RSS

Category Archives: Review

Alangkah lucunya negeri ini

Beberapa hari yang lalu, karena sudah capek putar putar mall dan pengen duduk agak lama jadilah saya dan suami memilih nonton, hahaha… Mau nonton apa juga ngga pake direncanakan, kebetulan yang segera main adalah film ini, jadilah kami berdua nonton.Kami berdua sih berharap film yang akan segera kami tonton ini tidak seperti sinetron, kalau lihat pemainnya ada Dedy Mizwar, ehm kayanya oke.

Ternyata film ini bener bener bercerita tentang banyaknya kelucuan di negeri ini, yang walaupun “lucu” sebenernya bikin saya berpikir keras, dan menyentuh emosi saya, karena sedikit banyak saya mengalaminya juga.

Film ini bercerita tentang si Muluk. Sejak lulus S1, hampir 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun selalu gagal tetapi Muluk tidak pernah berputus asa.Suatu hari secara tidak sengaja Muluk bertemu dengan Komet, si pencopet cilik. Ternyata pertemuan itu tak membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Singkat cerita, Muluk mendapat kepercayaan dari bos pencopet untuk mengelola keuangan mereka, dan ia mendapatkan imbalan 10% dari hasil mencopet. Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun di hati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mau merubah profesi mereka. Dibantu dua rekannya yang juga sarjana, Samsul dan Pipit, Muluk membagi tugas mereka untuk mengajar agama, budi pekerti dan kewarganegaraan. Samsul adalah sarjana pendidikan yang putus asa karena tidak bisa jadi guru dan sehari-hari pekerjaannya hanyalah main gaple, sedangkan Pipit adalah mania kuis dan undian.Kepada orangtua dan calon mertuanya, Muluk mengatakan bahwa pekerjaannya adalah di bagian “Pengembangan Sumber Daya Manusia”, ya bener juga sih SDM copet. Usaha untuk mendidik copet copet anak itu sebenarnya membuahkan hasil, namun ketika para orangtua mengetahui bahwa anak-anak mereka menerima penghasilan dari hasil copet, maka mereka sangat kecewa. Di lain pihak, beberapa copet cilik telah alih profesi sebagai pedagang asongan.

Saya sempat terharu melihat keadaan susahnya mencari kerja di negeri ini, orang yang sudah sarjana seperti Muluk menghabiskan waktu yang tidak sebentar untuk kesana kemari mencari kerja, saya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Muluk, apakah IPKnya tidak bagus, atau CV nya tidak menarik, ataukah hanya belum beruntung saja? Tapi memang kenyataan di negeri ini, cari kerja itu sulit, sampai sampai di film itu, calon mertua Muluk mengatakan bahwa “PENDIDIKAN ITU TIDAK PENTING”, bagaimana bisaaa? Ya karena dari pengalamannya, kedua anaknya yang hanya tamatan MTs dan MAN sudah sukses berdagang dan punya kios serta sudah naik haji, sedangkan Muluk yang Sarjana malah luntang luntung sulit sekali mencari kerja.

Ironi emang di negeri ini, lulusan terbaik dari universitas terbaik tak selalu dapat tempat yang terbaik. Kebetulah thread di Kaskus ada yang bercerita tentang ini. Seperti yang Samsul bilang di film ini, cita citanya jadi guru yang bisa berguna bagi masyarakat juga sirna ketika dia tahu bahwa untuk masuk jadi guru ternyata dia harus membayar sekian rupiah. Apakah informasi itu benar? mungkin saja! Yah semoga tidak semuanya.

Sebuah kelucuan lagi adalah fakta yang diungkap di film ini bahwa copet itu pencuri yang tak berpendidikan, sedangkan pencuri berpendidikan adalah koruptor, yang mana kita tau koruptor itu mencuri lebih banyak tapi mungkin tak senista pencopet.

Beberapa anak yang mencoba beralih profesi dari copet ke pedagang asongan ternyata juga ngga mengalami jalan yang mulus, karena baru sehari berdagang, ternyata mereka sudah dikejar kejar satpol PP karena dianggap mengganggu lalu lintas. Ternyata cari rezeki dari jalan halal juga ada cobaannya.

Jadi menurut kalian bagaimana? APAKAH PENDIDIKAN ITU PENTING?

Kalo saya pribadi, saya merasa pendidikan itu penting. Kalau masih terjadi ketidakadilan di negeri ini, barangkali sistem dan pembuat sistem yang bisa kita tanya, kalau memang belum baik, apakah artinya pembuat sistem belum menerapkan hasil pendidikan? Ah saya juga tidak tau… Semoga suatu hari nanti, saya bisa menyumbangkan apa yang saya miliki untuk negeri saya tercinta Indonesia, dan dapat berbagi banyak hal dengan orang orang di sekitar saya. Amin

 
3 Comments

Posted by on April 25, 2010 in Review, sekeliling kita

 

Bahwa cinta itu ada (3G) : antara novel dan film

Yuuhuu bloggers, udah lama banget saya ga posting nih…. *nyengir*

Okeidoki posting kali ini saya mau cerita tentang film & novel bahwa cinta itu ada (gading-gading ganesha). Beberapa minggu lalu secara random saya gak sengaja nonton behind the scene film ini di sebuah stasiun TV, kesan pertama lagunya bagus, jadi pengen nonton filmnya deh!

Hari berganti hari *ciiieeeh* karena larut oleh kesibukan ini itu belum juga saya sempet nonton. Saat hampir melupakan rencana nonton, pas ke toko buku kebetulan liat novelnya dan di plastiknya ada stiker BEST SELLER! Haha gotcha, ga kesampean nonton filmnya, baca novelnya oke juga nih, begitu pikir saya saat itu. Jadilah novel itu saya bawa pulang *tentunya setelah dibayar di kasir terlebih dahulu*, dan langsung saya baca malam itu juga.

Seperti biasa kalo baca novel, saya suka baca testimoni yang ada di sampul bagian belakang terlebih dahulu, setelah itu saya suka baca biografi penulisnya. Gotcha! Ternyata pengarangnya, Darmawan Wibisono, selain alumni ITB, alste (alumni sma 3 smg) juga! Kakak seperguruan SMA dong kalo gitu, walo angkatannya jauh banget! Makin semangat deh bacanya…

Novel ini cerita tentang perjalanan 6 orang mahasiswa ITB dari berbagai daerah, ada Slamet dari Trenggalek, Fuad dari Surabaya, Gun Gun dari Ciamis, Benny dari Jakarta, Poltak dari Pematang Siantar, dan Ria dari Padang. Mereka berenam datang ke ITB dengan idealisme dan cita cita masing masing. Banyak suka dan duka yang diceritakan di novel ini, mulai dari konyolnya mahasiswa baru, giatnya belajar bersama, persaingan cinta, hingga demonstrasi mahasiswa. Selepas lulus mereka ada yang jadi dosen, pegawai BUMN, pengusaha, sampai pemusik. Kenyataan hidup yang dijalani masing masing juga penuh dengan intrik. Komplit deh!

Buat saya novel ini amat sangat inspiratif, terlebih quote yang ditulis di setiap awal bab terasa sangat pas banget buat memberi inspirasi dalam hidup. Kisah yang gak melulu happy ending juga bikin novel ini lebih berwarna. Dan tentu saja harus diakui abis baca novel ini rasanya nasionalisme naik beberapa persen, hahaha novelnya berhasil mengintervensi nih! hoho… cool. Eits novel ini juga bisa bikin saya ketawa ketawa sendiri pas ada cerita jatuh cinta, jadi inget gimana kisah cinta saya sama suami *ups*.

Singkat cerita saya jadi tambah pengen nonton filmnya. Karena udah nawaitu akhirnya saya nonton juga film bahwa cinta itu ada. Imajinasi hasil baca novel sudah melayang layang, ingin segera dicocokkan dengan visualisasi di film rasanya.

Akhirnya film berdurasi 90 menit itu saya tonton juga, namun saya sedikit kecewa, wah ternyata gak 100% cerita di novel match ama di film. Contohnya aja di novel salah satu tokoh yang bernama Bagas meninggal karena penyakit lupus, namun ternyata di film dia hanya mengalami kecelakaan karena tertabrak mobil dan kakinya cacat. Saya denger sih awalnya film ini berdurasi 3 jam, karena satu dan lain hal jadi dipotong 90 menit, mungkin hal itu juga yang bikin film ini berasa “kepotong potong”. Tapi mungkin emang gitu ya kalau kita udah baca novelnya, kita nonton filmnya trus berasa novelnya lebih bagus, hal yang saya alami juga ketika nonton Harry Potter.

Btw film ini juga mengingatkan saya sama film Jomblo (apalagi sama sama ada Rizki Hanggono dan Dennis Adhiswara), yang mengisahkan kehidupan mahasiswa bandung (syutingnya juga di ITB). Daaaan saya merasakan sudah ada perubahan nilai dan budaya dalam generasi yang berbeda di mahasiswa yang ada di film “bahwa cinta itu ada” dan “jomblo”.

Okeidoki segini dulu cerita cerita dari saya kali ini….

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2010 in Review

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers