen yang tinggi oleh para mahasiswa pesertanya serta pihak Lembaga Pengabdian Masyarakat sebagai wakil dari Universitas, karena program tematik ini jelas membutuhkan pikiran, tenaga dan dana yang tak sedikit. Partisipasi pemerintah daerah dan sektor swasta sebagai stakeholder hendaknya juga dilibatkan, sehingga nantinya kegiatan ini bisa benar-benar berguna dalam cakupan yang lebih luas. Etos kerja yang tinggi dari mahasiswa-mahasiswa pemikir dan pelaksana yang menjadi inovator program ini juga wajib dimiliki, selain itu program ini diharapkan juga dapat merangsang kepekaan sosial bagi mahasiswa masa kini yang notabene banyak berasal dari keluarga yang berada.

Setelah kita diskusikan panjang lebar mengenai KKN dan alternatif model KKN yang inovatif yang sedang mulai dikembangkan saat ini, jadi bagaimana pendapat anda tentang KKN saat ini? Yang jelas, sebaik-baiknya ilmu tentunya adalah ilmu yang bermanfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s