RSS

EMPOWERING THE PSYCHOLOGICAL CAPITAL OF WOMAN’S WORKER THROUGH FAMILY SUPPORT

by. Unika Prihatsanti, S.Psi, MA; Kartika Sari Dewi, M.Psi; Ika Zenita Ratnaningsih, M.Psi
Presented on Padjajaran International Conference Psychology – 23 Oct 2011.

Background : The development of new era and competitive job requires individual as worker to have a positive view in order to survive in unfavorable conditions. One of the implementation of positive psychology in I/O is Psychological Capital. Psychological capital is a psychological state that consists of several components, namely optimism, hope, resilience and self-efficacy. This paper aims to contribute thoughts on the role of family support to develop psychological capital on working women.
Methods : Previous researches showed that psychological capital can increase positive work attitude, such as job performance, job satisfaction, organizational commitment, and organizational citizenship behavior. Moreover, psychological capital also could reduce absenteism.
Discussion & Conclusion : Women workers have the dual roles in work and family.. Moreover, family support will help women worker to empower psychological capital so they can survive in the workplace.

Keywords : Psychological Capital, Family Support, Women worker

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2011 in psy

 

How to use Employee Engagement to boost your business

http://www.explania.com/api/1.0/?method=animations.getPlayer
How to use Employee Engagement to boost your businessExplania

 
Leave a comment

Posted by on December 15, 2011 in psy

 

Berkomunikasi dengan bayi

Aoo.. uoo.. bla bla… hu… kata kata semacam itu sekarang seringkali muncul dari bibir anakku, fia. Mulai sekitar usia 2 bulan sebenarnya sudah seringkali saya dengar ocehan fia. Tapi sekarang sudah semakin jelas dan semakin sering. Bisa dibilang, semakin bertambah usianya, makin bertambah pula kepandaiannya.

Kalau inget kembali tentang teori perkembangan bahasa pada anak. Awal mula bayi berkomunikasi adalah dengan menangis, kemudian mulai bisa mendekut (cooing), lalu mulai mengoceh/meraban (babbling). Menangis dimulai semenjak awal kelahiran, sementara cooing  biasanya pada usia 1-2 bulan, dan mengoceh biasanya dimulai pada usia 6-10 bulan. Nah berarti fia sekarang seharusnya sudah bisa mengoceh. Contoh mengoceh adalah mengucapkan kata kata seperti ma-ma-ma, pa-pa-pa… kalau fia biasanya hu..uh…huu…

Setelah lebih dari usia 10 bulan, bayi biasanya mulai mampu bicara dengan kalimat kalimat. Eits tapi jangan salah, kalimat kalimat yang diucapkan bayi biasanya awalnya hanya terdiri dari satu kata atau dua kata. Baru pada usia 24 bulan biasanya mulai bisa tiga kata. Itu kata teorinya, jadi akan saya observasi nanti pada fia.

Yang saya baca, ada beberapa kiat agar anak menuruti dan memahami pembicaraan, diantaranya adalah :

  • Menyampaikan pesan dalam kalimat yang jelas dan sederhana, jadi jangan berbelit belit kalo bicara sama bayi.
  • Menyampaikan pesan dengan situasi yang tepat, jadi perlu memperhatikan timing saat bicara sama bayi.
  • Lakukan kontak mata saat menjelaskan pada anak, kalau bisa lakukan juga kontak fisik, misalnya membelai, mengusap.
  • Perhatikan anak, gunanya untuk melihat ekspresi apakah bayi mampu menyerap informasi yang disampaikan.
  • Bercerita pada anak, kegiatan bercerita adalah kesempatan yang tepat untuk bereksperimen secara verbal dan ekspresif sehingga kita bisa punya kesempatan besar untuk menemukan cara bicara tepat yang mampu membuat si kecil menyimak dan menurut.

Oke ibu ibu, sekian dulu cerita cerita tentang perkembangan bahasa pada bayi, kapan kapan kita lanjutin lagi ya :) Udah persiapan apa nih buat mudik?

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in family, motherhood, psy

 

Dukungan Sosial & Kegiatan Menyusui

Seminggu yang lalu, tiba tiba terbersit di pikiran pengen banget tulisan masuk di media masa. Nulis apa ya? Karena saya sedang jadi ibu menyusui, dan masalah menyusui ini sedang jadi top level of mind di kepala saya, akhirnya saya tulis seputar ASI Eksklusif, pas banget karena awal Agustus ini diperingati sebagai Pekan ASI sedunia. Alhamdulillah, sabtu kemarin tulisan saya dimuat di koran :) Versi online nya bisa dilihat disini.

Kenapa saya tulis tentang ASI Eksklusif? Kebetulan anak saya baru saja lulus ASIX akhir Juni lalu. Perjuangan ASIX ini tidak mudah bagi saya, jadi saya pengen sekedar sharing kenapa akhirnya bisa berhasil. Salah satu hal yang jadi kuncinya adalah DUKUNGAN SOSIAL.

Kalau diterjemahkan secara bebas, dukungan sosial dapat diartikan sebagai interaksi antara individu dengan orang lain yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar individu sehingga memperoleh kebahagiaan. Secara psikologis, dukungan sosial akan lebih berarti bagi seseorang apabila diberikan oleh orang-orang yang signifikan dengan individu yang bersangkutan. Dukungan tersebut dapat diperoleh dari orangtua, pasangan (suami atau istri), anak, kerabat keluarga, teman atau sahabat, profesional, serta suatu kelompok dari suatu komunitas tertentu.

Dukungan sosial dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk, diantaranya adalah dukungan informasi, biasanya diberikan berupa saran, nasehat, pengarahan atau petunjuk yang diperoleh dari orang lain, sehingga seorang ibu dapat mencoba mencari  alternatif solusi dalam memecahkan sebuah masalah. Dukungan informasi tentang ASI bisa didapatkan dari tenaga kesehatan di tempat ibu memeriksakan kehamilan dan melahirkan, dari konselor laktasi, dari kelompok menyusui seperti AIMI, ataupun dari media cetak dan jejaring sosial. Dukungan yang lain adalah dukungan yang sifatnya emosional, berupa kepedulian dan apresiasi positif dari orang lain terhadap kegiatan menyusui. Kepedulian ini biasanya didapatkan dari keluarga, teman, kerabat, dan dapat dimungkinkan dari tempat kerja ibu menyusui. Bagi ibu menyusui yang bekerja, selain dukungan informasi, kepedulian dan apresiasi positif, dibutuhkan pula dukungan nyata dari perusahaan tempat ibu bekerja, dukungan tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan ibu menyusui untuk memerah ASI dan juga menyediakan ruangan untuk memerah ASI.

Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan memang bukanlah sesuatu hal mudah, namun bukan berarti hal itu sulit dilakukan. Kuncinya adalah komitmen, kepercayaan diri, dan optimisme. Ketika rasa percaya diri dan optimisme mulai menurun, segeralah ibu mencari dukungan dari lingkungan sosial ibu, baik keluarga, teman, maupun mengikuti kelompok dalam jejaring sosial yang punya minat sama memberikan ASI eksklusif.

Nah itu tadi sekedar pemikiran saya tentang dukungan sosial dan keberhasilan memberikan ASI Eksklusif. Mari kita dukung orang terdekat kita untuk memberikan hak bagi para bayinya, yaitu ASI.

Dan sayapun masih terus berjuang memberikan ASI, dukung saya ya!

 
2 Comments

Posted by on August 14, 2011 in family, motherhood, psy

 

Dilema Ibu Bekerja

Dulu, sebelum jadi ibu yang sekaligus seorang pekerja, saya belum ngerti gimana itu dilemanya seorang ibu bekerja. Jadi, di tengah hamil tua, malah saya semangat cari kerja, dan alhamdulillah dapat. Karena tempat kerja saya sekota dengan orangtua, maka yang saya pikirkan anak saya nanti bisa saya titipkan ke ibu saya, kebetulan juga ibu saya sangat ingin punya cucu. Ternyata suratan takdir berkata lain, Allah memanggil ibu saya begitu cepat. Daan kini jadilah saya seperti anak ayam kehilangan induknya.

Tapi proses terbengong bengong itu saya pikir tak perlu berlama lama. Saya sendiri harus mulai kuat untuk menata kembali hidup saya, sekaligus menghibur hati bapak yang pasti juga merasa kehilangan.

Jadi, lengkaplah sudah tahun 2011 ini jadi tahun yang complicated buat saya. Di satu sisi saya baru saja melahirkan, baru pengalaman pertama punya anak, saya jadi karyawan baru dengan budaya organisasi yang baru bagi saya, daaan saya kehilangan orang tua. Kalau ditanya bagaimana perasaan saya? Senang, bingung, cemas, sedih, semua campur aduk jadi satu!

Dulu saya pikir jadi dosen itu fleksibel waktunya, santai dan banyak libur. Ternyata? Sama saja deh kerja dimana saja :D Jelas kalau ingin mengembangkan potensi diri dan menunjukkan kinerja yang optimal *bahasanyaaaa* yah kita juga harus profesional mempergunakan waktu. Terlebih, tidak semua orang di kantor mungkin paham dengan kondisi kita yang baru melahirkan, punya bayi atau kerepotan ala ibu ibu lainnya. Atasan dan rekan kerja di kantor pasti menginginkan kita bekerja optimal di kantor. Sementara di rumah, suami dan anak anak juga harus mendapatkan perhatian yang terbaik dari ibu.

Jadi bagaimana strateginya supaya ada work family balance?

  • Gunakan waktu untuk kegiatan yang berkualitas, gimana maksudnya? Diantara waktu yang 24 jam dan harus dibagi bagi itu, manfaatkan secara optimal. Jika sedang di kantor kerjakanlah pekerjaan seefisien dan seefektif mungkin, sehingga sebisa mungkin tidak membawa pekerjaan ke rumah *naaah ini masih jadi hal yang sulit buat saya*. Di rumah luangkan waktu dengan anak dan suami dengan kegiatan yang berkualitas, contohnya ngobrol dan diskusi tentang kegiatan sehari hari, memandikan anak, menyuapi anak, dan menyusui anak buat ibu ibu yang punya anak bayi. Nah supaya berkualitas, tentunya saat memandikan, menyuapi, menyusui, tanamkan nilai nilai budi pekerti kepada anak. Meski masih bayi mereka insyaAllah juga akan mengerti.
  • Jalin komunikasi yang hangat antar anggota keluarga, beritahukan kemana akan pergi hari ini kepada anggota keluarga, sehingga kalau ada sesuatu mudah untuk dihubungi, beruntunglah sekarang sudah ada telepon genggam yang gampang dibawa kemana mana.
  • Perhatikan kebutuhan anggota keluarga, untuk ibu ibu yang anaknya masih bayi kaya saya, siapkan selalu ASI perah dan pastikan jumlahnya mencukupi sebagai persediaan selama kita bekerja. Untuk bayi yang sudah mulai makan, ibu dapat menyiapkan makanan di pagi hari atau membekukannya dan menyimpan di freezer. Sebagai istri yang baik, ibu juga bisa meluangkan waktu di akhir minggu untuk memasak makanan kesukaan suami.
  • Jaga kesehatan dan stamina, karena kegiatan yang padat, ga jarang ibu ibu jadi lupa makan dan makan seadanya, alhasil jadi mudah sakit. Padahal kalau udah sakit justru repotnya bertambah. Nah mari jaga kesehatan :) Untuk menghemat energi, ga ada salahnya ada orang yang dipercaya untuk membantu meringankan pekerjaan sehari hari dan membantu mengasuh anak selama kita bekerja.

Demikianlah ibu ibu yang hebat, sedikit curhatos dari saya. Semoga bermanfaat :D

 
1 Comment

Posted by on July 29, 2011 in daily, family, motherhood, psy

 

Motherhood

When you are a mother, you are never really alone in your thoughts.A mother always has to think twice, once for herself and once for her child. ~Sophia Loren, Women and Beauty

 
1 Comment

Posted by on June 16, 2011 in motherhood

 

Nyanyian Rindu

(Foto diambil 30 Desember 2010, 3 jam setelah kelahiran Fia
di RS. Elisabeth Semarang)

Rasanya baru kemarin Ibu menunggui kelahiran Fia, dan kini kami hanya bisa merindukanmu…

Selamat jalan Ibu, Selamat jalan Yangti… :’(

InsyaAllah kini kau telah berada di tempat yang indah.

Kemarin sore Yangkung memutar “Nyanyian Rindu” di hp nya, dan kenangan indah masa kecil, remaja, dan dewasa bersama Ibuku yang paling hebat muncul kembali.

Coba engkau katakan padaku
apa yang seharusnya aku lakukan
bila larut tiba wajahmu terbayang
Kerinduan ini semakin dalamGemuruh ombak di pantai Kuta
Sejuk, lembut angin di bukit Kintamani
Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
tak mampu mengusir kau yang manisBila saja kau ada di sampingku,
sama-sama arungi danau biru
Bila malam mata enggan terpejam
Berbincang tentang bulan merah ho…
Du du du du du du du du du du du du du du du
du du du du du du du du du du du du du du du

Coba engkau dengar lagu ini
Aku yang tertidur dan tengah bermimpi
Langit-langit kamar jadi penuh gambar
wajahmu yang bening, sejuk, segar

Kapan lagi kita akan bertemu
meski hanya sekilas kau tersenyum?
Kapan lagi kita nyanyi bersama?
Tatapanmu membasuh luka, ho…
Du du du du du du du du du du du du du du du
du du du du du du du du du du du du du du du

 
1 Comment

Posted by on May 15, 2011 in Uncategorized

 

Status Baru

Hello bloggers, lama ga posting ternyata rindu juga :)

Setelah ditanya tetangga kanan kiri, kemana aja kok ga pernah update blog? Ngga kemana mana sih, ya disini sini aja, cuman lagi sibuk menjalani status baru, jadi selama ini lebih banyak update di jejaring sosial aja.

Alhamdulillah, 30 Desember 2010 lalu saya telah berhasil melahirkan seorang putri cantik dengan perjuangan yang ehmm lumayan panjang. Awalnya saya berniat untuk melakukan persalinan normal, dan tentu berharap bisa spontan. Tapi ternyata setelah ditunggu tunggu sampai 40 minggu tidak ada tanda tanda si bayi mau keluar. Selalu ditanya apakah udah kontraksi, apakah udah mules mules. Nah saya juga bingung karena rasanya masih tenang tenang saja. Dari hasil konsultasi dengan SPOG, kalau sampai 41 minggu masih belum ada tanda tanda maka akan dilakukan induksi. Eng ing engggg…. akhirnya 41 minggu datang juga dan saya harus di induksi. Datanglah ke RS.Elisabeth dengan cengar cengir dan masih bisa jalan dengan santai asoy geboy. Setelah dimasukkan obat, bidan di ruang VK meminta untuk menunggu sembari jalan jalan untuk mempercepat pembukaan dan akan di evaluasi 6 jam kemudian. Ternyata? setelah 6 jam? masih belum ada perubahan wkwkwkwk, jadi masuk obat lagi deeeh… daaan pembukaan terasa panjaang daaan laaamaaaa, sampai akhirnya kerasa kontraksi teratur pada tanggal 29 Desember 2010 malam (saya masuk RS 28 Des 2010 pagi)  bertepatan dengan final piala AFF. Sementara saya mengerang ngerang gak jelas (saya nyanyi nyanyi beberapa lagu untuk mengurangi rasa sakit), eeeh suami teriak teriak nonton final AFF. :P

