Feeds:
Posts
Comments

Uang Parkir

Sebagai seorang pengendara sepeda motor, saya merasakan beberapa keuntungan, diantaranya adalah hemat. Kenapa hemat? Dengan mengendarai sepeda motor, saya lebih hemat ketimbang harus naik bis kota kemana mana. Pengeluaran bensin dalam seminggu dibandingkan harus naik turun bis dalam seminggu ternyata jauh lebih hemat. Tapi ternyata uang parkir yang seringkali nggak masuk dalam budget bener bener lumayan jadi pengeluaran tak terduga. Jika seharian harus mampir ke toko buku, pasar swalayan,tempat makan, tukang buah, ATM, bank… waaaaawwwww… 500xjumlah tempat yang dikunjungi tuh. Belum lagi kalau ada yang menerapkan parkir 1000 rupiah… bisa bangkrut lah awak niiii….

Jadi buat sodara sodara sekalian, jangan lupa masukkan komponen uang parkir dalam biaya transportasi bulanan.

rumahku istanaku

rumah

Lebih baik disini
Rumah kita sendiri
Segala nikmat dan
anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita…

(God Bless – Rumah Kita)

Malam ini tiba tiba saja saya ingin mulai mereka reka bentuk rumah saya nanti, dimana lokasinya, desainnya, interiornya, warna catnya, furniture nya… Ahhh menyenangkan rasanya bisa memikirkan itu semua… ^_^ Semoga bisa segera terwujud. Amiiin

Rumah tempat “pulang” dan berkumpul bersama keluarga.

Carica dan Kenangan Lama

carica dan kenanganKemarin, seorang sahabat mengingatkan tentang sebuah kenangan lama dengan cara yang unik. Ia mengatakan bahwa dia baru saja menikmati sebotol carica dari Wonosobo. Ia mengatakan bahwa, carica mengantarkannya pada kenangan kami dulu. Memori saya pun mulai ikut melambung menuju masa masa itu, mungkin sekitar 8 tahun yang lalu.. Whoops ternyata sudah lama juga yaaa……..

Ya, ketika itu saya masih duduk di kelas 2 SMA, saya dan ketiga sahabat saya merencanakan sebuah liburan catur wulan ke rumah orang tua saya di Purbalingga (pada saat itu saya sekolah di Semarang). Saya ingat betul, rencana rencana kepergian kami rencanakan cukup detail lewat buku curhat kami berempat (yah lain kali akan saya tulis cerita tentang si buku curhat milik kami berempat).

Setelah sekian lama berlalu, ternyata sebuah makanan mampu mengingatkan akan kenangan itu. Kalau saya bayangkan, saat teman saya menggigit potongan potongan carica dan mencecap rasa manis dari airnya, kemudian ia memejamkan mata dan bisa mengingat suasana ketika liburan dulu… hihihi kaya di film film itu lhooo…..

Meski sudah terlewat bertahun tahun, kenangan tak akan pernah hilang dari hati… dan memakan makanan tertentu boleh jadi akan membawa kita melambung ke masa masa itu.

carica

ini dia caricanya …

menulisMulai hari ini sampai 30 hari ke depan saya akan mencoba menerima tantangan “30 Hari Nulis Asyiek” by Teddi.  Awalnya saya tau dari status teman saya di twitter, kemudian saya lihat pengumumannya langsung di halaman facebook Teddi. Begini katanya ” Yang mau ikutan tantangan, “30 Hari Nulis Asyiek”, silakan info alamat website atau blog ke saya. Nanti tiap hari saya mampir untuk share. Tiap hari HANYA 1 tulisan saja, jangan lebih, jangan kurang. Minimal 1 paragraf, tema diambil dari apa yang diamati-didengar-dirasakan di mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi”

Hmm langsung PENASARAN dan merasa TERTANTANG! hahahahahaha….. ^_^

Kenapa saya penasaran dan tertantang? Perkara tulis menulis ini sebenarnya kan mudah ya, wong kita juga sudah belajar nulis sedari Sekolah Dasar dan mungkin sebelumnya, tapi kok yaaaaa terkadang selalu masih ada kesulitan untuk mengungkapkan ide dan gagasan kita dalam bentuk tulisan. Terlebih sekarang saya sedang mengerjakan tesis untuk tugas akhir kuliah saya, yang selalu menuntut untuk rajin membaca dan menulis. Jadi, saya pikir tantangan ini pasti akan ada manfaatnya untuk merangsang gairah tulis menulis, syukur syukur kalo latihan ini akan membiasakan diri saya untuk menulis lebih kreatif berdasarkan observasi terhadap lingkungan sekitar saya.

Menulis apa yang kita lihat dan rasakan setiap hari saya pikir juga akan mampu membuat kita lebih peduli pada lingkungan. Kenapa? karena pada waktu menuliskan kembali apa yang kita lihat dan kita amati, akan ada proses refleksi dan mungkin sampai pada introspeksi.

Nah, sepertinya akan banyak manfaatnya kan? Siapa mau ikutaan?

Heboh Cicak-Buaya

Kata Cicak dan Buaya beberapa hari ini kerap kali terdengar dari siaran berita di televisi, dan juga telah menghiasi news di beberapa website. Waw mereka nampaknya telah mendadak jadi artis… Dan kehebohan itu nampaknya menjadi sebuah pelajaran berharga bagi seluruh rakyat Indonesia. Kepedulian akan hukum dan penemuan kebenaran menjadi lebih tinggi dan menguat.

Mari kita ikut menyimak dan menonton apa yang sebenarnya terjadi, semoga waktu yang berjalan akan membawa pada kebenaran.

Radio

So listen to the radio (listen to the radio)
And all the songs we used to know, oh, oh
So listen to the radio (listen to the radio)
Remember where we used to go… -the corrs.radio-


Siapa sih yang ga pernah denger radio? Saya yakin anda anda semua (ya.. anda!) sudah pernah denger siaran radio. Sejak jaman sandiwara radio masih eksis sampai sekarang. Yea, saya mulai heboh mendengarkan radio sejak SD, kemudian mulai keranjingan dan numpang beken pas SMP. Selanjutnya sampai sekarang saya masih tetap menjadi pendengar yang setia.

Dulu waktu SMP, saya adalah fans berat kuis kuis di radio (terutama di Imelda FM Semarang), sudah banyak benda benda yang saya dapatkan dari hobi saya ikutan kuis di radio. Mulai dari sekotak coklat, kosmetik, kaos, hingga sepeda. Pokoknya ratu kuis deh… hehehe… mungkin penyiarnya sampe bosen kali denger suara saya yg selalu nelpon… hihihi

Kalo sekarang sih saya cenderung hanya jadi penikmat siaran radio. Rasanya kalo sedang sendiri, radio bisa jadi teman yang setia. Apalagi sejak kuliah di Jogja ada Swaragama FM yang siaran 24 jam sehari. Ngerjain tugas sampai selarut apapuuun rasanya tetap ada yang menemani.

Senang sekali sekarang dengerin radio bisa lewat radio streaming, dan sekarang saya lebih suka ditemani siaran radio via radio streaming ketimbang playlist di winamp ketika harus ngerjain tugas berlama-lama di depan laptop (tentunya ketika ada koneksi internet ^_^).

Sesuatu yang masih ada dan belum hilang dalam siaran radio adalah acara kirim kirim salam!!! yeaaa dulu saya suka sekali melakukannya. Telfon ke radio dan menyampaikan salam buat orang orang di sekitar saya. Dulu siiih belum ada facebook, twitter, YM atau media jejaring sosial lainnya, jadi rasanya kirim salam via radio itu amat sangat aduhaiiii… dan nama saya jadi terkeeenaaaaalllll hihihihihihihi…. Ternyata sekarang masih banyak juga yang kirim-kirim salam lewat radio.

Dialog dan diskusi lewat radio juga sekarang nampaknya sudah lebih berkembang. Mulai dari masalah di sekitar, tentang kemacetan jalan, hingga masalah negara banyak juga dibicarakan…. Jadi, selain media hiburan, radio ternyata jadi alat komunikasi yang handal juga….

Kemiskinan dan Pendidikan

Posting kali ini saya cukil dari sebuah tugas kuliah Filsafat Manusia di semester awal kuliah kemagisteran. Pandangan tentang kemiskinan dan pendidikan saya refleksikan dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Kemiskinan dan pendidikan adalah dua hal yang saling terkait satu sama lain, gambaran kasarnya, kemiskinan akan mengakibatkan rendahnya akses menuju pendidikan, dan karena rendahnya pendidikan, maka akan timbul kemiskinan. Kedua hal tersebut seperti “lingkaran setan” yang tidak ada habisnya.

Fokus dalam analisis ini adalah menjawab permasalahan yang sudah dilontarkan sebelumnya, yaitu :

  1. Apakah kemiskinan disebabkan oleh faktor sosial-budaya (rendahnya hasrat untuk maju) dari masyarakatnya ataukah karena adanya keserakahan beberapa pihak?
  2. Apakah keberadaan miskin dan kaya adalah sebuah takdir? Apakah hal tersebut dapat diubah?
  3. Apakah pendidikan selalu mahal dan hanya bisa dinikmati orang kaya? Apakah orang miskin tidak punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan? Bagaimana nasib pendidikan bagi orang miskin?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita dapat menggunakan landasan pemikiran Antonio Caso (1883-1946), bahwasanya eksistensi individu akan menentukan model masyarakat. Terkait dengan cerita dalam Laskar Pelangi yang bersetting Kampung Melayu Belitong miskin yang bersebelahan dengan lingkungan Gedong PN Timah yang amat melimpah ruah, kita dapat melihat bahwasanya masyarakat yang berada di dalam lingkungan gedong PN Timah, adalah masyarakat dengan La existencia comoeconomia yang dominan, individu berhubungan sosial dengan tujuan menggunakan semuanya untuk kepentingan pribadi.

Lebih lanjut, menurut pandangan Martin Seligman, seorang perintis psikologi positif, masyarakat yang ada dalam model ini masih sekedar hidup (living), dan belum mencapai tahap mengembangkannya (thriving). Dimana kekuatan masyarakat terletak pada individu-individu, yang pemenuhan dirinya, kepuasan dan kebermaknaan-hidupnya, serta aktualisasi dirinya masih terkungkung pada kepentingan pribadinya semata dan belum memikirkan orang lain.

Kedua teori tersebut tercermin dalam gambaran pada novel Laskar Pelangi, yang menyebutkan bahwa di setiap akses dan fasilitas PN Timah terdapat kalimat “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”.

Masih senada dengan pandangan di atas, Noam Chomsky, seorang profesor Linguistik Massachusetts Institute of Technology menjelaskan mengenai rencana rahasia pasca Perang Dunia II. Yaitu adanya pembagian dunia sebagai konsekuensi dari relasi inferioritas-eksploitasi superioritas antar bangsa-bangsa di dunia. Bagi negara-negara maju, peradaban Barat, ataupun G7, setiap bagian dunia akan diberi tugas tertentu. Seperti fungsi utama Asia Tenggara adalah menyediakan bahan mentah untuk kekuatan industri, dan Afrika ‘dieksploitasi’ oleh Eropa bagi pemulihan dirinya sendiri.

Penjelasan Noam Chomsky adalah pemaparan tentang bentuk keserakahan dalam skala besar. Jika dikaitkan dengan novel ini, maka penjelasannya dapat dipersempit skalanya, dimana PN Timah yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah secara tidak langsung telah melakukan eksploitasi Sumber Daya Alam Belitong, dan secara tidak langsung telah membunuh lapangan pekerjaan penduduk pribumi Belitong yaitu mendulang timah. Disebutkan dalam novel, kehancuran PN Timah justru mendatangkan berkah bagi penduduk pribumi :

“ …Sekarang mereka bebas mendulang timah dimanapun mereka suka di tanah nenek moyangnya dan menjualnya seperti menjual ubi jalar.

Saat ini diperkirakan tak kurang dari 9000 orang bekerja mendulang timah di Belitong. Mereka menggali tanah dengan sekop dan mendulang tanah itu dengan kedua tangannya untuk memisahkan bijih-bijih timah. Mereka bekerja dengan pakaian seperti tarzan namun menghasilkan 15.000 ton timah per tahun. Jumlah yang lebih tinggi dari produksi PN Timah dengan 16 kapal keruk, tambang-tambang besar, dan open pit mining, serta dukungan miliaran dolar aset…..” (hal.486)

Dewasa ini telah muncul sebuah bentuk untuk mencegah adanya keserakahan dan mewujudkan perimbangan sosial ekonomi bagi penduduk pribumi dan perusahaan pemilik modal yang mengambil manfaat dari lingkungan penduduk, yaitu program dunia industri yang disebut Corporate Social Responsibility, namun kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang hal tersebut dalam analisis ini.

Selanjutnya kita akan mencoba menjawab tentang pertanyaan kedua, yaitu :

“Apakah keberadaan miskin dan kaya adalah sebuah takdir? Apakah hal tersebut dapat diubah?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat menggunakan pemikiran Paulo Freire tentang manusia dan dunia menjadi pusat masalah (dalam Fakih, 2001). Freire tidak memungkiri bahwasanya dehumanisasi (muncul dalam bentuk penindasan, menafikkan harkat kemanusiaan)  yang merupakan akibat dari kemiskinan adalah kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu kemungkinan ontologis di masa mendatang , namun ia bukanlah suatu keharusan sejarah. Secara dialektis, suatu kenyataan tidak mesti menjadi suatu keharusan. Jika kenyataan menyimpang dari keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk merubahnya agar sesuai dengan yang seharusnya. Itulah fitrah manusia sejati (the man’s ontological vocation).

Christine (2007), menuliskan bahwasanya takdir adalah kejadian atau jalan yang tidak dapat dihindari, bisa juga diartikan sebagai kekuatan yang tidak dapat dikendalikan yang menentukan masa depan secara umum maupun pribadi. Takdir merupakan sebuah konsep yang mempercayai bahwa ada aturan tetap yang natural di alam semesta. Jika seperti itu, lalu apakah takdir dapat diubah?

Pandangan Islam mempercayai adanya ketentuan Allah yang disebut Qadha dan Qadar. Qadha dapat diterjemahkan secara bebas sebagai apa – apa yang sudah ditentukan dari awal, sebelum diciptakan. Sedangkan Qadar atau sering disamakan dengan takdir adalah apa-apa yang sudah terjadi, berdasarkan qadha. Dalam sejarahnya muncul dua buah pemikiran tentang persoalan Qadha dan Qadar. Sekelompok orang mendukung aliran “kebebasan manusia” serta ikhtiarnya (kebebasan memilihnya), yang selanjutnya dikenal sebagai kaum Qadariyah. Sementara kelompok lainnya mendukung aliran takdir gaib yang amat ketat menguasai segala perbuatan manusia, yang dikenal sebagai kaum Jabariyah. Kedua kelompok ini kemudian lebur dalam dua firqah (kelompok) besar aliran teologi, yakni kaum Asy’ariyah dan Mu’tazilah. Masing-masing kelompok mengikuti beberapa dari pikiran-pikiran salah satu dari kedua aliran tersebut di atas; yakni kelompok Asy’ariyah mendukung aliran Jabariyah, sementara kelompok Mu’tazilah mendukung aliran Qadariyah (http://www.al-shia.com/html/id/books/taqdir-e-Ensaan/01.htm).

Jika boleh berpendapat secara pribadi, menurut saya kemiskinan adalah sebuah “ketentuan” yang dapat diubah (terlepas dari kenyataan – apakah saya pendukung aliran Qadariyah ataupun Jabariyah). Menurut saya, salah satu hal yang bisa merubah kemiskinan adalah pendidikan, dalam ilmu sosiologi disebutkan bahwasanya pendidikan dapat berfungsi sebagai social sinking dalam masyarakat. Dengan berhasilnya pendidikan, maka harapannya angka kemiskinan akan menurun. Hal lain yang dapat mengubah kemiskinan barangkali adalah usaha, dalam pandangan religius, ada pernyataan bahwa Yang Kuasa tidak akan merubah keadaan suatu kaum apabila mereka tidak mengubah keadaan dirinya sendiri.

Dari seluruh pernyataan di atas, kaitannya dengan novel Laskar Pelangi dapat tercermin dari usaha Ikal, yang merupakan salah satu bagian dari anggota Laskar Pelangi yang di akhir cerita digambarkan mendapat beasiswa pendidikan ke luar negeri. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwasanya Ikal adalah anggota kelompok anak-anak yang bersekolah di sekolah miskin, dimana dalam novel tersebut digambarkan bahwa keadaan sekolahnya amatlah memprihatinkan. Sekolah yang diceritakan di sini adalah kelas-kelas berdinding kayu, berlantai tanah, beratap bocor, yang kalau malam menjadi kandang hewan. Tanpa poster burung Garuda, foto presiden dan wakil presiden. Amat sederhana bangunan sekolah itu. Dan tentu saja yang bersekolah di sekolah itu adalah anak-anak dari keluarga miskin. Tercermin pula dari harapan ayah Lintang kepada Lintang, anak laki-laki sulungnya untuk memperbaiki kehidupan keluarga mereka :

“Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu terangkat dari endemik komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya…..”(hal.11)

Selanjutnya kita akan berusaha melakukan analisis tentang pendidikan dengan fokus pada pertanyaan berikut ini : “Apakah pendidikan selalu mahal dan hanya bisa dinikmati orang kaya? Apakah orang miskin tidak punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan? Bagaimana nasib pendidikan bagi orang miskin?”

Dari observasi saya sebagai penulis, saya dapat katakan bahwa di negara ini masih terjadi ketimpangan yang luar biasa tajam antara orang kaya dan orang miskin dalam hal pendidikan.

Wibowo (dalam Kompas, 2005), menuliskan kembali tentang berita prestasi pendidikan menengah kita yang menyedihkan. Banyak siswa gagal lulus ujian nasional, bahkan banyak sekolah yang kelulusan muridnya nol persen. Bahkan yang lebih menyedihkan, di hari kelulusan itu para siswa harus menghadapi kenyataan bahwa ia tidak dapat melanjutkan sekolah karena terhalang biaya. Padahal, anak-anak itu bukannya tidak mempunyai cita-cita untuk belajar.

Pada novel Laskar Pelangi, fenomena ini terjadi pada Lintang, salah satu anggota Laskar Pelangi yang terbilang amat jenius. Dalam usia anak SMP, Lintang telah memahami integral, kalkulus, postulat Newton, dalil Geometri Euclidian, dan berbagai persoalan rumit lainnya. Sebuah ironi, Lintang anak kuli kopra yang bersepeda 80km untuk menempuh perjalanan ke sekolah memiliki kemampuan yang luar biasa. Dari sisi fasilitas tentu saja sekolah Muhamadiyah tempat sekolah Laskar Pelangi amatlah jauh dengan sekolah PN Timah, namun ada kejadian dimana Lintang, Ikal, dan Sahara mengharumkan nama sekolah Muhamadiyah dalam lomba cerdas cermat. Bagaimana bisa mereka dengan segala kemiskinan dan penuh keterbatasan mencapai semua itu?

Prasetyo (2006), menuliskan bahwa cekikan biaya sekolah menjadi beban di saat kesulitan ekonomi menghantam banyak rumah tangga. Sekolah yang terus digenjot dalam hal pembangunan fisik dengan menimpakan biaya pada orang tua jelas bukan mandat utama pendidikan. Banyak orang tua menempuh jalan nekat untuk bisa melunasi biaya sekolah anaknya, mulai dari berhutang sampai menggadaikan sertifikat tanah dan rumahnya. Pemerintah menetapkan wajib belajar bagi warganya, namun pemerintah terkesan tidak tahu menahu tentang bagaimana pembiayaan pendidikan. Usaha yang sudah ada dari pemerintah adalah memberlakukan memangkas subsidi barang konsumsi (contoh: minyak tanah dan BBM) untuk kepentingan pendidikan, namun ujung-ujungnya rakyatlah yang menderita, karena beban ekonomi keluarga melonjak.

Orang tua laskar pelangi bukanlah orang kaya, mereka tidak mudah menyerahkan anaknya ke sekolah, lebih mudah bagi mereka menyerahkan anak mereka untuk bekerja pada tauke di pasar.

“Lebih mudah menyerahkannya pada tauke di pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.” (hal.3)

SD Muhamadiyah dalam Laskar Pelangi, diceritakan sebagai sekolah kampung paling miskin di Belitong, dan salah satu alasan mengapa orangtua mendaftarkan anaknya disana adalah karena sekolah Muhamadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apapun.

Dalam pandangan aliran pendidikan Giroux dan Aronowitz, (dalam Fakih,dkk, 2001) disebutkan adanya paradigma konservatif, paradigma liberal, dan paradigma kritis. Pembelajaran di sekolah Muhamadiyah tempat Laskar Pelangi bersekolah nampaknya (secara sengaja ataupun tidak) menganut paham paradigma kritis, dimana pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara kritis transformasi sosial, atau dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil. Sementara sekolah PN Timah agaknya menganut paradigma liberal, yang mungkin juga banyak dianut oleh sekolah kebanyakan di negeri ini, yaitu keyakinan bahwasanya pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia politik dan ekonomi. Namun demikian, kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasi “kosmetik”.

Demam Game Online di Facebook

Apa yang teman-teman sukai dari aplikasi facebook?

  • pasang status sehari 3x kaya minum obat?
  • ketemu teman lama?
  • bisa upload foto bareng temen-temen dan nge tag rame rame? atauuu
  • main game via facebook?

Yup, fasilitas microblogging dari facebook adalah favorit saya, pada awalnya…. Namun sekarang saya lebih tertarik dengan game online via facebook.

Game yang saya mainkan saat ini adalah Mafia Wars dan Farmville. Huuuw very very interesting :)

join my mafia & be my neighbour!

^_^

mapropio4

mapropio4

mapropio4

Beberapa bulan lalu saat mengantar ibu saya kontrol ke dokter langganannya, saya dan ayah saya dikejutkan dengan kebingungan dokter tentang keadaan ibu saya, sudah check up macem macem hasilnya baik, tapi dari hasil tes darah, nilai ca 153 dan cea nya masih tinggi. Dalam kebingungan itu, sang dokter yang simpatik itu menelpon seniornya, dan disarankan oleh seniornya bahwa ibu saya sebaiknya menjalani pemeriksaan PET-CT Scan. Wah apa itu? saya dan ayah saya belum terbayang apa itu. Ternyata alat PET-CT itu hanya ada satu di Indonesia dan adanya di RS Gading Pluit Jakarta. Sebelum ada di RS Gading Pluit, orang orang Indonesia periksa PET-CT Scan di Singapore, Korea, atau di negara lainnya.

Sepuluh hari lalu, akhirnya ibu saya melakukan pemeriksaan PET-CT Scan di RS Gading Pluit, dan tiga hari kemudian hasilnya dikirim ke rumah di Semarang. Pemeriksaan itu membuat tanda tanya dokter terjawab sudah, karena memang hasilnya amat sangat detil.

Untuk anda yang membutuhkan pemeriksaan PET-CT Scan, bisa langsung menghubungi ke : Bagian Cyclotron & PET-CT Center RS Gading Pluit Kelapa Gading Jakarta.

Hal hal yang perlu anda persiapkan sebelum mendaftar ke bagian cyclotron & PET-CT Scan RS Gading Pluit :

1. Pastikan anda sudah mendapat surat rujukan dari dokter yang mengirim anda

2. Kumpulkan pemeriksaan terdahulu  yang pernah dilakukan untuk mendukung data saat dilakukan wawancara

3. Persiapkan biaya yang dibutuhkan

Semoga bermanfaat.

Older Posts »