Seminggu yang lalu, tiba tiba terbersit di pikiran pengen banget tulisan masuk di media masa. Nulis apa ya? Karena saya sedang jadi ibu menyusui, dan masalah menyusui ini sedang jadi top level of mind di kepala saya, akhirnya saya tulis seputar ASI Eksklusif, pas banget karena awal Agustus ini diperingati sebagai Pekan ASI sedunia. Alhamdulillah, sabtu kemarin tulisan saya dimuat di koran
Versi online nya bisa dilihat disini.
Kenapa saya tulis tentang ASI Eksklusif? Kebetulan anak saya baru saja lulus ASIX akhir Juni lalu. Perjuangan ASIX ini tidak mudah bagi saya, jadi saya pengen sekedar sharing kenapa akhirnya bisa berhasil. Salah satu hal yang jadi kuncinya adalah DUKUNGAN SOSIAL.
Kalau diterjemahkan secara bebas, dukungan sosial dapat diartikan sebagai interaksi antara individu dengan orang lain yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar individu sehingga memperoleh kebahagiaan. Secara psikologis, dukungan sosial akan lebih berarti bagi seseorang apabila diberikan oleh orang-orang yang signifikan dengan individu yang bersangkutan. Dukungan tersebut dapat diperoleh dari orangtua, pasangan (suami atau istri), anak, kerabat keluarga, teman atau sahabat, profesional, serta suatu kelompok dari suatu komunitas tertentu.
Dukungan sosial dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk, diantaranya adalah dukungan informasi, biasanya diberikan berupa saran, nasehat, pengarahan atau petunjuk yang diperoleh dari orang lain, sehingga seorang ibu dapat mencoba mencari alternatif solusi dalam memecahkan sebuah masalah. Dukungan informasi tentang ASI bisa didapatkan dari tenaga kesehatan di tempat ibu memeriksakan kehamilan dan melahirkan, dari konselor laktasi, dari kelompok menyusui seperti AIMI, ataupun dari media cetak dan jejaring sosial. Dukungan yang lain adalah dukungan yang sifatnya emosional, berupa kepedulian dan apresiasi positif dari orang lain terhadap kegiatan menyusui. Kepedulian ini biasanya didapatkan dari keluarga, teman, kerabat, dan dapat dimungkinkan dari tempat kerja ibu menyusui. Bagi ibu menyusui yang bekerja, selain dukungan informasi, kepedulian dan apresiasi positif, dibutuhkan pula dukungan nyata dari perusahaan tempat ibu bekerja, dukungan tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan ibu menyusui untuk memerah ASI dan juga menyediakan ruangan untuk memerah ASI.
Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan memang bukanlah sesuatu hal mudah, namun bukan berarti hal itu sulit dilakukan. Kuncinya adalah komitmen, kepercayaan diri, dan optimisme. Ketika rasa percaya diri dan optimisme mulai menurun, segeralah ibu mencari dukungan dari lingkungan sosial ibu, baik keluarga, teman, maupun mengikuti kelompok dalam jejaring sosial yang punya minat sama memberikan ASI eksklusif.
Nah itu tadi sekedar pemikiran saya tentang dukungan sosial dan keberhasilan memberikan ASI Eksklusif. Mari kita dukung orang terdekat kita untuk memberikan hak bagi para bayinya, yaitu ASI.
Dan sayapun masih terus berjuang memberikan ASI, dukung saya ya!


djengwidz™
August 14, 2011 at 8:16 pm
Gak sabar pengen jd busui jugaaaa…
*tapi ternyata lingkungan banyak yg ‘melemahkan’ ya, terutama lingkungan kerja. Mereka yang ‘gagal’ berpikir kemungkinanku utk berhasil sangat kecil*
Jaman dulu mamaku ngasi ASIX ke aku. Awalnya beliau cuma mau eksklusif 6 bulan, tp ‘terpaksa’ dilanjutin sampe 8 bulan karena pas jalan 7 bulan itu menurut kisah si mama aku ‘menolak’ makanan/minuman apapun. Baru ditempelin ke mulut udah disembur. Akhirnya baru mau makan pas umur 8 bulan. Ada untungnya juga kata mama, aku gak gampang sakit walaupun imunisasinya gak lengkap karena reaksi badanku terhadap bbrp prosedur imunisasi gak bagus (nah kalo yg ini jgn ditiru, hehehe…).
Itu bikin aku semangat bgt bwt ASIX, mamaku aja yg ibu-bekerja bisa, kenapa aku gak?
nitze
August 14, 2011 at 8:24 pm
menghitung hari ya wid
ya gitu deh lingkungan emang pengaruh banget, beberapa kali supply ASI ku seret, biasanya aku posting status di fb, trus banyaaak yg komen, menyemangati, jangan menyerah pada sufor, jadi semangat lagi deh.
Ya itu wid, emang ga mudah memberi ASIX 6bl oleh ibu bekerja, tapi juga tdk sulit kok, asal ada komitmen
konsentrasi melahirkan dulu bu, siapkan energi