Melihat tanda tanda kontraksi makin sering, akhirnya saya dipindahkan kembali ke ruang VK, perawat dan bidan sudah optimis kalo beberapa jam lagi si bayi akan lahir, wah excited bangeeet! Tapi ternyata setelah pembukaan 5, selanjutnya kontraksi macet macet, sampe saya sempet ketiduran. Kemudian induksi dipacu kembali dengan infus. Pembukaan terus terjadi, tapi sampai dokter SPOG dateng kurang lebih jam 8, pembukaan belum lengkap juga masih di pembukaan 9, sementara jalan lahir udah bengkak. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, diambil keputusan untuk dilakukan operasi caesar. Alhamdulillah, pada hari Kamis, 30 Desember 2010 pukul 09.28 WIB lahirlah bayi kami, yang kami beri nama ALIFIA ALTA NURWIKA (Fia). Dan ternyata setelah operasi baru ketahuan kalo si bayi kelilit tali pusat sampe 2 lilitan.

Meski agak kurang puas karena akhirnya harus melahirkan secara caesar, namun saya tetap bersyukur karena bisa melaksanakan IMD dan rooming in. Kebetulan RS. Elisabeth Semarang memang pro IMD dan pro ASI, bahkan menjadi rumah sakit sayang ibu sayang bayi. Dan sekarang saya sedang terus berjuang agar bisa memberi Fia ASI eksklusif sampai 6 bulan.

Nah, itulah status baru saya, jadi ibu baru! Jadi ibu ternyata ga segampang yang dulu dipikirin, dikit dikit suka panik, heboh, bingung. Alhamdulillah lagi masih bisa tanya tanya ke keluarga dekat dan tentu saja sharing sharing sama ibu ibu yang lain di milis asiforbaby. Bersyukur sekali zaman sekarang ibu ibu suka sharing knowledge ataupun pengalaman lewat jejaring sosial. Selain milis afb, saya juga suka cari ilmu di theurbanmama.

Belum selesai sampai disitu, selain jadi ibu baru, saya sekarang juga punya profesi baru. Ceritanya waktu mengandung 8 bulan saya dinyatakan lulus sebuah tes kerja yang saya ikuti, dan jadilah mulai pertengahan Februari lalu saya mulai mengawali petualangan baru di dunia kerja. Meski sebelumnya pernah bekerja, rasanya banyak sekali perbedaan pada pekerjaan baru ini. Yah tentu saja, beda tempat, beda teman, beda budaya kerja, beda cara kerja dan segudang perbedaan lainnya. Jadilah saya si ibu baru ini juga harus beradaptasi dengan profesi baru dan tempat kerja baru. Huuuft, kadangkala lelah letih lesu melanda, tapi tetap harus semangat untuk merawat dan memberikan yang terbaik untuk Fia, serta mencerdaskan generasi bangsa lewat profesi baru saya. :)

 
3 Comments

Posted by on April 23, 2011 in daily, family, psy

 

Syawalan

Mumpung masih di bulan syawal, saya memohon maaf lahir dan bathin setulus jiwa untuk segala kesalahan dan kekhilafan. Semoga kita masih bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun depan.

Gimana, naik berapa kilo nih abis lebaran? :P

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2010 in Uncategorized

 

alhamdulillah

waaw udah lama ga nulis, blogger yang nakal nih :p
alhamdulillah, saya udah lulus sodara sodara! Hahahaha :)
dalam sidang tesis yang mendebarkan di bulan april lalu, akhirnya saya lulus dan akan diwisuda dan diambil sumpah sebagai psikolog juli besok.

daan yang paling membahagiakan, akhirnyaa testpack saya positif, alhamdulillah usianya sekarang udah 14 minggu…
Doakan saya sehat selalu yaaaaa

 
3 Comments

Posted by on June 28, 2010 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers