RSS

Monthly Archives: August 2011

Berkomunikasi dengan bayi

Aoo.. uoo.. bla bla… hu… kata kata semacam itu sekarang seringkali muncul dari bibir anakku, fia. Mulai sekitar usia 2 bulan sebenarnya sudah seringkali saya dengar ocehan fia. Tapi sekarang sudah semakin jelas dan semakin sering. Bisa dibilang, semakin bertambah usianya, makin bertambah pula kepandaiannya.

Kalau inget kembali tentang teori perkembangan bahasa pada anak. Awal mula bayi berkomunikasi adalah dengan menangis, kemudian mulai bisa mendekut (cooing), lalu mulai mengoceh/meraban (babbling). Menangis dimulai semenjak awal kelahiran, sementara cooing  biasanya pada usia 1-2 bulan, dan mengoceh biasanya dimulai pada usia 6-10 bulan. Nah berarti fia sekarang seharusnya sudah bisa mengoceh. Contoh mengoceh adalah mengucapkan kata kata seperti ma-ma-ma, pa-pa-pa… kalau fia biasanya hu..uh…huu…

Setelah lebih dari usia 10 bulan, bayi biasanya mulai mampu bicara dengan kalimat kalimat. Eits tapi jangan salah, kalimat kalimat yang diucapkan bayi biasanya awalnya hanya terdiri dari satu kata atau dua kata. Baru pada usia 24 bulan biasanya mulai bisa tiga kata. Itu kata teorinya, jadi akan saya observasi nanti pada fia.

Yang saya baca, ada beberapa kiat agar anak menuruti dan memahami pembicaraan, diantaranya adalah :

  • Menyampaikan pesan dalam kalimat yang jelas dan sederhana, jadi jangan berbelit belit kalo bicara sama bayi.
  • Menyampaikan pesan dengan situasi yang tepat, jadi perlu memperhatikan timing saat bicara sama bayi.
  • Lakukan kontak mata saat menjelaskan pada anak, kalau bisa lakukan juga kontak fisik, misalnya membelai, mengusap.
  • Perhatikan anak, gunanya untuk melihat ekspresi apakah bayi mampu menyerap informasi yang disampaikan.
  • Bercerita pada anak, kegiatan bercerita adalah kesempatan yang tepat untuk bereksperimen secara verbal dan ekspresif sehingga kita bisa punya kesempatan besar untuk menemukan cara bicara tepat yang mampu membuat si kecil menyimak dan menurut.

Oke ibu ibu, sekian dulu cerita cerita tentang perkembangan bahasa pada bayi, kapan kapan kita lanjutin lagi ya :) Udah persiapan apa nih buat mudik?

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in family, motherhood, psy

 

Dukungan Sosial & Kegiatan Menyusui

Seminggu yang lalu, tiba tiba terbersit di pikiran pengen banget tulisan masuk di media masa. Nulis apa ya? Karena saya sedang jadi ibu menyusui, dan masalah menyusui ini sedang jadi top level of mind di kepala saya, akhirnya saya tulis seputar ASI Eksklusif, pas banget karena awal Agustus ini diperingati sebagai Pekan ASI sedunia. Alhamdulillah, sabtu kemarin tulisan saya dimuat di koran :) Versi online nya bisa dilihat disini.

Kenapa saya tulis tentang ASI Eksklusif? Kebetulan anak saya baru saja lulus ASIX akhir Juni lalu. Perjuangan ASIX ini tidak mudah bagi saya, jadi saya pengen sekedar sharing kenapa akhirnya bisa berhasil. Salah satu hal yang jadi kuncinya adalah DUKUNGAN SOSIAL.

Kalau diterjemahkan secara bebas, dukungan sosial dapat diartikan sebagai interaksi antara individu dengan orang lain yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar individu sehingga memperoleh kebahagiaan. Secara psikologis, dukungan sosial akan lebih berarti bagi seseorang apabila diberikan oleh orang-orang yang signifikan dengan individu yang bersangkutan. Dukungan tersebut dapat diperoleh dari orangtua, pasangan (suami atau istri), anak, kerabat keluarga, teman atau sahabat, profesional, serta suatu kelompok dari suatu komunitas tertentu.

Dukungan sosial dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk, diantaranya adalah dukungan informasi, biasanya diberikan berupa saran, nasehat, pengarahan atau petunjuk yang diperoleh dari orang lain, sehingga seorang ibu dapat mencoba mencari  alternatif solusi dalam memecahkan sebuah masalah. Dukungan informasi tentang ASI bisa didapatkan dari tenaga kesehatan di tempat ibu memeriksakan kehamilan dan melahirkan, dari konselor laktasi, dari kelompok menyusui seperti AIMI, ataupun dari media cetak dan jejaring sosial. Dukungan yang lain adalah dukungan yang sifatnya emosional, berupa kepedulian dan apresiasi positif dari orang lain terhadap kegiatan menyusui. Kepedulian ini biasanya didapatkan dari keluarga, teman, kerabat, dan dapat dimungkinkan dari tempat kerja ibu menyusui. Bagi ibu menyusui yang bekerja, selain dukungan informasi, kepedulian dan apresiasi positif, dibutuhkan pula dukungan nyata dari perusahaan tempat ibu bekerja, dukungan tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan ibu menyusui untuk memerah ASI dan juga menyediakan ruangan untuk memerah ASI.

Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan memang bukanlah sesuatu hal mudah, namun bukan berarti hal itu sulit dilakukan. Kuncinya adalah komitmen, kepercayaan diri, dan optimisme. Ketika rasa percaya diri dan optimisme mulai menurun, segeralah ibu mencari dukungan dari lingkungan sosial ibu, baik keluarga, teman, maupun mengikuti kelompok dalam jejaring sosial yang punya minat sama memberikan ASI eksklusif.

Nah itu tadi sekedar pemikiran saya tentang dukungan sosial dan keberhasilan memberikan ASI Eksklusif. Mari kita dukung orang terdekat kita untuk memberikan hak bagi para bayinya, yaitu ASI.

Dan sayapun masih terus berjuang memberikan ASI, dukung saya ya!

 
2 Comments

Posted by on August 14, 2011 in family, motherhood, psy

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers